Indahnya Suasana Hijrah Fest

0
Indahnya Suasana Hijrah Fest
(Foto: Hijrah Fest 2018)

Suaramuslim.net – Setelah siang harinya hadir dalam acara launching buku Dahsyatnya Silaturahim- Bersih Hati Bersih Pikiran di Graha Pangeran BNI, Sabtu kemarin (10/11), malamnya saya safar ke Jakarta. Menumpang KA Argo Anggrek, Alhamdulillah subuh Ahad (11/11) sampai stasiun Gambir.

Usai mandi dan shalat Subuh berjamaah di musholla yang berada di lantai dua stasiun yang berseberangan dengan istana negara itu, saya bergegas naik taksi ke Jakarta Convention Centre (JCC) di komplek Senayan. Sebelumnya mampir sarapan di warung Ampera Sunda di Cikini.

“Maaf Pak, sudah sold out, tiketnya,” kata pemuda yang berada di belakang kaca loket.

Wah, ternyata benar, sudah terjual habis. Saya sudah mendapat informasi sebelumnya kalau tiket sudah terjual habis beberapa hari lalu.

“Kalau akses untuk media lewat mana?” Tanya saya.
“Lewat pintu itu, Pak,” jawabnya sambil menunjuk pintu masuk.

Bergegas saya menuju pintu yang dimaksud sambil mengirim pesan WA ke sahabat saya Rizki, “Tiket sold out. Kamu gak bisa masuk. Aku pakai akses media. Kamu nanti jemput ke sini abis Isya’ saja.”

Kalau hari Kamis lalu orang ribut mencari tiket konser Guns N’ Roses atau tiket film Bohemian Rhapsody, yang terjual habis, ini bukan pertunjukan keduanya. Ini yang habis adalah tiket HIJRAH FEST 2018.

Sebuah gelaran dakwah selama 3 hari berturut-turut yang dihelat oleh para penggiat komunitas hijrah di JCC, Jakarta. Subhanallah.

Mulai Ust Bachtiar Nasir, KH Abdullah Gymnastiar, Ust Salim A Fillah, Ust Oemar Mitha, hingga ustaz yang dekat dengan komunitas anak-anak muda Ust Hanan Attaki dihadirkan sebagai pendakwah.

Kejutan pertama adalah tiket yang dijual tak murah itu telah ludes terjual beberapa hari sebelumnya.

Ini adalah fenomena baru di kalangan M Generation (milenial muslim) di Indonesia. Untuk hadir dalam kajian dakwah yang tidak dihelat di masjid, melainkan di convention center, mereka rela membeli tiket dan banyak yang tidak mendapatkannya!

Kejutan kedua, pintu masuk JCC dipisahkan antara pintu laki-laki dan perempuan dengan bertuliskan “batas suci, alas kaki harap dilepas”. Seumur-umur baru kali ini saya ke JCC dan harus melepas alas kaki.

Di dekat pintu masuk, terlihat berderet booth sponsor utama gelaran ini. Mereka membagikan goodie bag yang dikemas dalam tas yang bisa digunakan untuk menyimpan alas kaki. Jangan bayangkan sepatu dan sandal ditenteng dengan tas kresek hitam. Tas sandal yang dibagikan keren-keren bertulis logo acara dan brand mereka.

Kejutan berikutnya, hampir separuh hall JCC yang begitu luas itu ditutup karpet warna abu-abu. Main event ini adalah kajian dakwah, sehingga separuh venue dialokasikan untuk kegiatan itu.

Sedangkan, azar yang dihadirkan hanyalah pelengkap. Meski sebagai pelengkap, namun semuanya menarik. Ada booth yang menjual produk-produk bersertifikasi halal dari jaringan global dunia. Ramen dan beras instan dari Jepang, cokelat dan biskuit dari Inggris, hingga kudapan manis khas Turki.

Saya membeli sekotak kurma Madjol dari Jericho Palestina kualitas grade A yang diimpor langsung. Tak hanya kurma, juga ada beragam produk unggulan dari Palestina lainnya, seperti olive oil asal Hebron yang sangat sedap. Ada juga Warung Waqaf, sebuah jaringan waralaba convenience store dengan konsep wakaf. Dan tentu saja, berderet brand fashion dan distro muslim.

Saya tersenyum melihat pemandangan nan indah ini. Seperti ada kupu-kupu beterbangan di hati. Perempuan-perempuan muda dalam balutan hijab berwarna-warni, dan banyak pula yang berniqab rapat, hilir mudik sambil asyik mendengarkan kajian.

Anak-anak muda mengenakan jogger/syirwal (celana gantung) dan koko keluaran distro-distro muslim ternama dengan desain menarik. Juga pemandangan tulisan dakwah yang atraktif berada di area berbatas dengan area akhwat.

Saya membaca tulisan di salah satu kaus: Generasi Salahudin Al Ayyubi. Si pemuda yang memakai kaos itu sepertinya berusia awal 20-an asyik membaca buku kecil “Dzikir Pagi dan Petang” sambil duduk bersimpuh mendengarkan kajian.

Fenomena seperti ini tak ada di zaman saya seumur mereka, sewaktu SMP dan SMA. Saya bersama teman-teman hanya sering mengaji menjelang Maghrib di mushola kampung kawasan Ampel dekat rumah. Kemudian, berebut untuk mengumandangkan azan.

Kadang, ikut dalam kajian ba’da Subuh di masjid Ampel oleh Alm Ust Salim Bahreys atau Ust Ghafar Ismail di masjid Mujahidin Perak. Ikut kajian itu, karena ingin belajar agama, istilah mudahnya anak-anak Rohis. Tidak ada suasana seperti yang saya lihat sore ini. Di zaman itu mindsetnya belajar agama harus serius. Tidak ada suasana yang fun dan menyenangkan seperti ini. Gelombang hijrah generasi ini memang luar biasa. Sudut mata saya terasa hangat.

Parade kesalihan itu makin terlihat. Menjelang Maghrib, antrean wudhu akhwat (perempuan) mengular rapi. Tidak ada yang saling serobot. Semua berbaris satu per satu dengan tertib. Saya beberapa kali ke acara di JCC belum pernah melihat antrean setertib ini.

Sepuluh menit menjelang azan, panitia di panggung utama memberi pengumuman bagi semua booth untuk segera menutup gerainya. Bila sampai waktu shalat masih ada yang melakukan transaksi, maka gerainya akan kena sanksi tidak boleh berjualan lagi esok hari.

Suasana yang semula riuh tiba-tiba senyap manakala azan mulai berkumandang. Panggilan shalat yang disuarakan dengan langgam khas masjid Nabawi itu terasa menggetarkan hati. Wajah-wajah belia yang terlihat basah oleh siraman air wudhu tertunduk khusuk mendengar seruan ilahi.

Suara sang imam Muzammil Hasballah, hafidz muda lulusan ITB yang bersuara indah, mulai terdengar saat meminta jamaah meluruskan dan merapatkan shaf shalat. “Jadikan shalat ini seakan shalat terakhir kita,” katanya lembut, namun tak urung membuat bulu kuduk saya meremang. Ya Rabb, seandainya ini Maghrib terakhir saya, jadikan ini sebagai jalan ke surga-Mu.

Setelah Alfatihah, lalu terdengar bacaan surah Ar-Rahman yang sangat indah, “Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukadzdziban (Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)”.

Allah tidak akan menyiakan-nyiakan hamba-Nya yang memilih jalan hijrah. Seperti Allah mengganti hijrahnya Nabi Musa dari Mesir dengan tanah Palestina yang diberkahi. Seperti hijrahnya Nabi Ibrahim dan wanita mulia Ibunda Hajar dan Ismail dari Palestina dan menggantinya dengan Tanah Suci Makkah Almukarramah. Seperti hijrahnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dari Makkah ke negeri yang penuh berkah Madinah Almunawarrah.

Mari kita bersama-sama meneguhkan hati: ini saatnya berhijrah, sembari terus memohon, semoga Allah izinkan untuk tetap istiqomah di jalan hijrah dan mendapat rida serta hidayah-Nya.

Catatan pinggir, Ahad 3 Rabiul Awwal 1440 H / 11-11-18

Penulis: Ferry Is Mirza

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here