kota makkah

Suaramuslim.net – Makkah merupakan tempat yang sangat mulia. Setiap muslim memiliki impian untuk bisa menjejakkan kaki di kota itu. Baik untuk mengerjakan ibadah haji ataupun umrah saja. Bagaimana tidak, negeri dengan seribu sejarah umat Islam tersebut ternyata memiliki banyak keutamaan, apa saja keutamaan Makkah? berikut ulasannya.

Keutamaan yang disandang kota suci Makkah, dapat dilihat dalam dalil-dalil Qur’an ataupun as Sunnah shahihah. Kota Makkah tidak seperti kota-kota lain di atas bumi ini. Kota ini menyandang kemuliaan dan kehormatan, yang tidak direguk oleh tempat lainnya, sekalipun Madinah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan Makkah sebagai kota suci, yakni sejak penciptaan langit dan bumi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari penaklukan kota Makkah, “Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Ia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat “.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,  “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Makkah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” [An Naml/27:91].

Baca Juga :  Kota Yerusalem dan Konsep Kesucian

Dengan seizin Allah, Makkah akan tetap dalam perlindungan-Nya, dan menjadi negeri aman tentram. Hal ini sebagai wujud Allah telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman , “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata : “Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”. (Ibrahim/14:35). Perlindungan Allah terhadap kota Makkah, dan khususnya Ka’bah, telah dibuktikan. Sebagai contoh, Allah telah menjaga Ka’bah dari serbuan pasukan gajah pimpinan Raja Abrahah yang bertekad menghancurkannya.

Makkah, Tempat yang Dicintai Rasulullah

Kota Makkah, merupakan tempat yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terusir dari kota itu, niscaya beliau tidak akan meninggalkannya. Ini tercermin dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Demi Allah. Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintaiNya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu)”

Shalat di Masjidil Haram Derajatnya Sangat Tinggi

Shalat di kota Makkah, terlebih di Masjidil Haram memiliki derajat nilai sangat tinggi, sebanding dengan seratus ribu shalat di tempat lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Satu shalat di Masjidil Haram, lebih utama dibandingkan seratus ribu shalat di tempat lainnya”. (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Baca Juga :  Masjid Quba: Masjid Tertua dalam Peradaban Islam

Begitu pula masjid-masjid yang berada dalam batas tanah haram, kendatipun tidak mendapatkan fadhilah pahala sebesar sebagaimana tertera dalam hadits, tetapi shalat di dalamnya lebih afdhal, dibandingkan shalat di luar tanah haram.

Dalilnya, seperti telah diterangkan oleh Syaikh al ‘Utsaimin, bahwa ketika Rasulullah berada di Hudaibiyah yang sebagian berada dalam wilayah tanah suci dan sebagian lainnya tidak, maka apabila mengerjakan shalat, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di bagian yang masuk tanah suci. Ini menunjukkan, shalat di tanah haram lebih utama, namun tidak menunjukkan diraihnya keutamaan shalat di masjid Ka’bah.

Terdapat Hukum Khusus Bagi Kota Makkah

Allah begitu mengistimewakan kota Makkah. Dalam Al Quran Allah telah menetapkan hukum khusus terhadap kota Makkah, pertama, orang kafir diharamkan memasuki kota Makkah.
Allah berfirman dalam surat at Taubah ayat 28, “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil haram sesudah tahun ini …(tahun penaklukan kota Makkah)”

Baca Juga :  Rasulullah Membersihkan Ka’bah

Imam al Qurthubi berkata,“Diharamkan memberikan keleluasaan kepada orang musyrik untuk masuk tanah Haram. Apabila ia datang, hendaknya imam (penguasa) mengajaknya keluar wilayah tanah Haram untuk mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan. Seandainya ia masuk dengan sembunyi-sembunyi dan kemudian mati, maka kuburnya harus dibongkar dan tulang-belulangnya dikeluarkan”.

Kedua, di kota Makkah, siapapun dilarang berbuat maksiat. Perbuatan maksiat di kota Makkah, dosanya sangat besar daripada di tempat lain. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih” (al Hajj/22:25)

Menurut penjelasan Syaikh as Sa’di, ayat tersebut mengandung kewajiban untuk menghormati tanah Haram, keharusan mengagungkannya dengan pengagungan yang besar, dan menjadi peringatan bagi yang ingin berbuat maksiat.

Demikian keutamaan dan kemulian kota suci Makkah dan sebagian hukum-hukum yang telah ditetapkan syari’at.

Kontributor: Mufatihatul Islam
Editor: Muhammad Nashir

2 COMMENTS

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.