Kebangkitan Agama Islam dari Indonesia-1

Suaramuslim.net“Islam akan bangkit dari Indonesia”. Kalimat berisi cita-cita tinggi nan agung ini tidak asing bagi kita. Empat tahun lalu, da’i muda Salim A. Fillah menulis sepenggal pengalaman muhadharah beliau bersama Dr. Abu Bakr al-‘Awawidah, wakil ketua Rabithah ‘Ulama Palestina, di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

Tulisan itu sempat viral di media sosial facebook terutama di kalangan aktifis dakwah. Dalam tulisan itu penulis buku Lapis-Lapis Keberkahan ini menuliskan jawaban Dr. Abu Bakr ketika ditanya persoalan Palestina. Konon, persoalan Palestina tidak akan selesai hingga negara-negara Arab bersatu. Namun ternyata Ulama Palestina ini justru menaruh harapan ke pundak umat Islam Indonesia. Kata beliau, dari semua bangsa besar yang menerima cahaya Islam, hanya umat Islam Nusantara yang belum pernah terpilih sebagai pemegang panji-panji keagungan Islam. Arab, Persia, Mamluk, Kurdi, Usmani, telah berlalu dalam sejarah, kini giliran umat Islam di Nusantara. Empat tahun terakhir, kebangkitan semangat beragama di kalangan umat Islam semakin membesarkan harapan akan kepeloporan bangsa Indonesia dalam kebangkitan umat Islam di seluruh dunia.

Cita-cita boleh tinggi, tetapi kaki harus tetap menjejak bumi. Benarkah bangsa Indonesia, umat Islam Indonesia, telah siap menjadi pelopor kebangkitan Islam? Apa indikatornya? Atau justru sebaliknya, umat ini semakin tenggelam dalam keterpurukan?

Kamis, 22 Februari 2018, Transparency International merilis Indeks Persepsi Korupsi tahun 2017. Angka indeks merentang dari 0-100, semakin kecil semakin korup, semakin besar semakin bersih. Indonesia ranking ke-96 terbersih dari 180 negara dengan nilai 37. Ranking pertama diraih Selandia Baru dengan nilai 89. Indonesia bersama Brasil, Kolombia, Panama, Peru, Thailand, dan Zambia di peringkat dan nilai yang sama. Prestasi Indonesia tahun ini relatif lebih buruk dari tahun lalu. Pada Indeks Persepsi Korupsi tahun 2016, Indonesia ranking 90 terbersih dengan nilai 37. Kenyataan ini akan terlihat sangat buruk jika dibandingkan dengan negara tetangga Singapura yang menempati urutan 6 terbersih dengan nilai 84.

Baca Juga :  Mengukur Kadar Agama Kita

Menurut laporan terakhir Indonesia Corruption Watch, sepanjang tahun 2016 terjadi korupsi sebanyak 482 kasus dengan melibatkan 1.101 tersangka. Kerugian negara mencapai Rp1,47 trilliun. Nilai suap sebesar Rp31 milliar. Dari sekian jumlah kasus, yang masuk tahap penyidikan sebanyak 238 kasus dengan jumlah kerugian Rp1 trilliun. Kasus ini terbagi antara lain 33 kasus suap-menyuap dengan kerugian negara Rp32,4 milliar, 3 kasus penggelapan dalam jabatan dengan kerugian negara Rp2,3 milliar, 2 kasus gratifikasi, 2 kasus benturan dalam PJB, 7 kasus pemerasan dengan kerugian negara Rp20,5 milliar, dan 197 kasus lainnya dengan kerugian negara Rp442 milliar. Adapun Polri mencatat kasus terkait penipuan, penggelapan, dan korupsi sepanjang tahun 2016 sebanyak 49.198 kasus. Banyaknya kasus korupsi dan besarnya kerugian negara menunjukkan bobroknya mental para pemegang jabatan yang notabene menguasai hajat hidup umat Islam. Dalam kondisi ini, bisakah bangsa Indonesia diharapkan sebagai soko guru kebangkitan umat?

Belum lagi angka kriminalitas. Sesuai rilis terakhir BPS, pada tahun 2016 tercatat 357.197 kasus (crime total), tingkat kejahatan (crime rate) sebesar 140. Artinya, setiap 100.000 penduduk, 140 diantaranya beresiko menjadi korban kriminal. Interval kejadian sebesar 1 menit 28 detik. Angka ini semakin pendek jika dibandingkan tahun 2015 (1 menit 29 detik) dan tahun 2014 (1 menit 36 detik). Hal ini menunjukkan intensitas kejatahan selama 3 tahun terakhir cenderung meningkat.

Baca Juga :  Inilah Daya Tarik Indonesia Timur

Kasus-kasus kejatahan semakin menyeramkan jika dilihat dari sisi jenis kejahatan. Sepanjang tahun 2016 tercatat 1.292 kasus pembunuhan, menurun dari tahun 2015 dengan jumlah kasus sebesar 1.491 kasus. Tahun 2015 mencatatkan kasus pembunuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir. Penting dicatat, jumlah kasus tidak mencerminkan jumlah korban, boleh jadi satu kasus menewaskan lebih dari satu korban.

Sementara itu, kejatahan terhadap fisik (kekerasan fisik/badan) selama lima tahun terakhir fluktuatif dengan kecenderungan meningkat. Tahun 2012, total kekerasan fisik sebanyak 40.343 kasus, tahun 2016 meningkat menjadi 46.767 kasus.

Kejatahan kesusilaan yang meliputi pemerkosaan dan pencabulan selama lima tahun terakhir mencapai angka yang sangat memprihatinkan. Tahun 2012 terjadi 5.102 kasus. Tahun 2013 menurun ke angka 4.850 kasus. Tahun 2014 meningkat secara fantastis sebesar 5.499 kasus. Tahun 2015 menurun ke angka 5.051 kasus. Catatan terakhir tahun 2016 meningkat ke angka 5.247 kasus.

Kejatahan lain yang tidak boleh luput dari perhatian kita ialah kejahatan terhadap hak milik dengan menggunakan kekerasan. Dalam kurun lima tahun terakhir jumlah kejahatan dengan kekerasan fisik berupa pencurian dengan kekerasan, termasuk dengan penggunaan senjata tajam dan senjata api, meningkat secara signifikan. Tahun 2012 “hanya” 1.693 kasus, 2013 sebesar 1.775 kasus, 2014 sebesar 1.954 kasus, 2015 sebesar 2.212 kasus, lalu meningkat secara mengejutkan pada tahun 2016 sebesar 2.885 kasus. Jadi hanya dalam kurun waktu lima tahun, kejahatan dengan kekerasan fisik bertambah sebesar 1.192 kasus. Bagaimana dengan kejahatan tanpa kekerasan? Tahun 2016 Polri mencatat 120.026 kasus, meningkat sebesar 6.061 kejadian dari 2015!

Baca Juga :  Sejarah Nyinyir Keindonesiaan Kita

Bagaimana dengan kasus narkotika yang notabene menyasar generasi muda? Data BPS lima tahun terakhir menunjukkan kecenderungan peningkatan jumlah kasus. Tahun 2012 tercatat 16.589 kasus sementara tahun 2016 membengkak menjadi 39.171 kasus. Saat artikel ini ditulis, dua hari lalu kawan SMA penulis mendekam di balik jeruji besi setelah berusaha memasukkan narkoba jenis sabu ke Kab. Kep. Selayar, Sulawesi Selatan.

Inilah fakta memilukan sebuah negeri yang digadang-gadang sebagai pelopor kebangkitan umat. Pembunuhan, pemerkosaan, pencabulan, pencurian, perampokan, penyalahgunaan narkoba, dan korupsi merajalela. Rupanya pekerjaan rumah kita masih banyak. Mungkin saja memang benar, umat Islam di Indonesia akan menjadi pelopor kebangkitan umat. Mungkin saja memang benar, Islam akan jaya kembali dari Indonesia. Singsingkan lengan baju, eratkan ikat pinggang, mari bergandengan tangan. Hentikan segala perselisihan sesama Muslim. Fokuskan segala daya dan upaya untuk memperbaiki umat kita sendiri. Mari menyongsong fajar kemenangan Islam yang insyaallah tidak akan lama lagi!

Oleh: Wahyudi Husain
Editor: Oki Aryono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here