Kesadaran Milenial dan Politik
Ilustrasi kaum milenial (Ils: Jocelyn F/Dribbble)

Suaramuslim.net – Dalam sejarah Indonesia generasi muda sudah aktif dalam kancah politik sekitar tahun 1998. Ketika itu generasi awal milenial sudah sangat peka terhadap dunia politik dan sangat besar kesadaran akan partisipasi bagi perpolitikan negeri ini. Bila kita mencermati lebih jauh perkembangan generasi milenial pada kancah politik bisa dilihat dari perspektif Benedict Anderson yang pernah menyatakan bahwa generasi milenial sangat dibutuhkan partisipasinya dalam membangun politik yang beradab.

Dari sini bisa ditafsirkan bahwa pemikiran Anderson mendukung generasi milenial dalam menegakkan sistem politik yang memihak masyarakat serta berkeadilan. Demikian pula dengan pemikiran Nurcholis Madjid dalam orasinya di depan para aktivis mahasiwa 98 yang kira-kira menyatakan bahwa dalam melaksanakan politik yang seimbang dibutuhkan partisipasi generasi muda yang menjunjung tinggi nilai-nilai idealisme dan kejujuran.

Dalam pergulatan politik, generasi muda harus bisa menuangkan ide-ide dan gagasan yang bersifat membangun politik Indonesia yang berbasis kemasyarakatan. Dengan membangun sistem politik berbasis kemasyarakatan akan memberikan dampak yang besar bagi perkembangan politik Indonesia ke arah yang lebih demokratis. Jika kita memandang politik Indonesia secara sosial historis, milenial dalam ruang politik sangat dibutuhkan dalam membimbing dan memberikan masukan kepada negara kita yang masih belajar berdemokrasi.

Milenial dan Harapan Perbaikan Politik di Indonesia

Sudah senyatanya generasi milenial berpartisipasi aktif bagi politik Indonesia agar tidak mengalami pincang sebelah. Mengapa demikian? Dengan keikutsertaannya dalam memberikan masukan terhadap politik akan membawa Indonesia kepada sistem politik yang lebih humanis.

Oleh karenanya, generasi milenial tidak hanya tinggal diam bila politik telah mencederai demokrasi. Generasi milenial harus bisa “melawan” sistem yang tidak sesuai dengan asas kemasyarakatan dan kerakyatan. Lebih jauh lagi, bila milenial menyalurkan hasrat intelektualitasnya dalam memberikan sumbangan yang baik bagi politik Indonesia dalam membangun sistem politik yang mengedepankan kepentingan rakyat.

Sudah saatnya generasi milenial menunjukan identitasnya sebagai “agent of change” dan “agent of control” dalam politik.

Sayangnya, dalam perspektif kritis saya, kaum milenial sekarang ini semakin malas bila harus berhadapan dengan politik. Sepertinya para intelektual milenial ini sudah terlalu percaya bahwa politik kita sudah buram dan tidak dapat diubah serta dikonstruksi menjadi lebih baik lagi.

Saya teringat diskusi dengan beberapa teman kampus yang sudah merasa “skeptis dengan kebaikan-kebaikan dunia politik. Bisa dikatakan bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para elit politik telah memberikan gambaran yang buruk tentang politik negara ini. Bila saya meminjam kata-kata kritis dari Soe Hok Gie ‘politik kita seperti wajah seorang gadis yang bopeng’.

Saya beranggapan demikian karena politik kita menunjukan bahwa kecurangan dan omong kosong adalah senjata utama dalam politik, sehingga dampak yang ditimbulkan sangatlah besar. Seperti yang kita lihat, kaum milenial enggan untuk sekadar aktif dan peduli dengan politik semakin hilang. Bisa jadi generasi milenial merasa “jijik” dengan kotornya politik yang dilakukan oleh kalangan elit.

Mungkin saja kondisi seperti ini akan terus menghantui generasi melenial, bahkan akan menyebabkan mereka semakin antipati serta acuh tak acuh dengan politik. Generasi sekarang ini sudah merasa lelah dengan politik yang semakin jauh dari kata demokrasi, sudah seperti perang Bharatayudha.

Entah mengapa generasi milenial sudah bosan disuguhi pemandangan politik yang semakin lama semakin buram. Jadi yang ingin saya nyatakan sekarang ini bagaimana cara meyakinkan mereka agar mau berkontribusi dalam dunia politik serta bisa menyumbangkan pemikirannya untuk membuat suatu perubahan politik yang lebih baik lagi dengan pembaharuan politik milenial yang masih sangat jujur dan murni. Dengan demikian akan membawa politik negara kita menjadi politik yang berbasis kerakyatan.*

Penulis: Gratia Artha

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.