Ilustrasi Wanita Berhijrah. (Ils: Ana Fantofani)
Ilustrasi Wanita Berhijrah. (Ils: Ana Fantofani)

Suaramuslim.net – Perkenalkan namaku Yunita, aku asli dari Surabaya, kedua orang tuaku pun kelahiran kota Pahlawan ini. Ngomong-ngomong soal keluarga, aku terlahir dari keluarga yang ketat dalam masalah pendidikan, namun sayang, tidak dengan nilai-nilai keislaman.

Tidak ada teguran atau bentakan ketika aku dan kakak adikku tidak melaksanakan puasa bahkan salat. Tidak ada kekangan bagi kami untuk berhijab, padahal, bukankah seorang muslimah ketika sudah balig diwajibkan untuk menutup aurat? Rambut termasuk aurat kan?

Keinginanku untuk berhijab sebenarnya sudah ada sejak SMP, namun waktu itu aku merasa masih labil. Aku tidak mau seperti teman-teman lain yang ketika di sekolah mereka mengenakan hijab, tapi di luar sekolah mereka melepas mahkotanya.

“Itu hijab apa warung? Kok ada jam buka tutupnya?” Seperti itulah sindiran yang sering dilontarkan atau kalau mau terang-terangan mereka menyebutnya “Kerdus, kerudung dusta.”  Bukan, bukan aku yang mengatakannya, aku hanya sekadar pendengar setia, daripada mengomentari orang lain, mengapa tidak mengoreksi diri sendiri.

Baca Juga :  Sutopo Purwo Nugroho, BNPB: Jumlah Korban Masih Terus Bertambah

Ketika beranjak SMK, aku malah enggan menggunakan hijab. Lho, kenapa? Kalian pasti sangat akrab dengan kalimat ini, ”Jilbabin hati aja dulu, percuma pakai jilbab tapi akhlak dan sikapnya buruk.” And yeah, I’m tricked.

Namun Alhamdulillah, Allah masih sayang denganku. Di pertengahan tahun 2012, seorang temanku berhijab. Aku memang tidak terlalu dekat dengannya, namun aku tahu, sikap dan perilakuku lebih baik dari dia, tapi mengapa dia bisa mendapat hidayah duluan?

Aku tidak bertanya apa atau siapalah yang bisa membuatnya atau bahkan menginspirasi ia untuk hijrah. Ya karena pertama, aku bukan teman dekatnya dan kedua, karena aku tidak terbiasa untuk kepo mengenai orang lain.

Namun hal ini seperti mengusikku setiap malam, suara hatiku pun lirih mengatakan “Ya Allah, aku lebih baik dari dia, tapi mengapa engkau beri ia hidayah sementara aku tidak?”

Di tengah kegalauan itu, aku iseng membuka akun socmed Twitter miliknya. Ku baca timelinenya, banyak sekali ucapan dan doa yang disematkan untuknya agar istiqamah. Tentu, aku pun juga turut andil mengucapkan selamat dan menyematkan doa yang sama, berharap doa itu juga kembali kepadaku.

Baca Juga :  Masjid Muhajirin di Gangga, Ambruk Total Saat Shalat Isya'

Tring. 1 notification. Kubuka handphoneku, ada balasan darinya.

@Yunitaxx_xx: Alhamdulillah, kamu kapan yun nyusul pakai hijab?

Lha? Kamu tanya aku, aku terus tanya siapa? Hiks.. Allahu a’lam, jawab gitu aja kali ya? Pikirku. Tapi aku segera menghapusnya kembali.

@Vxxxx: Nunggu siap dulu kayaknya, bantu doanya ya.

@Yunitaxx_xx: Lho, bukannya hijab itu wajib ya yun buat muslimah?

Skakmat. Egoku terkalahkan oleh kalimat singkat yang sarat akan makna, “hijab itu wajib buat muslimah.”

Aku tau, banyak ayat di Alquran yang mewajibkan wanita muslim untuk memakai hijab, namun kenapa aku masih melanggar? Karena aku takut, ketika aku berhijab aku tidak bisa mendapat pekerjaan, takut tidak bisa istiqamah, takut tidak bisa mendapat pasangan dan ketakutan-ketakutan lainnya.

Namun semua itu seketika terpatahkan oleh perkataan yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran, “bisa saja kamu meninggal sebelum itu.” Ya, kita bisa meninggal sebelum kita mendapat pekerjaan atau sebelum kita menikah.

Halaman Selanjutnya …

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.