Ketika Manusia Mengandalkan Akal
Ilustrasi perangkat hukum. (Ils: Dribbble/Mia Ditmanson)

Suaramuslim.net – Allah memberi kelebihan kepada manusia untuk menemukan hal-hal baru dan mengukir prestasi. Betapa banyak penemuan manusia sehingga kehidupan manusia semakin hari menunjukkan peningkatan ke arah lebih baik. Akal itulah yang menjadi andalan manusia untuk bisa mengubah dunia dengan berbagai penemuan barunya.

Namun, di tengah prestasi besar itu, manusia memiliki sifat buruk yang tertanam dalam dirinya. Keinginan untuk dipuji atas berbagai temuan dan prestasi yang ditorehkan itu, merupakan salah satu di antara sifat buruknya. Bahkan akalnya dijadikan andalan tanpa mengindahkan pencipta akalnya. Tidak sedikit manusia yang memutuskan perkara hukum dengan berijtihad tanpa menyandarkan pada hukum yang dibuat oleh pencipta dirinya. Dengan kata lain, hukum dibuat dianggap sebagai kemampuan akal murni, dan bahkan menganggapnya lebih baik dari hukum yang Allah tetapkan.

Akal telah menjadi “tuhan” baru dan menyingkirkan Tuhan yang sebenarnya. Manusia telah menganggap dirinya bisa menciptakan kebaikan tanpa harus mengaitkan dengan kekuatan dan kekuasaan Allah. Padahal Allah telah menyiapkan perangkat hukum, dan manusia tinggal menggunakan akalnya untuk menata secara teknis ketetapan hukum yang telah diciptakan oleh Allah. Hal ini Allah abadikan sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:

 قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِي رَبّٗا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيۡءٖۚ وَلَا تَكۡسِبُ كُلُّ نَفۡسٍ إِلَّا عَلَيۡهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرۡجِعُكُمۡ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.” (QS Al-An’am: 164)

Allah mengajak kita untuk berpegang teguh pada norma dan aturan yang ditetapkan dengan berpedoman pada Al Quran. Menjadikan Al Quran sebagai referensi utama dalam menjalankan hukum tetapi manusia seringkali mencari sumber hukum lain dengan menjadikan akalnya sebagai tolok ukur kebenaran. Layak kita tampilkan sindiran Al Quran sebagaimana firman-Nya :

   أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡتَغِي حَكَمٗا وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ مُفَصَّلٗاۚ وَٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ يَعۡلَمُونَ أَنَّهُۥ مُنَزَّلٞ مِّن رَّبِّكَ بِٱلۡحَقِّۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ

Pantaskah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Al Quran) kepadamu secara rinci? Orang-orang yang telah Kami beri kitab mengetahui benar bahwa (Al Quran) itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS Al-An’am : 114)

Berbagai kekacauan dan konflik yang muncul di dunia ini tidak lepas dari peran akal manusia yang menyingkirkan peraturan yang disandarkan pada Al Quran, dan menggantinya dengan hukum yang mendasarkan pada akalnya. Allah mensinyalir bahwa peran setan sangat besar dalam mempengaruhi akal manusia. Setan memberi janji kebaikan dan meminta manusia mengabaikan janji Allah. Padahal setan sendiri mengaui bahwa janjinya sangat lemah dan tidak memiliki dasar yang kuat. Hal ini tercatat dengan baik sebagaimana terkatb dalam firman-Nya :

 وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ

Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih. (QS Ibrahim : 22)

Manusia dan Perbudakan Akal

Dalam menetapkan peraturan dan norma, manusia tidak bisa melepaskan kepentingan dan keinginan jangka pendek. Kepentingan dan pertimbangan jangka pendek itulah yang menjadi akar  hancurnya tatanan sosial. Allah mengabadikan bahwa keinginan atau hawa nafsu menjadi penyebab rusaknya langit dan bumi ini, sebagaimana firman-Nya :

 وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلۡحَقُّ أَهۡوَآءَهُمۡ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ بَلۡ أَتَيۡنَٰهُم بِذِكۡرِهِمۡ فَهُمۡ عَن ذِكۡرِهِم مُّعۡرِضُونَ

Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah memberikan peringatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan itu. (QS Al-Mu’minun: 71)

Al Quran mensinyalir bahwa manusia kebanyakan memutuskan perkara berdasarkan pikiran atau kemauan kolektif. Padahal pikiran kolektif itu membelokkan jalan yang lurus, menuju jalan yang bengkok dan merusak diri dan masyarakatnya. Menghapus potong tangan bagi pencuri, tak merajam bagi pezina, membebaskan peredaran minuman keras dan tidak mengukum mati bagi pengedar narkoba merupakan beberapa contoh bagaimana kepentingan manusia menjadi tolok ukur. Manusia mengira dengan mengubah hukuman bagi pelaku dosa besar, baik dengan denda atau penjara, bisa membawa kebaikan dan menghargai hak-hak kemanusiaan.

Allah menyatakan bahwa petimbangan itu hanyalah dugaan dan sangkaan manusia saja. Persangkaan manusia sangat lemah dan memiliki sejumlah kerapuhan, serta berpotensi besar dalam menciptakan kesesatan kolektif. Hal ini diabadikan Alah sebagaimana firman-Nya :

 وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ

Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan. (QS Al-An’am : 116)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.