Ma'ruf Amin Minta MUI Tidak Terlibat Politik Praktis
Ketua MUI KH. Ma'ruf Amin (Foto: Istimewa)

JAKARTA (Suaramuslim.net) – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengingatkan agar kontestasi lima tahunan seperti pemilu, tidak sampai mengorbankan persaudaraan.

Menjaga silaturahmi dan kekeluargaan yang sudah dibangun bertahun-tahun itu, menurutnya, jauh lebih penting dibanding hajatan lima tahunan ini.

“Kenapa untuk ukuran kontestasi yang lima tahunan saja kita seperti perang Baratayuda? Ini sudah melewati batas,” katanya di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (08/01) seperti dikutip dari laman resmi MUI.

“Kontestasi ini cuma lima tahunan, tapi ukhuwah, persaudaraan kita, itu sepanjang masa,” tegas cawapres nomor urut 01 ini.

Ma’ruf mengatakan, tidak sepatutnya hanya karena alasan agenda politik lima tahunan, kemudian menghalalkan segala cara. Seperti menghantam bahkan menghasut sesama muslim yang notabene adalah saudara hanya karena berbeda pilihan.

“Kenapa kita jadi habis-habisan seperti itu? Padahal kita akan terus bertemu, bergaul, bagaimana kita bisa menyebar permusuhan?” Ungkapnya.

Kiai Ma’ruf menekankan, perbedaan pilihan politik merupakan sesuatu yang lumrah. MUI bahkan sejak lama membebaskan anggotanya memilih sesuai kehendaknya. Namun yang dia sayangkan, atas dasar perbedaan pandangan politik, lantas muncul tindakan yang menghantam bahkan menghasut untuk memusuhi sesama.

Baca Juga :  Ratu Elizabeth Kirim Belasungkawa untuk Korban Tsunami Selat Sunda

“Soal pilihan tidak ada masalah, itu hak masing-masing, cuma yang disayangkan, kok pakai menghantam dan menghasut?” Ujarnya.

Umat Islam, lanjut Kiai Ma’ruf, telah lama akrab dengan istilah ukhuwah islamiyah (persaudaraan seislam) dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa). Sehingga tidak sepantasnya kontestasi politik ini membuat kita mengubah rasa saling mencintai dan menyayangi terhadap sesama menjadi saling membenci dan bermusuhan.

“Kita yang menemukan istilah ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, bagaimana kita kehilangan tawadud (mencintai) dan tarahum (menyayangi) karena soal berbeda pilihan?” Ungkapnya.

“Kenapa kita bukan menyebarkan tawadud tarahum, tapi taghadhub (saling marah) dan tahasud (bermusuhan)?” Katanya.

Ia pun berharap, di tengah perbedaan pilihan politik, keutuhan bangsa tetap terjaga. Karena perbedaan politik memang tidak seharusnya mencederai persatuan dan kesatuan kebangsaan yang telah lama diperjuangkan.

“Mudah-mudahan kita tetap bisa menjaga keutuhan walaupun kita berbeda-beda,” tandasnya.


Reporter: Ali Hasibuan
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.