Kisah Sebuah Harga

Kisah Inspiratif tentang Sebuah Harga

Suaramuslim.net – Usai mendapatkan keris pesanannya, Ken Arok lalu menunjukkan kerisnya kepada Kebo Ijo. Ken Arok tahu betul bahwa Kebo Ijo adalah potret orang yang menyukai sanjungan dan pujian. Maka dengan bangganya Kebo Ijo menunjukkan kepada khalayak tentang kerisnya. Sanjungan dan pujian menjadikan Kebo Ijo menjadi semakin “lupa diri”. Tibalah suatu malam, ketika Kebo Ijo terlelap, Ken Arok dengan liciknya mengambil keris itu, dan malam itu juga tragedi tewasnya Tunggul Ametung, Raja Singhasari. Kebo Ijo menjadi tersangka dan dihukum setimpal.

Kisah Kebo Ijo yang jujur dan ceroboh adalah sebuah kisah yang menggambarkan keseharian kita. Kebo Ijo adalah kita. Mengapa? Karena pada dasarnya diri membutuhkan aktualisasi.

-Advertisement-

Setiap makhluk hidup tentu memiliki kebutuhan dalam hidupnya, mulai dari hewan, tumbuhan maupun manusia. Seperti yang kita tahu tumbuhan membutuhkan air, sinar matahari dan pupuk untuk tumbuh kembangnya, begitu juga dengan hewan yang membutuhkan asupan makanan dan minuman untuk meneruskan hidupnya. Fenomena inilah yang disebut dengan kebutuhan.

Berkaitan dengan kebutuhan manusia, Maslow dalam teori hirarki kebutuhan, membaginya menjadi lima yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan penghargaan dan harga diri, serta kebutuhan aktualisasi diri.

Kebutuhan-kebutuhan yang digambarkan Maslow, pemenuhannya tidak bisa dipahami harus bertahap tapi bisa dalam waktu yang sama pemenuhan atas kebutuhan tersebut harus dilakukan. Itulah yang menggambarkan potret keseharian kita. Utamanya kebutuhan akan aktualisasi diri.

Di zaman seperti sekarang ini, kebutuhan akan aktualisasi menjadi kebutuhan yang mendesak, apalagi pemenuhannya juga semakin mudah dan bisa dilakukan dengan cepat. Pernahkah Anda menjumpai sekumpulan ibu-ibu zaman now sedang bercengkrama di sebuah mall, apa yang akan dilakukan ketika mereka bertemu dengan komunitasnya? Tentu kita akan lihat mereka dengan suka cita mengabadikan dalam sebuah kamera android yang mereka bawa. Kesan yang akan disampaikan adalah mereka bagian dari ibu-ibu zaman sekarang, gaul dan selalu mengikuti perkembangan zaman. Tapi apakah selalu sama kesan yang ingin disampaikan dengan yang diharapkan? Tentu tidak selalu, karena setiap orang akan dipengaruhi oleh motif ketika melakukan sesuatu. Kesan itulah yang menentukan sebuah harga.

Ada kisah bijak tentang batu, seorang ayah memberi anaknya sebuah batu, lalu dia berpesan kepada anaknya, kalau ada yang bertanya berapa harganya, cukup tunjukkan jarimu dengan angka dua. Dibawalah batu ke pasar. Seorang ibu bertanya kepada si anak, akan kau jual berapa batu ini? Maka ditunjukkanlah jarinya dengan angka dua. Kalau begitu aku beli batumu dengan harga dua dollar.

Esok lagi, sang ayah memberi batu lagi dan dibawalah oleh si anak ke tempat penggosokan batu, ditanyalah si anak, berapa akan kamu jual batu itu, ditunjukkanlah jarinya dengan angka dua. Lalu sang penggosok batu menjawab, “Ok, aku beli batumu dua ratus dollar”.

Esoknya berlangsung hal yang sama, si Ayah memberi sebuah batu kepada si anak. Sama seperti pesan sebelumnya, kalau ada yang bertanya harga maka cukup tunjukkan jari dengan angka dua. Dibawalah batu ke toko permata. Dia tunjukkan batu kepada penjual batu permata dan ditanyalah berapa akan kamu jual batu ini. Si anak hanya menunjukkan jarinya dengan angka dua. Sang pemilik toko permata mengatakan “Ok, aku beli batumu dua ribu dollar”.

Apa yang bisa kita petik dari kisah batu di atas? Tempat dimana batu itu dibawa oleh anak, menentukan harga sebuah batu.

Nah kawan… Kemampuan kita membawa diri dan menempatkan diri akan menentukan penilaian orang lain terhadap diri kita.

Tidak selalu maksud baik akan bisa diterima dengan baik, apa yang kita lakukan dan apa yang kita ucapkan akan memberi harga siapa kita. Sehingga menempatkan diri dalam posisi yang tepat akan memberi kesan yang tepat terhadap kita.

Nabi Muhammad adalah contoh baik yang bisa jadi teladan, di tengah carut marut kehidupan bangsa Quraisy, Muhammad menempatkan dirinya menjadi pemuda yang jujur dan ulet. Kesan itulah yang kemudian menjadikan dirinya disegani dan dapat dipercaya “Al Amin“. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala aali Muhammad. Semoga Allah senantiasa menguatkan diri kita untuk selalu meneladani Nabi Muhammad.

Ditulis di Surabaya, 9 Februari 2018
Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

M. Isa Ansori
Pegiat pelestarian cagar budaya, Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS), Pengajar Psikologi Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sekretaris LPA Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.