Krisis Listrik, 5 RS di Gaza Terancam Berhenti Beroperasi

Krisis Listrik, 5 RS di Gaza Terancam Berhenti Beroperasi

Krisis Listrik, 5 RS di Gaza Terancam Berhenti Beroperasi
Bantuan dari Indonesia melalui ACT dikonversi menjadi bahan bakar, Gaza.

GAZA (Suaramuslim.net) – Blokade atas sebuah kota kecil bernama Gaza, Palestina telah berlangsung sejak tahun 2007 silam. Lebih dari satu dasawarsa berlangsung, segala hal untuk memenuhi kebutuhan hidup, dipersulit. Seluruh akses dari dan menuju ke Gaza, ditutup.

Imbasnya, kebutuhan paling dasar menjadi mahal, dan langka. Termasuk listrik. Apalagi, listrik di Gaza mayoritasnya disuplai oleh generator diesel yang menggunakan bahan bakar sebagai sumber energinya. Sementara itu, harga bahan bakar pun semakin tidak terjangkau.

Ketika harga bahan bakar melambung, dan suplai listrik semakin terbatas, fasilitas umum yang paling terdampak adalah rumah sakit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, sistem kesehatan di Gaza berada di ujung kolapsnya, dengan kebutuhan 500.000 liter bahan bakar yang tak dapat terpenuhi. Hampir seluruh rumah sakit di Gaza hanya mengandalkan bantuan bahan bakar dari sejumlah lembaga donor internasional, itu pun jumlahnya terbatas.

Melansir dari Al Jazeera, di pekan ketiga Januari 2019 ini, krisis listrik sekaligus bahan bakar yang sedang menimpa warga Gaza membuat staf medis terpaksa mengurangi layanan dasar rumah sakit, seperti sterilisasi peralatan dan diagnostik kepada para pasien.

Bahkan menurut WHO, ada 200 bayi di unit perawatan intensif yang terancam tidak mendapat fasilitas medis, juga belasan jadwal operasi akan terganggu karena tidak adanya daya untuk menunjang peralatan bedah.

Sebelumnya pada Ahad (20/1) Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan, ada lima rumah sakit di Gaza yang terancam berhenti beroperasi. Lima rumah sakit itu antara lain RS Anak Al-Nasr, RS Anak Antariisi, RS Al-Najjar, Rumah Sakit Jiwa, dan Rumah Sakit Mata. Ancaman penutupan rumah sakit itu akan menjadi bencana kemanusiaan dari sisi medis paling besar, menurut Kemenkes Palestina.

Akibat krisis bahan bakar itu, sekiranya 800 pasien gagal ginjal nyawanya terancam karena tidak bisa menggunakan mesin untuk cuci darah. Lalu 40 ruang operasi akan terganggu, dengan 250 jadwal operasi setiap harinya.

Listrik yang padam juga membahayakan kehidupan ratusan wanita hamil yang membutuhkan tindak persalinan, namun ruang operasi tidak bisa berfungsi. Tak hanya itu, kehidupan ratusan bayi prematur juga terancam. Pasalnya kehidupan mereka secara langsung bergantung pada pasokan listrik di bangsal bayi rumah sakit di seantero Gaza.

Dari Indonesia, Bantu Nyalakan Listrik Gaza

Menanggapi krisis listrik Gaza yang semakin buruk di awal tahun 2019 ini, Aksi Cepat Tanggap (ACT) turut merespons situasi genting dengan berkoordinasi langsung kepada sejumlah mitra kemanusiaan ACT, termasuk lewat Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza.

Seperti yang disampaikan Bambang Triyono selaku Direktur Global Humanity Response (GHR) ACT. Bambang menuturkan, amanah masyarakat Indonesia yang dititipkan kepada ACT untuk Gaza akan dikonversi jadi bantuan bahan bakar, khususnya untuk sejumlah rumah sakit.

“Dalam waktu dekat ACT berencana akan mengirimkan bantuan bahan bakar sebanyak 100.000 liter, bahan bakar akan dimaksimalkan penggunaanya untuk menyalakan generator listrik di sejumlah rumah sakit di Gaza,” jelas Bambang.

Lebih lanjut, Bambang menjelaskan, bantuan bahan bakar akan diserahkan langsung implementasinya lewat Kementerian Kesehatan Palestina. Menurut data yang didapat GHR – ACT dari Kementerian Kesehatan Palestina, kebutuhan bahan bakar untuk semua rumah sakit di seluruh Gaza berjumlah sekitar 450.000 liter per bulan.

“Insya Allah bantuan bahan bakar yang akan ACT kirimkan dalam waktu dekat untuk rumah sakit di Gaza berjumlah 100.000 liter,” papar Bambang.

Sumber: ACT
Editor: Muhammad Nashir

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment