Bershalawat, Menambah Iman dan Mendatangkan Syafaat

233
shalawat Menambah Iman dan Mendatangkan Syafaat

Suaramuslim.net – Selain menjadi sesuatu yang disyariatkan oleh Allah ta’ala, tahukah Anda bahwa membaca shalawat juga merupakan salah satu cara untuk menyempurnakan iman? Tidak hanya itu, bahkan jika senantiasa istiqomah bershalawat akan mendapatkan syafaat Rasulullah shalallahi alaihi wa sallam. Mengapa demikian ? simak ulasan berikut ini.

“Shalawat merupakan salah satu hak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disyari’atkan Allah subhanahu wa ta’ala atas ummatnya adalah agar mereka mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau,” demikian ditulis Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, pada laman rumaysho.com.

Ia menjelaskan, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala dan para malaikat-Nya telah bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya agar mengucapkan shalawat dan taslim kepada beliau.  Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzaab: 56)

Ia menambahkan, bahwa dari berbagai riwayat menjelaskan makna shalawat Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pujian Allah atas beliau di hadapan para malaikat-Nya, sedang shalawat Malaikat berarti mendoakan beliau, dan shalawat ummatnya berarti permohonan ampun bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh syari’at pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib atau sunnah muakkadah. Dalam kitab Jalaa’ul Afhaam, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan 41 waktu (tempat).

Beliau rahimahullah memulai dengan sesuatu yang paling penting yakni ketika shalat di akhir tasyahhud. Di waktu tersebut para ulama sepakat tentang disyari’atkannya bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka berselisih tentang hukum wajibnya.

Di antara waktu lain yang beliau sebutkan adalah di akhir Qunut, kemudian saat khutbah, seperti khutbah Jum’at, hari raya dan istisqa’, kemudian setelah menjawab muadzdzin, ketika berdo’a, ketika masuk dan keluar dari masjid, juga ketika menyebut nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kaum Muslimin tentang tatacara mengucapkan shalawat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepadanya pada hari Jum’at. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa manfaat dari mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu, menjadi bukti ketaatan kepada perintah Allah, dikabulkannya do’a apabila didahului dengan shalawat, sebab mendapatkan syafa’at dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak hanya itu, ketika mengucapkan shalawat diiringi dengan permohonan kepada Allah agar memberikan wasilah (kedudukan yang tinggi) kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Kiamat, dan sebab diampuninya dosa-dosa.

Larangan Belebihan dalam Memuji Nabi

Meski dianjurkan, namun dalam hal ini juga tidak boleh dilakukan berlebihan. Ghuluw artinya melampaui batas. Allah berfirman, “Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu.” (An-Nisaa’: 171)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”

Salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi kufur adalah sikap ghuluw dalam beragama, baik kepada orang shalih atau dianggap wali, maupun ghuluw kepada kuburan para wali, hingga mereka minta dan berdo’a kepadanya padahal ini adalah perbuatan syirik akbar.

Sedangkan ithra’ artinya melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam memuji serta berbohong karenanya. Dan yang dimaksud dengan ghuluw dalam hak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melampaui batas dalam menyanjungnya, sehingga mengangkatnya di atas derajatnya sebagai hamba dan Rasul (utusan) Allah, menisbatkan kepadanya sebagian dari sifat-sifat Ilahiyyah. Hal itu misalnya dengan memohon dan meminta pertolongan kepada beliau, tawassul dengan beliau, atau tawassul dengan kedudukan dan kehormatan beliau, bersumpah dengan nama beliau, sebagai bentuk ‘ubudiyyah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, perbuatan ini adalah syirik.

Dan yang dimaksud dengan ithra’ dalam hak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berlebih-lebihan dalam memujinya, padahal beliau telah melarang hal tersebut melalui sabda beliau, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).”

Kontributor: Mufatihatul Islam
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here