Ilustrasi orang miskin. Ils: muslim.or.id

Suaramuslim.net – Dalam suatu hadis, Rasulullah pernah bersabda, “Orang-orang miskin masuk surga setengah hari sebelum orang-orang kaya. Setengah hari di akhirat sama dengan lima ratus tahun di dunia.” (Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Rasulullah bersabda, “Orang-orang miskin umatku (orang-orang fakir muhajirin) masuk surga empat puluh musim gugur sebelum orang-orang kaya.” (At-Tirmidzi).

Melansir dari laman muslimahdaily, pada hadis riwayat Muslim, disebutkan juga perbedaan waktu dengan redaksi yang hampir sama. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang miskin Muhajirin mendahului orang-orang kaya masuk surga pada hari Kiamat dengan jarak empat puluh musim gugur.”

Sementara itu di dalam sebuah hadis disebutkan bahwasanya mereka yang masuk surga belakangan akan menunggu disertai dengan perasaan khawatir dan keringat yang berucucuran.

Rasulullah bersabda, “Dua orang mukmin berjumpa di pintu Surga. Di dunia, mukmin yang satu adalah mukmin fakir dan yang lainnya mukmin kaya. Mukmin fakir masuk Surga. Sedangkan mukmin kaya ditahan Allah sekehendak-Nya, lantas dimasukkan ke Surga. Di Surga, mukmin fakir menemuinya sambil berkata, ‘Saudaraku, apa yang membuatmu ditahan? Sungguh aku menghawatirkanmu saat kau ditahan.’ Mukmin kaya itu menjawab, ‘Saudaraku, setelah kau berlalu, aku ditahan perasaan mengerikan. Aku bercucuran keringat tapi belum dapat menyusulmu’.” (Ahmad).

Hadis-hadis di atas menjelaskan setidaknya dua hal. 

Pertama, menerangkan salah satu keutamaan orang miskin. Selama di dunia, orang miskin seringkali dipandang sebelah mata dan kesulitan merasakan kenikmatan duniawi. Oleh karena itulah, Allah memberikan ganti berupa lebih dulu merasakan kenikmatan di akhirat, yakni Surga.

Bahkan dalam suatu hadis, disebutkan bahwa kelak Surga lebih banyak dihuni oleh orang miskin. Hal tersebut juga lantaran orang kaya lebih lama dihisab. Orang kaya akan ditanyai dari mana hartanya itu berasal, serta bagaiamana mendapatkan dan memanfaatkannya.

Rasulullah bersabda, “Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli Surga itu? Mereka itu adalah setiap orang yang lemah dan dianggap lemah oleh para manusia, tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, pastilah Allah mengabulkan apa yang disumpahkannya. Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli Neraka itu? Mereka itu adalah setiap orang yang keras, kikir, dan gemar mengumpulkan harta lagi sombong.” (Al-Bukhari & Muslim).

Melansir dari laman Rumaysho, yang dimaksud dengan orang lemah di sini adalah orang yang miskin. Bisa juga dibaca sebagai orang yang rendah diri dan tawadhu’, serta yang lembut hatinya.

Tentu tidak semua orang mukmin miskin di dunia akan didahulukan masuk Surga nantinya. Hanya orang miskin yang beriman, sabar, dan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah yang diberi keistimewaan tersebut.

Pasalnya banyak juga orang miskin yang membenci atas takdir Allah yang turun padanya sehingga ia enggan berusaha dan berikhtiar atas keadaannya. Bahkan banyak yang akhirnya jadi enggan melaksanakan ibadah karena menurutnya tidak dapat mengubah keadaan.

Kedua, hadis-hadis di atas menekankan adanya perbedaan waktu antara mereka yang masuk Surga lebih dulu dan yang belakangan. Dalam buku Surga yang Allah Janjikan karya Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, dijelaskan bahwa perbedaan tersebut bisa jadi karena yang pertama masuk yang terjaga dari kesalahan. Perbedaan itu juga serupa dengan jangka waktu yang berbeda-beda pada orang yang bertauhid yang masuk neraka, diukur dari kejahatan yang telah diperbuat.

Harus diperhatikan juga bahwa siapa yang lebih dulu masuk Surga tidak serta merta menunjukkan posisi yang lebih tinggi di Surga. Ada kalanya yang terlambat masuk menempati posisi yang lebih tinggi, meskipun didahului oleh orang lain.

Dalilnya adalah, ada sebagian orang yang masuk Surga tanpa diperhitungkan amal perbuatan. Sementara ada pula yang diperhitungkan amal perbuatannya justru lebih utama dan lebih banyak pahalanya daripada yang tidak dihisab. Jika ada orang kaya yang memanfaatkan hartanya di jalan kebaikan dan senantiasa bersyukur, maka ia menempati tingkatan yang lebih tinggi daripada orang fakir yang lebih dahulu masuk Surga.

Wallahu ‘alam.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.