Melayu Islam dalam Ketegasan Ustadz Abdul Shomad: Sebuah Kesan dari Pengalaman Pribadi

Melayu Islam dalam Ketegasan Ustadz Abdul Shomad: Sebuah Kesan dari Pengalaman Pribadi

ustadz abdul shomad
Ustadz Abdul Shomad (Foto: Tafaqquh)

suaramuslim.net – Pagi ini, saya menyimak langsung Tabligh Akbar di Masjid Darussalam, Kota Wisata, yang mengundang seorang ulama muda dari Riau, Ustadz Abdul Shomad, Lc., M.A. Namanya tengah ramai diperbincangkan warganet, baik yang memuji maupun yang mencibirnya.

Saya sendiri, sebelum datang ke tabligh akbar, belum menyimak isi ceramah beliau yang bisa dijumpai di video-video di internet. Kendalanya teknis saja, terlalu fakir kuota dan jika pun sedang mendapatkan wifi gratis, saya malah mencari video Coldplay atau e-book gratisan (yang tidak benar-benar dibaca). Baru mengenal dan menyimak ceramah beliau tadi pagi, bagi saya, adalah penyesalan tersendiri!

Hal yang paling membuat saya rela mandi sepulang shubuhan dan langsung tancap gas untuk sampai ke Masjid Darussalam, sekira 3 kilometer dari rumah saya, adalah karena beliau dengar-dengar punya ketegasan terhadap keislamannya. Dalam status teman-teman Fesbuk yang membagikan video ceramahnya, beliau diterangkan sebagai Pengurus NU Riau yang bertenggang rasa terhadap perbedaan pemahaman di kalangan umat, tapi tegas terhadap kesesatan dan kekafiran.

Beliau juga menegaskan ke-aswaja-annya: pengikut Imam Al-Asy’ari dalam aqidah, Imam Asy-Syafi’i dalam fiqh, dan Imam Al-Ghazali dalam tasawuf, tiga paham yang menjaga keislaman kita, Muslim Nusantara, berabad-abad lamanya hingga sekarang, dari pelbagai kerusakan pikiran, akhlak, dan upaya pemurtadan.

Bekal “dengar-dengar” itu ternyata sama sekali tidak keliru. Ketegasan itu saya tangkap sepanjang ceramah beliau yang berakhir tepat pukul 06:15. Begitu saya sampai di Darussalam, beliau tengah menjelaskan keutamaan-keutamaan ZISWAF, atawa Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf.

Dengan suara yang keras namun bernada teratur sehingga enak disimak, beliau lancar menyebutkan dalil tiap-tiap perkara itu. Dari dalil, beliau masuk ke rincian perbedaan ulama, lalu masuk ke kasus keseharian. Hal itu terus berlangsung dengan lincahnya, sehingga para penyimak tak merasakan patahan yang tak perlu di tengah penyampaian. Ada canda yang terselip di sana, namun candanya tidak mengorbankan nalar atau merendahkan kalangan, mungkin karena beliau bertumbuh di tengah tradisi Melayu yang piawai dalam berindah kata.

Canda itu pula yang digunakannya untuk menunjukkan ketegasan. Ketika membahas tentang hukum wakaf dari orang kafir, beliau mengawalinya dengan maklumat,

“Kata orang, jangan keras dan berkata kafir. Baiklah, saya perbaiki, ‘kaafiiiir’,”

ucapnya yang mengatakan “kafir” dengan nada lembut seperti penutur bahasa Jawa atau Sunda halus, setelah sebelumnya mengucap kata yang sama dengan nada tinggi. Begitu jama’ah berhenti tertawa, beliau menjelaskan bahwa wakaf orang kafir, menurut Sayyid Sabiq yang dirujuknya, boleh diterima dan dia mendapat balasan langsung dari Allah di dunia.

“Biar di akhirat nanti langsung masuk neraka,” tambahnya, dan jama’ah tertawa lagi. Jika ingin mendapat balasan juga di akhirat, sambung beliau, adalah mengakui Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah. Tidak bisa selain itu!

Pembahasan kemudian melebar saat memasuki tanya jawab. Beliau membaca pertanyaan-pertanyaan jama’ah yang tertulis di kertas. Panitia mungkin membagikannya sebelum shubuh berjama’ah di sana, yang memang merupakan rangkaian dari Tabligh Akbar itu. Dari persoalan bermakmum kepada orang yang sedang shalat sunnah sampai persoalan keabsahan tarekat, beliau jawab dengan ringkas namun tanpa melewati penjabaran atas pendapat-pendapat para ulama.

Saat mengatakan bahwa menurut Mazhab Syafi’i seseorang boleh bermakmum pada orang yang shalat sunnah, beliau merujuk riwayat tentang Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu yang sudah selesai shalat berjama’ah, namun menjadi imam lagi bagi orang yang datang belakangan dan minta diimaminya. Bagi Mu’adz, shalatnya itu adalah sunnah karena ia telah melaksanakan kewajibannya, sedangkan bagi makmumnya bernilai shalat wajib dan mendapat pahala berjama’ah.

Jawaban tentang tarekat, bagi saya, adalah yang paling menarik. Beliau menjelaskan bahwa tarekat berarti jalan, kemudian mengutip pendapat Syeikh Ramadhan al-Buthi tentang tarekat, yakni “…kumpulan dzikir yang disusun para ulama untuk mencapai apa yang oleh Imam Al-Ghazali disebut pembersihan hati dari sombong, dengki, riya, sum’ah, dan takabur.” Beliau juga menjelaskan keberadaan orang-orang yang justru menjadi sombong karena menjalankan tarekat. Mereka meninggalkan syari’at karena merasa paling dekat dengan Allah. “Itu gurunya setan!” kata beliau.

Setelah itu, beliau kembali menjelaskan bahwa tarekat-tarekat besar memiliki sanad sampai ke Rasulullah. Tiga tarekat yang beliau bahas sanadnya, yakni Sanusiyah, Syadzilillyah, dan Naqshabandiyah.

Ada lagi jawaban beliau dari pertanyaan jama’ah yang menarik, yakni soal memaknai kemenangan dan kekalahan dalam Islam. Pertanyaan tersebut sebenarnya umum saja, namun beliau memberi contoh yang dekat dan penting bagi kesadaran kita. Dengan retorika pertanyaan, beliau berkata yang kurang lebih begini,

“Apakah Syeikh Yusuf al-Makassari yang diasingkan Belanda ke Cape Town di Afrika Selatan sana itu kalah? Apakah Sayyid Quthb yang digantung Jamal Abdul Nasser itu kalah? Kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu mengalahkan hawa nafsunya, kepengecutannya, godaan dunia yang membuatnya enggan menyampaikan dan memperjuangkan kebenaran. Sebaliknya, kekalahan sejati adalah ketika dia takluk oleh hawa nafsunya.”

Beliau kemudian membacakan ayat suci yang mengabarkan kalau para syahid itu tidak mati; mereka hidup di sisi Tuhannya.

Keberadaan Ustadz Abdul Shomad (dan juga Ustadz Adi Hidayat dari Muhammadiyah, misalnya) adalah pertanda baik bagi orang-orang haus ilmu yang mengandalkan gawai dan internet untuk mengobati kehausannya itu, di tengah kesibukan dunia kerja yang menyeret mereka untuk selalu lekas bergegas.

Sebelum kemunculan beliau dan ustadz-ustadz “pencerah” lainnya di dunia maya, kita amat lelah dengan kalangan tertentu yang lebih dahulu menguasai dunia maya untuk menyampaikan isi pikirannya, manhajnya, dengan cara hantam sana-sini. Orang awam macam saya yang ingin memanfaatkan gawai untuk mengaji jadi terseret ke dalam perdebatan dan perselisihan yang tak sungguh-sungguh dipahami. Banyak kasus, dari pengalaman saya sendiri, di mana hubungan kekeluargaan dan persahabatan jadi seperti piring habis dilempar dari ketinggian: terpecah-belah sampai kecil sekali, terpisah sampai jauh sekali, akibat isi ceramah semacam itu.

Di tingkat nasional, sosok Ustadz Abdul Shomad juga bisa menjadi pembersih bagi kalangan aswaja dari noda-noda kaum liberal yang menumpang nama besar aswaja itu. Saat ahlussunah sejati harusnya menunjukkan komitmen pada syariat dan ketegasan terhadap kesesatan dan kekafiran, seperti yang ditunjukkan Ustadz Abdul Shomad, kaum liberal ini mencari muka dan dana pakai tipu-tipu jargon sekularisme, pluralisme, liberalisme, dan isme-isme turunannya, namun soal pembubaran Hizbut Tahrir, pengusiran pengajian “Wahabi”, atau sepatah kata “pribumi” dalam pidato Anies Baswedan, mereka paling lantang suaranya, mentalitas Jaringan Islam Proposal.

Tiba-tiba saya jadi ingat kepada sosok Kiai Abdul Qoyyum, atau Gus Qoyyum, pengasuh Pondok Pesantren An-Nur di Lasem. Saya dan teman-teman ahad.co.id bersungkem padanya awal September lalu, atas perintah dari putera Mbah Maimoen Zubair, Gus Najih Maimoen, yang kami sungkemi malam sebelumnya. Dari tengah ruang tamunya yang sesak oleh Kitab Kuning, Gus Qoyyum menyampaikan nasehat tentang persatuan umat, dan pentingnya menjaga hati, ketulusan, dan berpegang pada aqidah yang benar untuk mencapai itu.

Watak dan pikiran ulama Melayu Islam, dalam makna “melayu” seluas-luasnya, sejak dulu memang seperti itu. Nuruddin ar-Raniri, seorang sufi, tegas pada kalangan batiniah yang sesat karena meninggalkan syariat. Syeikh Abdush Shamad al-Falimbani, juga seorang sufi (dan namanya mirip tokoh yang kita bicarakan ini), menulis risalah jihad melawan penjajah kafir Belanda di samping risalah-risalah tasawufnya, lalu ada Syeikh Yusuf al-Makassari, lalu ada Syeikh Nawawi al-Bantani, lalu ada banyak lagi.

Orang-orang berilmu yang mencurahkan hidupnya untuk umat, dengan tulus dan rendah hati, tentu bukan cuma nama-nama yang saya sebut di atas. Kita beruntung, di negeri indah ini, masih tersedia banyak yang seperti itu, tinggal kita saja yang bersedia memilih dan mengikutinya atau tidak. Jangan sampai asal melangkah dan salah jalan pula, tersasar di jalan menuju jurang dengan aspal penuh paku karatan. Kata Taufiq Ismail yang dinyanyikan Bimbo, “Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian.”

Cileungsi, 29 Muharram 1439

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment