Melipat Gandakan Keutamaan Sedekah

Suaramuslim.net – Kita semua pasti sudah tahu, bahwa sedekah memiliki banyak keutamaan yang akan membuat hidup kita jauh lebih berkah. Sebagai orang beriman tentu kita menyakini, bahwa harta yang disedekahkah tidak akan berkurang, melainkan bertambah, bertambah dan bertambah.

Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 261 berikut:

“Perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatkangandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

Amal sedekah bisa menyelamatkan umat manusia dari api neraka. Apalagi yang bersedekah tersebut merupakan orang yang juga sebenarnya sangat membutuhkan harta tersebut. Ada dua orang yang bersedekah dengan nominal sama, namun bisa jadi di mata Allah pahala yang didapatkan keduanya tidak sama.

Lalu bagaimana pahala sedekah yang memang sudah dijanjikan oleh Allah berlipat ganda itu, mendapatkan keutamaan yang jauh berlipat ganda pula?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Satu dirham bisa mengalahkan 100 ribu dirham.”, para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa demikian?”, Rasulullah pun menjawab, “Ada orang yang memiliki dua dirham , kemudian dia sedekahkan satu dirham. Sementara itu ada ada orang yang memiliki banyak harta, kemudian dia mengambil seratus ribu dirham untuk sedekah”. (H.R an-Nasai)

Abu Hurairah ra. berkata, “Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimana yang paling utama?”, Rasulullah saw. pun bersabda, “Kesungguhan seorang muqil, dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu”.

Muqil adalah orang yang sedikit hartanya, tetapi ia bersedekah sesuai dengan kemampuannya.

Ada sebuah kisah ulama’, suatu ketika saat beliau dan keluarganya diuji oleh Allah dengan kemiskinan, hingga tak ada satu makanan pun di rumahnya, beliau pun pergi ke pasar untuk mengais rezeki. Alhamdulillah beliau pun mendaptkan rezeki sepotong roti, yang kiranya mampu mengganjal perut anak-anaknya.

Namun saat perjalanan pulang beliau bertemu seorang wanita tua dan anaknya yang juga tengah kelaparan. Imannya pun kembali teruji, antara memberikan roti di tangannya kepada wanita tersebut ataukah tetap membawa rotinya pulang ke rumah. Setelah berada dalam kebimbangan, akhirnya dengan mengucap basmallah beliau pun memilih memberikan roti tersebut kepada wanita tua dan anaknya yang tengah kelaparan.

Tak terbendung air mata wanita tua tersebut dan anaknya, menerima pemberian sepotong roti dari sang ulama’. Sang ulama’ pun pulang ke rumah dengan tangan hampa. Namun alangkah terkejutnya beliau ketika sesampainya di rumah ada banyak limpahan harta yang tersedia. Istrinya pun menceritakan bahwa harta tersebut berasal dari rekan bisnis almarhum ayahnya, yang datang untuk mengembalikan harta berikut labanya, dari modal yang dulu beliau pinjam.

Ulama’ tersebut merasa bersyukur dan menggunakan harta tersebut untuk berbisnis pula. Hasilnya pesat luar biasa. Tak lupa beliau meneruskan kebiasaannya untuk gemar bersedekah, melakukan berbagai kegiatan sosial dan juga menampung beberapa anak yatim.

Hingga suatu malam beliau pun bermimpi tengah berada di padang mahsyar, dan siap-siap menjalani hisab. Pusat pasi wajah beliau ketika melihat ternyata amal sedekah yang selama ini beliau kerjakan tidak berarti apa-apa. Bahkan amal buruknya pun jauh lebih berat dari pada amal baiknnya. Beliau menangis ketakutan, namun tiba-tiba ketika perhitungan amal sudah hampir selesai ada sebuah amal kebaikan yang belum ditimbang oleh malaikat. Yaitu memberi sepotong roti kepada wanita tua dan anaknya yang tengah kelaparan. Tanpa di duga amal kebaikannya pun perlahan naik dan naik, ditambah dengan air mata dari wanita yang menangis haru berkat pemberian sepotong roti tersebut, amal kebaikannya pun naik secara drastis sehingga beliau terselamatkan dari dahsyatnya siksa neraka.

Begitulah sahabat, kita tak bisa menilai dari besar atau kecilnya sedekah yang telah kita keluarkan. Kita pun harus sering-sering mengevaluasi hati, adakah terbersit riya di sana, adakah ada perasaan lebih mulia dari orang yang kita beri atau lintasan-lintasan hati yang lain yang dapat merusak pahala sedekah kita.

Dan jangan pernah merasa takut atau ragu saat kita hendak mengeluarkan sedekah saat diri kita sendiri sedang dalam kesusahan, karena bisa jadi saat itulah Allah menguji keimanan sejati kita dan hendak menurunkan keutamaan sedekah yang jauh berlipat ganda dalam hidup kita. Wallahu A’lam Bishawab.

Oleh : Santy Nur Fajarviana*
Editor: Oki Aryono

*Pengajar di MIT Bakti Ibu Madiun

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.