Memahami Learning Disabilities pada Anak

10
Memahami Learning Disabilities pada Anak

Suaramuslim.net – Dalam setiap proses pembelajaran tidak menutup kemungkinan siswa mengalami masalah-masalah dalam belajar. Kesulitan memahami materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru merupakan satu di antara masalah yang dihadapi. Kesulitan belajar merupakan suatu keadaaan di mana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Yang disebabkan oleh hambatan atau gangguan tertentu dalam proses pembelajaran sehingga siswa tidak dapat mencapai hasil belajar yang diharapkan.

Rendahnya hasil belajar yang didapatkan oleh siswa mengindikasikan siswa tersebut mengalami kesulitan belajar. Siswa yang mengalami kesulitan belajar akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya. Salah satunya yaitu hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.

-Advertisement-

Kesulitan belajar dapat dikategorikan menjadi dua bagian yaitu kesulitan belajar yang bersifat internal dan eksternal berkaitan dengan faktor lingkungan.

  1. Kesulitan Belajar Internal

Kesulitan belajar yang bersifat internal berkaitan dengan kelainan sentral pada fungsi otak. Disiplin ilmu pendidikan tidak mempunyai kompetensi untuk menjelaskan bagaimana kelainan fungsi otak terjadi. Hal yang penting untuk dipahami adalah fenomena-fenomena apa yang muncul dan berhubungan langsung dengan aktivitas belajar seorang anak.

Baca Juga :  Pendidikan dalam Kandungan

Ketika seorang anak belajar memerlukan kemampuan dalam persepsi (perception), baik pendengaran, penglihatan, taktual dan kinestetik, kemampuan mengingat (memory), proses kognitf (cognitive process) dan perhatian (attention). Kemampuan-kemampuan tersebut bersifat internal di dalam otak. Proses belajar akan mengalami  hambatan atau kesulitan apabila kemampuan-kemampuan tersebut mengalami gangguan. Apabila ada seorang anak yang mengalami kesulitan pada empat aspek itu, ada kemungkinan anak tersebut mengalai kesulitan belajar yang bersifat internal.

  1. Kesulitan Belajar Berkenaan dengan Faktor Lingkungan (Eksternal)

Kesulitan belajar yang bersifat eksternal, sangat terkait dengan dua situasi. Pertama, situasi di luar dan sebelum sekolah. Kedua, terkait dengan situasi di sekolah.

  1. Situasi di Luar dan Sebelum Sekolah

Aktivitas anak di rumah berpengaruh terhadap perkembangannya. Apabila  lingkungan rumah memberi peluang yang cukup bagi seorang anak untuk mendapatkan pengalaman belajar seperti mendengarkan orang tuanya membacakan dongeng, terbiasa menjawab pertanyaan dari cerita yang telah didengarnya, mulai mengenal buku, dibiasakan untuk mengemukakan secara lisan apa yang diinginkan kepada orang tuanya, dan ada kesempatan untuk melakukan eksplorasi lingkungan, memungkinkan seorang anak memiliki keterampilan pra-akademik. Keterampilan pra-akademik merupakan prasyarat untuk belajar secara akademik.

Baca Juga :  Ingin Rumah Tangga Rukun? Istighfarlah..!

Sering ditemukan anak yang mengalami masalah dalam belajar di Sekolah Dasar terkait dengan tidak dikuasainya keterampilan pra-akademik. Tidak jarang anak seperti ini memiliki penghargaan diri yang rendah, dan memiliki perasaan bahwa sekolah bukan tempat yang menyenangkan. Akibat yang mungkin muncul adalah anak mengalami kesulitan dalam perilaku.

2. Situasi di Sekolah

Proses belajar di sekolah terkait dengan elemen kurikulum, dan metode pembelajaran. Sekolah-sekolah kita pada umumnya sangat kuat perpatokan pada pencapaian target kurikulum dengan muatan yang sangat banyak. Oleh karena itu, ada kecenderungan bagi guru untuk selalu mengukur keberhasilan program pembelajaran itu dilihat dari tercapainya target kurikulum. Namun ada kenyataan lain, yang hampir luput dari perhatian guru yaitu kurangnya kesempatan untuk mengecek apakah setiap anak sudah sampai pada tingkat pemahaman konsep?

Data inilah yang tidak banyak diketahui oleh guru, sehingga jika ada anak yang ternyata belum tuntas dalam memahami satu konsep pada topik tertentu sementara pembelajaran terus melangkah ke topik berikutnya yang lebih tinggi, maka sudah dapat dipastikan anak akan mengalami kesulitan untuk memahami topik yang baru itu.

Baca Juga :  Mengurai Konflik Menantu dan Mertua

Apabila situasi seperti ini berlangsung terus menerus, maka akan ada anak yang mengalami kesulitan yang bersifat kumulatif. Hal seperti ini sering terjadi pada pelajaran matematika dan bahasa. Sebagai contoh, seorang anak kelas satu Sekolah Dasar belum tuntas dalam  memahami konsep bilangan, pada saat itu guru sudah melangkah ke topik tentang penjumlahan, maka sudah dapat dipastikan akan mengalami ksesulitan dalam penjumlahan. Jika konsep penjumlahan belum dikuasai tetapi pembelajaran sudah melangkah ke topik tentang pengurangan, demikian  seterusnya. Anak tidak pernah memahami konsep dengan tuntas.  Masalah belajar seperti ini sangat banyak ditemukan di sekolah-sekolah kita.

Jefri Firmansyah
Guru SD Al Hikmah Surabaya Hobby olahraga, suka berpetualang Menyukai dunia parenting, pernah mengisi beberapa seminar parenting di sekolah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.