Memaknai Kembali Frasa Insyaallah

Memaknai Kembali Frasa Insyaallah

Memaknai Kembali Frasa Insyaallah
Tipografi Insyaallah (Ils: Pinterest)

Suaramuslim.net – Imbas dari lemahnya iman, kurangnya pemahaman dan sedikitnya daya juang dalam perencanaan dan aktivitas terkadang berbentuk penisbatan kehendakan Allah pada hal yang kurang dikehendaki oleh pribadi. Ungkapan “insyaallah” menjadi bagian dari apologi atas ketidakinginan yang dengan keterpaksaan, akhirnya diiyakan. Acap kali hanya menjadi ganti kata halus dari tidak. Sehingga pilihannya bukan menjadi iya atau tidak. Tetapi menjadi, iya atau insyaallah.

Akhirnya, frasa insyaallah mengalami pergeseran ruh makna yang awalnya penuh berkah, tereduksi menjadi negasi. Padahal pada kurun mulanya ketika Allah mengajarkan ungkapan insyaallah pada Rasulullah, ialah untuk mengajarkan ketauhidan.

Tercatat dalam suatu waktu para Kafir Quraisy mendatangi Rasulullah untuk menguji beliau mengenai cerita orang-orang yang tinggal di dalam gua dan tertidur selama ratusan tahun. Rasulullah lantas berjanji akan menjawab perihal itu esok hari, menunggu wahyu dari Allah. Hingga besok ternyata wahyu dari Allah tidak kunjung turun.

Maka ketika ditagih jawaban oleh Kafir Quraisy, kembali beliau menyatakan bahwa akan menjawab perihal itu esok hari. Dan sampai pergantian hari belum tampak wahyu yang turun. Begitu seterusnya hingga beberapa hari, sampai-sampai beliau dan kaum muslim hampirlah khawatir.

Setelah beberapa waktu datanglah Jibril membawa wahyu Allah sepenuh surat yaitu Surat Al-Kahf dan juga pemahaman untuk selalu insyaf akan keterlibatan Allah dalam semua aktivitas dengan ungkapan ringkas, “insyaallah”. Insyaallah, karena bahkan untuk mencoba menoleh ke kanan atau mengedipkan mata tidak bisa dilakukan tanpa sekehendak Allah. Insyaallah, karena apa-apa yang direncana tidak akan terlaksana tanpa kehendak Allah. Insyaallah, karena betapa pun kuat usaha dikerjakan, pada akhirnya Allah lah yang memberi putusan sekehendak-Nya.

Ungkapan sederhana berupa insyaallah menginsyafi hati yang kadung tinggi untuk kembali membumi. Agar insan teringat akan kesejatian sebagai makhluk bumi yang biasa dan tak sepi cela. Di waktu lain, insyaallah juga menghibur hati pada titik nadir. Ia melangitkan harapan hingga azimuth dengan mengingat Allah.

Insan yang utuh dalam memahami insyaallah, kemudian menjadi pribadi unik. Pribadi yang tidak hanyut dihempas pujian dan tidak goyah diterpa cobaan. Pribadi tangguh. Bagi mereka dalam satu gerak upaya tidak penting orang berkata apa, tidak penting panjangnya jalan dan beratnya ujian. Karena insyaallah, berarti jika Allah menghendaki, memahamkan mereka bahwa yang asasi hanyalah keridaan Allah semata. Karena selama Allah rida, selama Allah mengizinkan, maka tidak ada satupun yang dapat menghentikan mereka.

Tentunya hal ini janganlah menyebabkan kita terjebak pada pemahaman jabariah yang beranggapan bahwa semua telah diatur oleh Allah dan tidak usah manusia berikhtiar. Justru dengan memahami bahwa yang paling utama adalah meraih rida Allah dalam setiap gerak langkah, maka buah tangan haruslah yang terbaik. Tiap karya adalah hasil ketekunan yang paling konsisten, hasil renungan yang paling mendalam dan hasil keuletan yang paling rupawan. Memberikan yang terbaik, dan yang terbaik, dan yang terbaik kepada Yang Maha Baik hingga Ia rida.

Menariknya, frasa insyaallah tidak hanya menjadi pengingat akan pemahaman yang terkandung di dalamnya. Ia bukan hanya frasa yang tak apa jika tidak diucapkan selama kandungan maknanya dijaga dan diejawantahkan dalam keseharian. Ternyata frasa tersebut, sebatas diucap pun, punya sisi gaib sendiri.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah:

Sulaiman bin Dawud ‘Alaihimas Salam berkata, “Pada malam ini, aku benar-benar akan menggilir seratus orang isteri, sehingga setiap wanita akan melahirkan seorang anak yang berjihad di jalan Allah.” Lalu Malaikat pun berkata padanya, “Katakanlah InsyaAllah.” Namun ternyata ia tidak mengatakannya dan lupa. Kemudian ia pun menggilir pada malam itu, namun tak seorang pun dari mereka yang melahirkan, kecuali seorang wanita yang berbentuk setengah manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya ia mengatakan InsyaAllah niscaya ia tidak akan membatalkan sumpahnya, dan juga hajatnya akan terkabulkan.”

Di sini kita memahami frasa insyaallah bukan sebatas apologi tetapi sebuah pengingat akan keesaan Allah, akan kuasa-Nya yang meliputi segala. Frasa insyaallah juga menjadi pemompa semangat agar tetap teguh menggapai rida Allah dalam kerja-kerja besar hingga kecil. Insyaallah juga menjadi batas tipis antara harapan insani dan kenyataan ilahi.

Keengganan atau kealpaan bisa juga lupa dalam melisankan insyaallah, seketika menjadi batas itu. Batas tipis yang tidak dapat ditembus seorang nabi, seorang ahli ilmu, sekaligus raja yang kaya dan kuasa. Apalagi kita sebagai manusia biasa. Jarak yang tipis itu adalah insyaallah, Jika Allah Menghendaki.

Penulis: Dimas Pramudikto

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment