Tips Mengajar di Kelas dengan Tiga Suara

Suaramuslim.net – Apa yang membuat kita bisa menikmati alunan dari sebuah lagu? Apa pula yang membuat kita kadang tersulut emosi tatkala melihat adegan di sebuah film? Lalu apa yang kadang membuat orang tertidur pulas tatkala khutbah jum’at berlangsung?Simak ulasannya berikut ini.

Perbedaan suara yang berirama serta pelibatan emosi yang kuat tentu menjadi pembeda utama dari sebuah khutbah yang hanya tersampaikan dengan nada datar. Kepiawaian seorang dalam melantunkan sebuah lagu serta penghayatan emosi yang begitu kuat tentu menjadi magnet tersendiri untuk membuat orang jatuh cinta.

Nah, bagaimana jika kedua ilmu tersebut kita terapkan dalam pembelajaran kita di kelas? Mengajar dengan permainan nada suara yang berbeda serta pelibatan emosi yang akan menyita perhatian siswa.

Tentu begitu disayangkan bila ada seorang guru yang menerangkan suatu pelajaran dengan mulut berbusa bahkan suara yang sudah mulai parau, namun ternyata para siswa di depannya sama sekali tak menaruh respon kepadanya. Mereka lebih memilih untuk bermain sendiri, ngobrol dengan temannya atau tertidur pulas. Akibatnya yang kita sampaikan hanya berakhir pada kesia-siaan belaka.

Baca Juga :  Benarkan PR Termasuk Malpraktik Pendidikan Anak?

Otak kita terdiri dari milyaran sel otak yang disebut neuron. Setiap neuron saling berkomunikasi (menjalin hubungan) dengan memancarkan gelombang listrik. Gelombang listrik yang dikeluarkan oleh neuron dalam otak inilah yang disebut “gelombang otak” atau brainwave.

Gelombang otak bisa diukur dengan peralatan Electroencephalograph (EEG) yang diketahui bahwa frekuensi gelombang otak yang dihasilkan oleh neuron bervariasi antara 0-30 Hz dan digolongkan menjadi gelombang delta, theta, alpha dan beta.

Untuk menarik perhatian siswa kita dapat memanfaatkan gelombang beta, alpha dan theta dengan variasi suara yang kita miliki. Kondisi gelombang otak beta berada pada frekuensi 13-30 Hz. Pada kondisi ini pikiran dalam keadaan tajam dan terfokus. Dengan suara yang keras lagi lantang guru dapat menyentuh gelombang otak anak mencapai kondisi ini. Hal ini biasanya untuk menekankan sesuatu kepada siswa.

Kedua kondisi gelombang otak alpha berada pada frekuensi 8-13 Hz. Guru dapat memainkan suara dengan nada datar sambil sedikit bergurau untuk mendorong aliran kreativitas dan perasaan yang rileks.

Baca Juga :  Penjara Itu Bernama Sekolah

Ketiga kondisi gelombang theta berada pada frekuensi 4-8 Hz. Kondisi ini bisa digunakan untuk sarana meditasi atau peningkatan memori. Guru dapat menggunakan suara rendah namun penuh penegasan untuk benar-benar menyentuh ke dalam hati siswa.

Sedangkan kondisi gelombang delta tidak digunakan karena ini kondisi saat orang tertidur pulas. Maka dengan memainkan tiga suara tersebut mudah-mudahan pembelajaran kita kian bermakna. Wallahu a’lam bishawab.

 

 Kontributor: Santy Nur Fajarviana
Editor: Oki Aryono

*Pengajar di MIT Bakti Ibu Madiun

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.