Mengenal Diri di Arafah 

Mengenal Diri di Arafah 

Jamaah Haji Indonesia Mendapatkan Pelayanan Istimewa di Arab Saudi
Suasana jamaah haji seluruh dunia berkumpul di Padang Arafah (Foto: Istimewa).

Suaramuslim.net – Kemarin pada saat jutaan manusia berkumpul di sini, Arafah. Ritual rutin yang wajib ditunaikan bagi yang telah mengazamkan niat untuk berhaji. Suatau perkara yang menjadi inti dari seluruh rangkaian ibadah dan merupakan rukun Islam ke lima tersebut.

Tanpa berwuquf di padang Arafah, seorang tidak bisa dikatakan menunaikan haji. Tak ayal jika hajatan umat Islam yang hanya diselenggarakan setahun sekali ini, menjadi puncak ibadah yang apabila ia terlewatkan, maka hilanglah kesempatan berhajinya di tahun itu.

   (الحج عرفة (رواه البخاري ومسلم

“Haji adalah (berwukuf) di Arafah”. (HR. Bukhari – Muslim)

Wuquf berarti berhenti. Berakar kata wa-qa-fa yang secara bahasa memilki arti, berdiri setelah duduk, berhenti setelah berjalan, diam setelah bergerak dst. – kamus Al Ma’ani. Semakna dengan kata wuquf ada kata waqaf dalam ilmu tajwid yang artinya berhenti membaca.

Dalam ilmu muamalah Waqaf berarti diamnya harta untuk tujuan sedekah. Maka sebagai turunan dari arti kata-kata itu semua, wuquf di Arafah berarti berada di tanah Arafah di tanggal 9 Dzulhijjah dari sejak tergelincirnya matahari hingga terbitnya fajar tanggal 10 Dzulhijjah.

Jika kita perhatikan, seluruh prosesi haji sejak persiapan di daerah asal, perjalanan menuju Makkah, juga ketika Ihram dari miqat, Thawaf, hingga Sa’i dan melempar Jumrah semuanya adalah proses pergerakan. Maka ketika seluruh jamaah haji sedunia berada di Arafah, seakan-akan hal itu menggambarkan sebuah perhentian dan kediaman setelah pergerakan, meskipun pada hakikatnya jamaah haji di sana bukan lantas mematung dan tak bergerak sama sekali.

Tidak hanya dalam ibadah haji, dalam ritual shalat pun kita dituntut ber-tuma’ninah di sela-sela pergerakannya. Yang artinya juga diam atau “anteng”. Dalam puasa, kita menghentikan makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari sehingga lambung dan sebagian tubuh beristirahat setelah aktifitas atau pergerakan yang panjang.

Lebih jauh lagi kita renungkan diri kita, setelah seharian bekerja dan beraktifitas, lalu kita diamkan tubuh kita saat kita beristirahat di waktu malam. Seluruh pergerakan alam ini pun suatu saat akan terhenti. Kesibukan dunia yang sering melalaikan kita ini pada saatnya kelak akan berakhir juga.

Itulah sunnatullah di alam semesta ini. Ketetapan Allah swt. Yang Maha Bijaksana untuk kehidupan ini dan setiap kita, mau atau tidak, akan tunduk pada ketetapan-Nya.

Haji sebagai salah satu perintah syariat Allah yang apabila kita renungkan merupakan sebuah manifestasi kecil kehidupan ini. Wujud keseimbangan antar gerak dan diam yang merupakan rangkuman singkat seluruh kehidupan. Maka di sinilah kami saat ini, saat jutaan manusia memutihkan padang Arafah untuk kembali pada fithrah penciptaan dan menyambut panggilan-Nya.

Ya! Di Arafah kami berada saat ini. Berwuquf sebagai puncak ibadah haji yang agung. Konon Arafah biasa disebut dengan kata jama’, Arafaat. Berasal dari kata arifa – ya’rifu Irfaanan, yang berarti mengetahui atau mengenal.

Al Imam al Fakhrur Razi dalm At tafsir al Kabir membagi asal muasal kata Arafah ini dengan 3 asal; dari Al Ma’rifah (pengetahuan), Al I’tiraf (pengakuan) dan Al ‘Urf (wewangian). Maka di saat kami berkumpul di sini dalam kontemplasi, mencoba saling mengenal satu sama lainnya, berinteraksi dengan hamba-hamba sang Khaliq dari penjuru dunia.

Dengan satu tujuan yang sama, pakaian yang sama, dan seruan yang sama. Sama-sama bersimpuh mengakui dan mengenal kehinaan diri lalu berharap ampunan dosa-dosa di hari dimana Allah tak membebaskan hamba-hambanya dari api neraka melebihi banyaknya Dia membebaskan mereka di hari ini.

Dengan bekal ibadah dan istighfar seadanya, kami berharap termasuk dari yang mendapat pembebasan dari api neraka di hari ini.

إلهي لست للفردوس اهلا ### ولا اقوى على النار الجحيم

فهب لي توبة واغفر ذنوبي ### فإنك غافر الذنب العظيم

Penulis: Imam Gazali*
Editor: Oki Aryono

*Ditulis di Pojok tafakkur di sudut Arafah, 9 Dzhulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment