Memahami Khilafah Sesuai Contoh Nabi

Suaramuslim.net – Dari sekian banyak tokoh paling berpengaruh di dunia, Michael H. Hart dalam karyanya Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah memosisikan Nabi Muhammad Saw di urutan pertama sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia dalam mengubah tatanan akidah, akhlak, budi pekerti, serta membumikan welas asih terhadap sesama.

Bermula dari wahyu Allah Swt yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.” (QS Al-Alaq: 1) Nabi Muhammad Saw memulai misinya, menyebarkan agama Islam, menyempurnakan akhlak, hingga menebarkan benih welas asih terhadap kaum fakir, miskin, dan mustadh’afin (kaum lemah). Yang pada akhirnya, Rasulullah mendapatkan simpati dari para pengikutnya, yang rata-rata dari mereka adalah para budak juga orang-orang yang lemah.

Tidak sedikit pula masyarakat suku Quraisy, Yahudi, dan Nasrani yang menentang ajaran Nabi Saw. Mereka, secara terang-terangan memusuhi bahkan meneror beliau juga para pengikutnya yang meninggalkan agama nenek moyangnya. Tentu hal ini menjadi fenomena yang sangat menyedot perhatian suku Quraisy, di mana ajaran mereka teralihkan dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Saw.

Tetapi di balik serangan-serangan yang dilancarkan oleh suku Quraisy terhadap Nabi Saw, beliau tetap teguh pendirian, tidak gentar terhadap ancaman yang dialamatkan padanya, serta selalu istiqamah dalam memperjuangan kalimat Laa ilaha illallah di muka bumi ini.

Baca Juga :  Urgensi Menata Hati di Jalan Dakwah

Rasulullah paham betul dengan risiko yang akan dihadapinya ketika mendakwahkan agama Islam. Selalu ada orang-orang yang mencemoohnya, menyebutnya “orang gila, tak waras, penyihir” dan kata-kata kotor lainnya. Bahkan ada yang mencoba untuk membunuhnya. Dalam hal ini, ada kisah saat Rasulullah “disakiti” secara langsung oleh orang-orang Yahudi, mengetahui akan hal itu, Aisyah marah, Rasulullah menegurnya seperti dikisahkan dalam hadis Imam Muslim:

Suatu hari, ada rombongan orang-orang Yahudi menghadap dan sengaja memberi “salam” kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan mengucapkan, “Assamu ‘alaikum!” Mereka sengaja mengucapkan demikian dan bukan “Assalamu ‘alaikum” –yang berarti “Semoga keselamatan bagimu”– untuk  menyumpahi Nabi secara terselubung. “Assamu ‘alaikum” artinya “Kematian bagimu”.

Aisyah yang bersama Nabi kala itu lantas mengatakan, “Bal ‘alaikum wal la’nah” (Sebaliknya, bagimulah kematian dan laknat). Mendengar hal itu, Nabi pun menegur, “Aisyah, Allah menyukai kehalusan dalam segala hal”.

Apa Anda tidak mendengar ucapan mereka”? Jawab Aisyah.

Baca Juga :  Kisah Heroik Para Sahabat dalam Perang Badar

Kan aku sudah menjawab ‘Wa’alaikum!’ (Bagimu juga), balas Nabi.

Begitu bijaksana dan amat mulia akhlak Nabi Muhammad dalam menyikapi hal tersebut, maka sangat benar jika perumpamaan akhlak Nabi adalah Al Quran. Sifat shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah yang ada pada diri Nabi menjadikannya sebagai manusia yang sukses, baik sukses dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Maka tak heran, jika Hart memosisikan Nabi pada peringkat nomor satu dalam daftar seratus tokoh yang mempunyai pengaruh besar terhadap sejarah manusia.

Sifat Humanis Nabi Muhammad

Terlepas dari rangking-rangkingan yang dibuat orang, menurut saya keistimewaan Nabi justru terletak pada sisi kemanusiaannya, beliau adalah sosok yang manusiawi, yang paling mengerti dan menghargai manusia.

Nabi Saw mengakui dirinya sebagai manusia biasa yang beribadah sebagai hamba dan hidup bergaul sebagai anggota masyarakat. Berpuasa dan tidak berpuasa. Ke masjid dan ke pasar. Makan-minum dan menikah meski tidak berlebihan. Tertawa meski tidak pernah ngakak. Menangis meski tidak tersedu-sedu.

Nabi Muhammad menambal sendiri terompahnya yang putus dan menjahit pakaiannya yang robek. Nabi membantu urusan rumah tangga dan belanja ke pasar. Nabi memanjakan, bertengkar, dan bercanda dengan istri-istrinya, hingga menonton kesenian daerah dengan Aisyah. Kemudian Nabi juga bermain-main dengan anak kecil, sebagai kuda-kudaan bagi cucu-cucunya, Hasan dan Husain. Nabi pun pernah mempersingkat salatnya ketika mendengar ada anak menangis.

Baca Juga :  Kedermawanan Rasulullah SAW

Nabi pernah menegur sahabatnya yang mengimami salat dengan bacaan yang terlalu panjang, kemudian ia mengatakan bahwa makmum ada yang kuat dan lemah, mereka punya berbagai kepentingan, ada yang memiliki waktu luang, juga ada yang terburu-buru, dan lain sebagainya.

Nabi pernah “mentaziahi” sahabatnya yang burungnya mati dan mendoakan agar segera mendapat pengganti. Nabi pernah menggoda wanita tua yang ingin masuk surga dengan mengakatan “di surga tidak ada orang tua”. Menggoda lelaki yang ingin berperang, dan meminta kendaraan unta, dan beliau pun mengatakan “yang ada hanya anak unta”. Nabi bercanda dengan ucapan benar.

Oleh karenanya, Nabi Muhammad di mata Gus Mus adalah sosok yang memiliki kedalaman ilmu yang mendorongnya memiliki kedalaman amal, lalu keduanya memijarkan takwa pada hidupnya, dan dengan ketakwaan itu memancarkan akhlak karimah dan kebijaksanaan-kebijaksanaan kepada seluruh umat manusia.

Shallu alan Nabi Muhammad.

Kontributor: Rusydan Fauzi
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.