Mengubah Pola Pikir pada Allah
Ilustrasi mindset (Ils: Nick Staab/Dribbble)

Suaramuslim.net – Paris Hilton adalah anak miliuner pemilik jaringan Hotel Hilton. Dibesarkan di lingkungan kaya, ia pernah menganggap orang-orang lain juga kaya seperti dirinya. Seorang artis yang buta sejak lahir juga pernah menyatakan bahwa ia mengira dunia ini memang gelap dan semua orang merasakan hal yang sama.

Mungkin aneh buat kita, tetapi itulah yang terjadi, dan hal itu menunjukkan perspektif atau pola pikir seseorang. Ada pun pola pikir seseorang ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuannya. Kita menganggap pola pikir mereka salah, karena kita mengalami pengalaman dan pengetahuan yang berbeda dengan orang lain. Suatu fenomena dan objek yang sama, dapat dipersepsikan berbeda oleh orang yang berbeda, karena otak memiliki pengalaman dan pengetahuan yang berbeda.

Boleh jadi kita pun sering kali memiliki pola pikir yang salah, terutama ketika kita masih kecil atau remaja. Seorang anak kecil yang disuruh salat dapat jadi iri terhadap ibunya yang berhalangan untuk salat, “Enak ya Mama, ndak salat…” Pemikiran seperti ini muncul karena berdasarkan pengalamannya, salat itu tidak asyik bahkan mengurangi waktu mainnya, pengetahuannya masih terbatas tentang manfaat salat. Oleh karena itu, perlu merubah pola pikirnya, kita dapat mengatakan kepadanya, “Wah, ya malah rugi lo Mama, dik, kehilangan kesempatan dapat pahala, ndak dapat berdoa sama Allah subhanahu wa ta’ala.

Baca Juga :  Berjiwa Tenang dan Mampu Menenangkan

Pola pikir yang salah sering kali juga sangat ekstrem, misalnya menganggap Tuhan kejam, karena pengalaman hidupnya pahit. Tuhan seperti diktator atau polisi yang mengharuskan manusia mengikuti perintah-perintah yang sudah diberikan dan mengawasi dengan ketat sehingga ketika kita melanggar, maka yang menanti kita sebagai balasannya adalah neraka jahanam.

Padahal yang terjadi adalah sebaliknya, Allah subhanahu wa ta’ala Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebagai berikut:

Sejumlah tawanan dibawa kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara tahanan-tahanan itu terdapat seorang perempuan yang berlari-lari kebingungan mencari bayinya. Setelah menemukan bayinya, ia segera mengangkat, menggendong dan menyusuinya. Nabi menoleh kepada sahabat dan bersabda, “Apakah kalian dapat membayangkan perempuan itu melemparkan bayinya ke api?” Ketika mereka menjawab “Tidak,” Nabi berkata, “Cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya lebih besar daripada cinta perempuan itu kepada anaknya.”’ (HR Bukhari)

Salam terindah untuk selalu berbaik sangka terhadap Sang Pencipta, atas apa yang dihadapkan dan dikaruniakan-Nya kepada kita.

Baca Juga :  Filosofi Hidup: Setiap Kita Akan Menyesal

Penulis: Dr Gancar C. Premananto*

*Koordinator Program Studi Magister Manajemen FEB Universitas Airlangga Surabaya

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.