Gudeg Jogja Ibu Tinah. Foto: instagram/winzeat

Suaramuslim.net – Warga Yogyakarta baru saja berduka sebab mereka telah kehilangan sosok bernama Mbah Lindu. Nenek bernama lengkap Biyem Setyo Utomo ini adalah seorang penjual gudeg yang sudah eksis sejak zaman penjajahan atau sekitar 87 tahun silam.

Mbah Lindu yang begitu populer di kalangan pecinta kuliner ini menghembuskan nafas terakhir pada 12 Juli kemarin, tepat di usianya yang ke-100 tahun. Kabar meninggalnya Mbah Lindu juga disambut duka mendalam oleh para warganet. Ucapan belasungkawa tak hentinya mengalir di linimasa.

Mbah Lindu Sang Maestro Gudeg. Foto: instagram/Jogjaku

Bagaimana sebenarnya awal mula kemunculan gudeg ini sampai bisa menjadi makanan khas Yogyakarta?

Kabarnya gudeg sudah ada sejak masa kerajaan atau sekitar abad ke-15, lho. Gudeg adalah masakan tradisional Jawa dari Yogyakarta dan Jawa Tengah, Indonesia. Dalam perkembangannya, masyarakat mengenal gudeg terkenal berasal dari Yogyakarta sehingga membuat kota ini dikenal dengan nama Kota Gudeg.

Sejarah gudeg di Yogyakarta dimulai bersamaan dengan dibangunnya kerajaan Mataram Islam di alas Mentaok yang ada di daerah Kotagede pada sekitar tahun 1500-an.

Saat hendak mendirikan Kesultanan Mataram Islam, Panembahan Senopati harus membuka hutan belantara. Para prajurit dan kaum pekerja bersama-sama membabat hutan yang kelak bernama Yogyakarta ini. Ternyata, di hutan ini banyak terdapat pohon nangka dan pohon kelapa.

Nangka muda dan kelapa itu kemudian diolah untuk santapan bersama. Nangka muda dimasak dengan santan dari kelapa ditambah gula aren, berbagai macam bumbu, serta rempah-rempah, di dalam kuali besar yang diaduk-aduk dengan menggunakan sendok besar mirip dayung.

Supaya merata, dikutip dari buku Kuliner Yogyakarta: Pantas Dikenang Sepanjang Masa (2017) suntingan Murdijati Gardjito dan kawan-kawan, masakan itu diaduk dengan memutar-mutar sendok besar tersebut. Maka, tercetuslah istilah hangudeg yang berarti “diaduk-aduk” sehingga makanan tersebut pada akhirnya dikenal dengan sebutan gudeg.

Gudeg sejatinya bukan berasal dari kerajaan tapi berasal dari masyarakat. Dikarenakan proses memasaknya yang lama, pada abad 19 belum banyak yang berjualan gudeg. Gudeg mulai populer dan banyak diperdagangkan pada tahun 1940-an saat Presiden Sukarno membangun Universitas Gajah Mada (UGM) hingga sekarang.

Melansir dari laman njogja.co.id, Gudeg terbuat dari nangka muda mentah (Jawa: gori). Direbus selama beberapa jam dengan gula aren, dan santan rempah-rempah tambahan termasuk bawang putih, bawang merah, kemiri, biji ketumbar, lengkuas, daun salam, dan daun jati, yang memberikan warna coklat kemerahan ke masakan. Dengan berbagai campuran bumbu tersebut, gudeg menjadi terasa manis di lidah dan memiliki rasa yang khas dan enak sesuai dengan selera masyarakat Jawa pada umumnya. Hal ini sering digambarkan sebagai “nangka hijau rebus yang manis.”

Disajikan apa adanya, gudeg dapat dianggap sebagai makanan vegetarian, karena hanya terdiri dari nangka mentah dan santan. Namun, gudeg umumnya disajikan dengan telur atau ayam. Gudeg disajikan dengan nasi kukus putih, ayam sebagai opor ayam atau ayam goreng, telur pindang, opor telur atau telur sekadar rebus, tahu dan atau tempe, dan sambel goreng krecek sup yang terbuat dari kulit sapi renyah.

Ada beberapa jenis gudeg; kering, basah, khas Yogyakarta, khas Solo dan khas Jawa Timur. Gudeg kering hanya memiliki sedikit santan sehingga memiliki sedikit saus sedangkan gudeg basah mempunyai banyak santan.

Gudeg paling umum berasal dari Yogyakarta, dan biasanya lebih manis, lebih kering dan berwarna kemerahan karena penambahan daun jati sebagai pewarna. Gudeg Solo dari kota Surakarta lebih berair dan pekat, dengan banyak santan, dan berwarna keputihan karena daun jati umumnya tidak ditambahkan.

Gudeg Yogyakarta biasanya disebut “gudeg merah” sementara gudeg Solo juga disebut “gudeg putih.” Gudeg khas Jawa Timur memiliki rasa lebih pedas dan lebih panas dibandingkan dengan gudeg Yogyakarta, yang manis.

Keunikan gudeg

Awalnya Gudeg yang dikenal masyarakat Indonesia khususnya Yogyakarta jaman dahulu adalah Gudeg basah. Seiring perkembangan jaman, kebutuhan Gudeg untuk oleh-oleh yang semakin berkembang juga seirama dengan munculnya Gudeg kering.

Gudeg kering baru ditemukan sekitar enam dasawarsa yang lalu. Sifatnya yang kering membuat gudeg tersebut tahan lama dan sering dimanfaatkan sebagai oleh-oleh yang tentu saja berdampak dengan munculnya industri rumahan yang menyajikan oleh-oleh Gudeg khas Yogyakarta.

Keunikan lainnya dari masakan Gudeg adalah kemasannya. Apabila kamu berbelanja Gudeg sebagai makanan khas Yogyakarta, tidak jarang Gudeg tersebut dikemas dengan menggunakan besek. Besek adalah bungkus dari anyaman bambu yang dibentuk sedemikian rupa berbentuk segi empat dan dapat digunakan sebagai tempat makanan.

Selain itu Gudeg juga sering dikemas menggunakan kendil yaitu berupa wadah yang terbuat dari tanah liat. Kemasan tersebut biasanya banyak ditemukan pada para penjual gudeg yang telah terkenal di Yogyakarta seperti Gudeg Wijilan. Wijilan memang merupakan sebuah areal yang terkenal dengan penjual gudegnya. Di sinilah kita bisa menemui gudeg legendaris Yu Djum dan penjual gudeg lainnya. Ada juga gudeg pawon di Umbulharjo Yogyakarta yang tempat jualannya di pawon (dapur).

Mengapa kebanyakan Gudeg Yogyakarta dijual saat malam hingga Subuh?

Beberapa Kedai Gudeg Yogyakarta memang bisa kita temui saat siang hari, namun tahukah kamu, ternyata tipikal kedai gudeg Yogyakarta legendaris biasanya buka saat malam hari hingga Subuh. Waktu ini konon memiliki filosofi tersendiri bagi para pemilik kedai gudeg legendaris di Jogja.

Orang Jawa mempunyai filosofi menikmati sesuatu paling bisa dilakukan di malam hari, mereka biasa menyebutnya “mat matan.” Istilah mat matan ini dalam Bahasa Jawa artinya sesuatu secara santai, perlahan-lahan, dengan perasaan.

Malam merupakan waktu yang cocok untuk bersantai bagi orang Yogyakarta, sebab saat pagi kebanyakan orang sibuk bekerja atau melakukan kegiatan. Tak ayal, gudeg Yogyakarta yang legendaris biasanya akan membuka kedai saat malam hari bahkan hingga Subuh menyingsing.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.