Meniti Jalan Makrifatullah

27
Meniti Jalan Makrifatullah

Suaramuslim.net – Apa yang terucap dari lisan dan semua yang terungkap dalam sikap dan perbuatan kita, bergantung pengetahuan dan ilmu yang kita ketahui. Seseorang menjadi baik karena ilmu yang dia miliki. Seseorang menjadi buruk, karena kebodohannya atau tak punya ilmu.

Bila baik dan buruk itu dalam konteks urusan dunia, maka timbangan ilmu yang dimaksud juga adalah tentang ilmu dunia. Bila baik dan buruk yang dimaksud dalam tolak ukur ketakwaan atau mengenai penilaian Allah subhanahu wa ta’ala, maka ilmu yang dimaksud adalah ilmu untuk mengenal Allah.

-Advertisement-

Ilmu untuk mengenal Allah atau yang kita kenal dengan makrifatullah,  yang akan mengantarkan kita untuk semakin mengetahui sifat-sifat Allah dan hikmah yang terkandung di balik setiap kejadian dan perbuatan yang tampak di muka bumi ini. Bila kita sudah mengenal Allah, maka seluruh jiwa kita akan tunduk, takut, berserah, dan tenteram bersamaan dengan makrifatnya hati kepada keagungan Allah subhanahu wa ta’ala.

Kadang hati belum tenteram karena masih terlukis bayang-bayang alam dunia. Masih ada rasa cinta terhadap dunia, merasa sedih bila kehilangan dunia atau sesekali menyesali takdir yang telah Allah gariskan. Kita gagal melihat kekuatan takdir Allah subhanahu wa ta’ala di balik kejadian yang menimpa.

Baca Juga :  Pekerjaan Bisa Ditiru, Tapi Rejeki Tidak

Berbekal cahaya ilmu makrifatullah kita harus senantiasa melatih hati melihat takdir, pengaturan, kehendak, kebijaksanaan dan kemurahan Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap benda-benda dan kejadian yang muncul pada alam. Karena tidak ada kenikmatan yang lebih nikmat di dunia ini, melebihi hati yang sanggup memandang Allah subhanahu wa ta’ala lewat keagungan asma dan sifat-sifat-Nya. Maka tataplah alam dan kehidupan ini dengan kacamata iman yang murni. Niscaya kita akan memperoleh kesimpulan bahwa alam ini berdiri karena Allah.

Seseorang yang ingin buah makrifatullahnya baik dan manis, salah satu syaratnya ia harus menanamkan dirinya ke dalam tanah ketawadhuan (rendah hati). Ia harus mengubur syahwat terhadap kedudukan, penghormatan, dan pengakuan manusia.

Tenteramlah di kedudukan (maqam) apapun yang Allah berikan kepada kita hari ini. Hati ini harus sepi dari keinginan menjadi populer dan terkenal. Cukupkan diri hanya ingin dianggap Allah dan tidak repot dengan anggapan manusia. Dan saat ia berada dalam puncak amal, ia juga harus tetap tawadhu’ dan tak bangga dengan amalnya. Ia tetap menganggap Nur makrifat yang ia peroleh adalah keruniaNya semata.

Baca Juga :  Nisab, Nasib, Nasab serta Do'a

Imam Ibn Ajibah dalam syarahnya menjelaskan, ”Barangsiapa yang menyimpan makrifat kepada Tuhan dalam jiwanya, maka dia tidak akan mencari selain Dia. Dan barangsiapa menyimpan dalam jiwanya ketidaktahuan kepada Tuhan, maka dia akan bergantung kepada selain Dia”.

Perbuatan-perbuatan buruk kita sejatinya mencerminkan kedudukan kita di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Setiap orang yang jiwanya diterangi dengan cahaya ilahi pasti membekas pada anggota badan dan perbuatan dzahirnya.

Maka sederhananya, kita bukan orang bodoh selama kita berada dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya kita adalah manusia bodoh selama kepintaran kita semakin menjauhkan dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu a’lam bishowab.

Kontributor: Santy Nur Fajarviana*
Editor: Oki Aryono

*Pengajar di MIT Bakti Ibu Kota Madiun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.