Menjadi Ayah yang Menyenangkan

Menjadi Ayah yang Menyenangkan

Sensasi Sentuhan Ayah
Potret keluarga Misbahul Huda. (Dok. Pribadi)

Suaramuslim.net – Banyak anak -juga istri- yang justru merasa kesal saat ayah atau suami pulang. Mau enaknya sendiri, arogan, dan menyebalkan untuk anak-anak mereka. Ketika ada di rumah seringnya marah-marah, jauh dari menyenangkan. Ayah justru menjadi sosok yang menyebalkan saat berada di rumah.

Mungkin sebagian bapak beralasan: “Kami sudah capek 6 hari bekerja selama 8 jam, ditambah 2 jam lebih macet di perjalanan, maka kami minta dispensasi dan pengertian selama ada di rumah. Kami kan butuh istirahat.” Sepertinya pembenaran ini masuk akal.

Tapi sadarlah wahai para Ayah, ingatlah komitmen Anda saat berkeluarga. Bukankah kita –kaum lelaki– sudah berkomitmen untuk membangun keluarga? Pahamilah arti membangun, yaitu menciptakannya, membuat landasannya dan merakitnya setahap demi setahap. Ketika bangunan itu sudah jadi, maka tugas bukan berarti berhenti, tapi ada kewajiban untuk merawatnya.

Ingatlah pesan Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya pada keluargamu ada hak yang wajib ditunaikan.”

Berarti keluarga, termasuk anak-anak, boleh menuntut hak mereka kepada para ayah.

Menjadi Ayah Baru

Mulailah menjadi “ayah baru” yang menyenangkan. Luangkan waktumu yang singkat untuk membuat dunia mereka ceria. Luruskanlah sikap dengan penuh kasih sayang setiap kesalahan mereka. Buanglah perilaku menyebalkan dari pribadi kita. Caranya, marilah kita mengingat dan mencoba beberapa hal berikut.

Ketika benih mulai tumbuh dalam rahim, sadari kita lah ayah dan ibu yang diberi amanah oleh Allah. Bukan guru apalagi pembantu rumah tangga.

Karena itulah, sebagai pendidik, ayah harus punya waktu untuk mengenali orang-orang yang akan didiknya: istri dan anak-anaknya. Mengenal manusia tidak mudah dan yang lebih tidak mudah lagi adalah bagi ayah untuk mengenali dirinya sendiri.

Parenting all about wiring.” Parenting cenderung diturun temurunkan tidak sengaja. Karena otak akan membentuk kebiasaan dari pengalaman yang diperoleh seorang anak. Apa yang biasa diterima seorang anak, maka itulah yang akan dilakukannya nanti ketika menjadi orang tua.

Anak yang biasa dicubit akan menjadi ibu pencubit. Anak yang biasa dipukul akan menjadi ayah penggampar. Yang dulu dibesarkan dengan pukulan sapu lidi atau ikat pinggang akan mengenakan hal yang sama pada anaknya. Terlepas dari tingginya jenjang pendidikan dan pangkat yang diraihnya.

Begitu juga ayah yang dingin, diam, berjarak dan jarang menyapa, akan minta dan mengharapkan istrinya menjadi kurir penyampai semua pesan. Kecuali mereka yang bersungguh-sungguh berjuang mengalahkan dirinya sendiri, untuk tidak mengulang sejarah! Lahir sebagai ayah baru.

Semua kita tanpa kecuali, punya sejarah kita masing masing: ayah atau pun ibu. Sebagian bahkan memanggul beban sampah emosi yang sangat banyak dan berat yang tertimbun di bawah sadarnya. Tapi kita telah memilih menjadi ayah ibu. Pilihan selalu punya konsekuensi. Dan konsekuensi itulah yang harus kita tanggung sekarang ini.

Besok pagi mulailah menyapa pendek anak Anda, walau terasa janggal karena tidak biasa. Belajarlah sekarang menebak perasaan anak dengan membaca bahasa tubuhnya. Ubahlah dari perkataan biasa: Sudah bangun? Sudah siap belum? Apakah kamu sudah salat? Tugasmu sudah kau kerjakan belum? Gantilah dengan kosa kata perasaan, yang terdiri 4-8 kata baru: “Ayah melihat kamu tampak segar pagi ini.”

Contoh lain, “Bersemangat sekali kamu pagi ini! Ada apa nih?”

Perubahan itu tentu tidak mudah, perlu proses. Semua akan menggeliat, untuk kemudian akan terbiasa. Siap menjalani dan mengalami berbagai reaksi dari sebuah proses perubahan.

Dalam hatinya anak tentu bertanya: “Hhh.. Ayahku bukan ya?” “Apa yang terjadi pada ayahku?” “Mimpi apa ya dia semalam?” dan berjuta dugaan lainnya. Tapi dia pasti menjawab dengan hati yang mulai merekah. Rasakan pelan-pelah hasilnya. Mari berjuang mengalahkan diri sendiri. Lahirlah sebagai “ayah baru” menghadapi tantangan baru.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment