Bermain Dadukah Tuhan?

Suaramuslim.net – Mengapa harus bingung dengan kekurangan dan kelemahan yang kita miliki, apabila kita juga memiliki kelebihan dalam aspek lainnya. Di sisi lain, kita juga tidak dapat memandang rendah orang lain karena kelemahan dan kekurangan mereka, mengingat kelebihan yang pasti mereka miliki.

Dari “Be Your Self” karya Syekh Aidh bin Abdullah al Qarni: ’Atha` bin Rabah adalah orang yang pandai dalam urusan dunia pada masanya, walaupun ia adalah budak berkulit hitam, berhidung pesek, dan lumpuh. Bahkan para Nabi yang mulia dulunya adalah para penggembala. Nabi Dawud ‘alaihissalam hanyalah seorang tukang besi, Nabi Zakaria as seorang tukang kayu, dan Nabi Idris as adalah seorang penjahit. Kendati beberapa kondisi beliau memiliki ‘kekurangan’ di pandangan orang awam, beliau adalah manusia pilihan dan terbaik yang tidak lepas mengingat Tuhannya.

Kisah indah yang berkaitan dengan hal ini adalah mengenai Nabi Isa as yang sedang melakukan perjalanan bersama para sahabatnya, Hawariyyun. Di perjalanan, mereka menjumpai seonggok bangkai anjing yang sudah hancur, penuh dengan belatung dengan bau yang sangat menyengat. Para sahabat tentu saja menutup hidungnya, dan mencela kondisi bangkai tersebut. Beberapa mengomentari bentuknya yang menjijikkan bila dipandang mata, dan beberapa yang lainnya mengomentari baunya yang sangat menusuk hidung. Namun berbeda dengan Isa as., di tengah ramainya komentar negatif tersebut, beliau as. mengatakan keindahan yang muncul di pandangannya, yaitu pandangan yang lebih berfokus pada nilai positif. “Lihatlah gigi anjing itu, gigi yang putih bersih sekali”, ungkapnya.

Baca Juga :  Berjiwa Tenang dan Mampu Menenangkan

Menjadikan Hidup itu Indah

Hidup tergantung pada bagaimana cara kita mempersepsikan hidup. Suatu hal dan permasalahan yang sama dapat dipersepsikan berbeda oleh orang yang berbeda. Sebagai contoh, mencintai dapat dianggap sebagai hal yang dapat mencerahkan dan menyemangati jiwa. Namun bagi orang lain, mencintai dapat menjadi suatu penderitaan. Sebaliknya, putus cinta, bagi seseorang dapat menjadi suatu hal yang menyengsarakan, melangutkan jiwa, dan mengharubirukan suasana. Namun bagi orang lain, putus cinta malah membahagiakannya, karena artinya ia mendapat petunjuk dari-Nya bahwa seseorang yang dicintainya tidak baik bagi masa depannya.

Dengan demikian, hidup adalah bergantung dari bagaimana kita memandang sesuatu dan hal tersebut juga akan berkaitan dengan bagaimana cara kita memandang Tuhan yang telah menghendaki sesuatu terjadi. Hadits yang berkaitan dengan hal ini diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

Rasulullah saw. bersabda: ‘Allah ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku…’.” (HR Muslim)

Bila persangkaan kita terhadap Tuhan dan hidup negatif, maka negatiflah persepsi kita atas apapun yang dihadirkan-Nya. Semua tergantung pada pola pikir kita. Pola pikir kitalah yang menjadikan sesuatu ‘tampak’ hanya sebagai sesuatu yang baik ataupun buruk. Manusia seringkali mengaktifkan persepsi selektifnya. Sehingga hanya mau menerima informasi sesuai dengan yang sejalan dengan pola pikirnya, dan menolak yang tidak sesuai. Dan bila sudah membenci terhadap sesuatu objek, ia tidak mampu melihat kebaikan objek tersebut, dan sebaliknya bila sudah mencinta, maka akan sulit untuk melihat keburukkannya.

Baca Juga :  Petuah Singkat dari Nabi Muhammad

Semoga kita terhindar dari pola pikir negatif, dan dimampukan berpikir positif. Aamiin. Salam terindah untuk memperindah persepsi dan persangkaan kita kepada Pencipta kita.

Penulis: Dr Gancar C. Premananto*

*Koordinator Program Studi Magister Manajemen FEB Universitas Airlangga Surabaya

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.