Menyelaraskan Sakinah, Mawaddah dan Rahmah

Suaramuslim.net – Menjadi keluarga samara (sakinah mawaddah wa rahmah) adalah impian setiap pasangan yang telah menikah. Doa itu pula yang sering diucapkan para tamu undangan, kerabat juga sahabat sebagai ucapan singkat ketika bersalaman dengan kedua mempelai.

Sakinah, mawaddah dan rahmah harus berjalan selaras dalam rumah tangga. Ia bagaikan segitiga sama sisi yang harus memiliki ukuran panjang yang sama. Apabila kita hanya cenderung pada salah satunya maka kehidupan berumah tangga itu akan berjalan kurang harmonis.

Untuk menyelaraskan ketiganya tentu kita butuh ilmu yang terus diupgrade, doa yang tak pernah putus untuk dipanjatkan serta kelapangan hati untuk menerima segala kekurangan yang dimiliki oleh pasangan dan kemauan untuk berbenah menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari.

Banyak para ulama’ menyebutkan bahwa sakinah adalah sesuatu yang pasti hadir pada sebuah perjodohan. Bukankah perjodohan itu memang penyatuan dua kutub yang berbeda, yang saling bertolak belakang, menuju titik tengah? Panas yang bergelora, dingin yang membekukan, akan bertemu dalam titik tertentu, yakni hangat.

Bukankah dalam hidup, sesungguhnya kehangatan itu yang kita dambakan? Meski keinginan dan tabiat manusia seringkali mengajak terbang ke alam ekstrem. Misalnya, ketika seharian kita diterpa panas maka yang terbetik di pikiran kita adalah segelas air dingin yang seakan ingin kita habiskan dalam sekali tenggak.

Demikian pula saat dingin menerpa, gemeletuk di barisan geligi, ngilu-ngilu yang membuat beku, sepertinya harus bertemu dengan panas. Maka secangkir air mendidih pun sepertinya akan mampu kita asup tanpa berpikir panjang.

Jika mawaddah lebih bersifat fisik, rahmah adalah sesuatu yang batiniah, berupa rasa kasih sayang. Perasaan seperti yang kita rasakan ketika tengah bergaul dengan anak kecil. Kita mungkin senang memeluk dan mencium si kecil, tetapi pelukan, ciuman itu tentunya tanpa gairah.

Pada perasaan rahmah, yang ada adalah rasa sayang dan kegembiraan yang penuh welas asih. Rasa rahmah itu juga kita rasakan ketika berinteraksi dengan sahabat-sahabat kita, juga empati terhadap orang-orang yang tertindas. Bahkan, ketika kita menyayangi kucing kita, ikan-ikan peliharaan, alam semesta dan lain sebagainya, itu adalah bagian dari rahmah.

Kedua jenis cinta itu – mawaddah dan rahmah – dengan proporsi yang seimbang harus ada pada pasangan suami istri. Mengapa harus proporsional? Karena mawaddah yang terlalu kuat akan melahirkan kebosanan dan perasaan tak puas.

Mawaddah tentu sangat perlu, karena dari situlah akan terjadi proses reproduksi yang merupakan salah satu tujuan utama sebuah pernikahan. Hanya saja, mawaddah perlu diimbangi dengan rahmah. Terlebih ada perbedaan yang cukup mendasar antara lelaki dan perempuan dalam masalah seksual. Wallahu a’lam bishawab.

Kontributor : Santy Nur Fajarviana*
Editor: Oki Aryono

*Pengajar di MIT Bakti Ibu Madiun

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.