Negara Demokrasi Tapi Emoh Demokrasi
Ilustrasi sindiran pemilihan pemimpin yang adil. (Foto: crimethinc.com)

Suaramuslim.net – Bila kita ingat kemenangan Jokowi dalam pilpres 2014 bukan kemenangan landslide, bukan kemenangan gugur gunung, seharusnya sejak hari pertama tidak boleh dilupakan bahwa hampir separuh bangsa tidak memilih Jokowi. Pemenang dengan suara 53% tidak boleh berpretensi seperti menang 70-90%. Dengan kata lain, gunakan mekanisme check & balance, sebuah metode unggul sistem demokrasi yang sesungguhnya cukup indah. Supaya demokrasi tidak berubah jadi sistem otoriter.

Sayang sekali, para pembantunya, para kolaboratornya, malahan mendorong Jokowi menjadi presiden yang membelah bangsanya. Mungkin diyakinkan pada Jokowi bahwa langkah mengabaikan suara oposisi merupakan langkah bijak.

-Advertisement-

Kita lihat secara sistematik ada proses kriminalisasi dan demonisasi (demon= hantu) kekuatan oposisi yang sejatinya dibutuhkan dalam kehidupan demokrasi. Usaha konyol yang pernah dicoba supaya hanya ada pasangan tunggal dalam pilpres 2019, adalah bukti telak bahwa pemikiran yang dikembangkan adalah pikiran otoriter. Mungkin benar yang dikatakan para pengamat ada banyak negara “demokrasi” namun tidak cukup memiliki kaum demokrat. Ekstremnya, democracy without democrats.

Apa yang muncul di permukaan panggung politik nasional menjadi lumayan tegang. Sebab pokoknya karena suara-suara kritis dari berbagai kalangan justru dikucilkan sejauh mungkin. Bahkan dicurigai, dimusuhi, ditakut-takuti dan mungkin dibuat semacam daftar hitam (black list) buat para tokoh kritis yang kebetulan jumlahnya memang semakin sedikit.

Baca Juga :  Mampukah Jokowi Melawan Mega-Mafia?

Kalau kita semua sudah bersepakat bahwa kita sudah memilih bentuk republik bersistem demokrasi buat negara kita dan juga dijamin sepenuhnya oleh UUD 1945, pemimpin yang menuntun bangsanya ke arah yang berlawanan hakikatnya sedang menggali kuburnya sendiri.

Hal ini kita lihat di semua negara yang semula pemimpinnya berniatan akan menghidupkan demokrasi dengan plus serta minusnya, tetapi di tengah jalan berubah jadi pemimpin otoriter, karena emoh demokrasi. Akibatnya dapat diprediksi. Dia sedang menggali kuburnya sendiri.*

Dikutip dari e-book karya Prof. M. Amien Rais berjudul “Hijrah; Selamat Tinggal Revolusi Mental Selamat Datang Revolusi Moral.”

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.