New Normal, Back to Nature

New Normal, Back to Nature

New Normal, Back to Nature
Ilustrasi obat-obat herbal. (Foto: Alodokter.com)

Suaramuslim.net – Manusia hidup dengan lingkungannya. Di mana manusia hidup maka di sana ada solusi yang disiapkan Allah swt untuk membantu manusia menyelesaikan beragam persoalan yang dihadapinya. Allah telah sangat sempurna mempersiapkan semuanya agar manusia dapat bertahan dengan realitas lingkungannya dan segala permasalahan yang dihadapinya.

Pada masyarakat dengan empat musim maka Allah menyiapkan segala hal dalam diri dan lingkungannya agar manusia dapat bertahan hidup dalam kondisi yang demikian. Sehingga kita menjumpai seseorang yang memiliki ras kulit warna putih atau hitam cenderung lebih kuat dalam menghadapi cuaca yang sangat dingin atau ekstrem sekalipun. Sementara manusia dengan ras kulit warna sawo matang lebih bertahan dengan cuaca tropis yang hanya memiliki dua musim.

Demikian pula, Allah Sang Maha Pencipta dengan sangat sempurna telah menciptakan kehidupan dengan penuh keseimbangan dan sesuai dengan potensi yang dimiliki penduduknya. Artinya keadaan manusia tempat mereka hidup telah disesuaikan dengan potensi alam yang dimilikinya demikian pula sebaliknya.

Secara sempurna Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an:

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ وَمِنۡ أَنفُسِهِمۡ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُونَ

“Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Yasin: 36).

Para ahli tafsir memberikan penjelasan yang sangat lengkap dalam membahas persoalan ini. Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa kitab tafsirnya, seperti tafsir Al-Qurtubi, tafsir Al Washit oleh Muhammad S Thantawi, Tafsir Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi, memberikan beberapa penjelasan, bahwa setiap apa pun telah Allah sesuaikan berdasarkan potensinya masing-masing secara berpasang-pasangan. Sehingga setiap persoalan yang dihadapi manusia maka secara bersamaan pula Allah telah menyiapkan solusinya.

Saat manusia sakit maka Allah menyediakan obatnya. Sebagaimana pula Rasulullah bersabda:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ

“Semua penyakit ada obatnya. Jika cocok antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah.” (Muslim).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah Ta’ala menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya.” (Al-Bukhari).

Setiap penyakit ada obatnya, dalam segala sesuatu yang menjadi jalan penyakit maka Allah juga menciptakan penawarnya di sana pula secara bersamaan dan berpasangan. Ibarat seseorang makan durian yang dikatakan memiliki bau kuat menyengat serta mengandung kolesterol secara bersamaan pula Allah menciptakan penawarnya yang tidak jauh darinya yaitu pada kulit ari yang bersentuhan dengan buah durian tersebut.

Demikian pula lombok (cabe) yang memiliki rasa pedas yang menyebabkan bisa sakit perut namun Allah memberikan penawarnya pada tangkai yang menempel di buah lombok tersebut.

Sebelum masa pengobatan menggunakan pendekatan kimiawi, manusia lebih banyak menggunakan bahan alami, yang dikenal dengan istilah herbal. Obat kimia yaitu obat yang mempunyai campuran bahan kimia tidak disintesis di dalam tubuh dan bersifat paliatif, artinya obat ini akan menyembuhkan penyakit, tetapi bila obat tersebut terjadi pengendapan akan menjadi racun yang berbahaya.

Sementara obat herbal/tradisional yaitu obat yang diolah secara turun temurun dari nenek moyang kita dengan bahan alami dari alam tanpa campuran kimia yang kita menyebutnya pula dengan istilah “jamu.” Biasanya obat herbal ini hanya untuk mencegah, pemulihan, dan mengobati penyakit yang memerlukan pengobatan yang lama dengan reaksi lambat namun bersifat konstruktif.

Masyarakat kita telah menjadikan penggunaan obat herbal ini sebagai bagian dari kebijaksanaan lokal (local wisdom) dalam menyembuhkan berbagai penyakit yang mereka alami.

Penggunaan keterampilan herbal ini ternyata dilakukan secara turun menurun dan membuahkan hasil yang dapat merasakan. Hal ini terbukti penggunaan obat tersebut atau pendekatan penyembuhan berbahan alami terus berlangsung hingga hari ini, sekalipun dalam perkembangannya tergerus oleh obat kimiawi melalui pengobatan yang dilakukan di rumah sakit dan para dokter masa sekarang.

Namun tak bisa dipungkiri bahwa keyakinan masyarakat khususnya masyarakat desa atas keampuhan obat herbal masih terus terjaga. Bahkan sering kali pada saat seseorang sakit dan telah melakukan pengobatan secara maksimal namun manakala semua usaha tersebut dianggap belum berhasil, mereka cenderung berusaha mencari model pengobatan alternatif atau pun herbal.

Allah ciptakan keseimbangan di alam

Solusi kesehatan dengan menekankan pada pendekatan herbal ini sesungguhnya berdampak pada ketergantungan yang tinggi atas alam, sehingga berkonsekuensi pada adanya upaya kuat dari manusia untuk terus mampu menjaga kelestarian alam dengan baik. Artinya, hikmah dari adanya pandemi corona ini munculnya kembali semangat untuk kembali ke alam (back to nature) yaitu kembali kepada kebijaksanaan lokal dan kembali bersyukur atas penciptaan.

Wabah corona yang menjadi pandemi dunia hingga hari ini belum ditemukan obatnya ataupun vaksinnya. Hal ini juga diperparah dengan proses mutasi yang terjadi atas virus ini. Bahkan sebuah penelitian mengeklaim corona bermutasi bergantung kondisi di masing-masing negara. Tingkat mutasi yang sangat cepat dan pada setiap negara bisa berbeda maka hal ini akan berdampak pada proses adaptasi perilaku dalam menghadapi serangan penyebaran virus ini serta pula akan menjadi lebih sulit untuk membuat vaksin dari virus yang berkembang cepat tersebut.

Dengan realitas yang demikian maka pengobatan melalui pendekatan potensi lokal atau eksplorasi atas kekayaan pengobatan lokal menjadi sebuah keniscayaan.

Sebagaimana penjelasan sebelumnya bahwa, setiap penyakit yang Allah turunkan pada manusia, pasti ada obatnya. Lalu, obat tersebut juga pasti telah Allah sediakan berada di sekitarnya, sebagaimana konsep “mutazawwijaani” (berpasang-pasangan), yang artinya penawar atas suatu masalah tertentu pasti ada di sekitarnya, di tempat yang dekat dengannya dan bukan berada di tempat yang jauh.

Sehingga penawar atas virus corona ini sesungguhnya pasti telah Allah ciptakan berada di sekitar kita sendiri masing-masing dan bukan berada di tempat lain. Dengan argumentasi di atas maka tawaran vaksinasi global yang didengungkan oleh sebagian pihak merupakan sesuatu yang jauh dari keniscayaan dan apabila masih saja terus dipaksakan maka tidaklah salah apabila ada sebagian kalangan yang mencium adanya sebuah konspirasi. Wallahu a’lam.

Akhmad Muwafik Saleh. 11.06.2020
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir Al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment