Benarkah al-Qur’an Turun di 17 Ramadhan?

0
64

Suaramuslim.net – Selama ini masyarakat mengenal  al-Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan. Namun benarkah Al Qur’an diturunkan pada 17 Ramadhan? Sebaiknya tidak menyimpulkan sebelum membaca artikel di bawah ini.

Sebagian mengatakan bahwa turunnya adalah 17 Ramadhan sehingga dijadikan peringatan Nuzulul Qur’an. Namun, di dalam surah al-Qadar dijelaskan bahwa al-Qur’an diturunkan di malam lailatul Qadar. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Dalam surat al-Qadar di atas disebutkan bahwa Allah menurunkan al-Qur’an pada Lailatul Qadar. Di dalam ayat yang lain Allah juga menegaskan bahwa al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul Qadr. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhon: 3). Malam yang diberkahi yang dimaksud di sini adalah Lailatul Qadar yang terdapat di bulan Ramadhan.  Kemudian Allah juga berfirman di dalam Al Baqarah: 185, Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran.”

Dari beberapa ayat tersebut, dijelaskan bahwa al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadr, malam yang terdapat pada bulan suci Ramadhan. Maka dengan demikian, klaim yang mengatakan bahwa al-Qur’an diturunkan pada 17 Ramadhan, merupakan anggapan yang tidak berdasar.  Mari analogikan,  malam Lailatul Qadar itu terjadi di sepuluh hari terakhir, sedangkan tanggal 17 Ramadhan belumlah termasuk pada sepuluh malam terakhir.

Proses Turunnya Al Qur’an

Pada malam lailatul qadar, Allah menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur. Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) yang dikutip konsultasisyariah.com, mengutip As-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan fi Ulum al-Quran menyebutkan ada 3 pendapat.

Pertama, al-Quran turun secara utuh keseluruhan ke langit dunia pada saat lailatul qadar. Selanjutnya Allah turunkan secara berangsur-angsur selama masa kenabian.

“Ini adalah pendapat yang paling shahih dan paling terkenal” ucap suyuthi.

Kedua,  al-Quran turun setiap lailatul qadar selama masa kenabian. Kemudian turun berangsur-angsur kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama setahun itu.

Ketiga, al-Quran pertama kali turun di lailatul qadar. Selanjutnya al-Quran turun berangsur-angsur di waktu yang berbeda-beda. Ini merupakan pendapat as-Sya’bi.

Dan juga Allah berfirman, “Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. al-Isra: 106)

Perayaan Nuzulul Qur’an

Perayaan Nuzulul Qur’an belum pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat. Rasulullah dan para sahabat lebih memilih mentadabburi al-Qur’an.

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. ” (QS. Shaad: 29).

Kemudian, Al Hasan Al Bashri berkata, “Demi Allah, jika seseorang tidak merenungkan Al Qur’an dengan menghafalkan huruf-hurufnya lalu ia melalaikan hukum-hukumnya sehingga ada yang mengatakan, “Aku telah membaca Al Qur’an seluruhnya.” Padahal kenyataannya ia tidak memiliki akhlak yang baik dan tidak memiliki amal.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 418-419)

Namun, yang terjadi pada masyarakat, peringatan Nuzulul Qur’an dikemas dalam berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum, pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, anasyid dan tidak jarang pula yang memperingatinya dengan mengadakan pesta makan-makan.

Sedang, Rasulullah menyikapi peristiwa Nuzulul Qur’an dengan, membaca penuh dengan penghayatan akan maknanya. Tidak hanya berhenti pada mudarasah, beliau juga banyak membaca Al Qur’an pada shalat beliau, sampai-sampai pada satu raka’at saja, beliau membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa’, atau sebanyak 5 juz lebih. Pada saat malam nuzulul qur’an beliau mendedikasikan dirinya sepenuhnya hanya untuk Al Qur’an. (muf/smn)