Penumpang Gelap di Tengah Pandemi

Penumpang Gelap di Tengah Pandemi

Ilustrasi sample darah tes positif virus corona. Foto: Pixabay.com

Suaramuslim.net – Dalam setiap perjalanan sejarah bangsa selalu ada saja para penumpang gelap yang suka mengambil kesempatan saat kesempitan.

Di saat bangsa ini sedang disibukkan dengan persoalan pandemi covid-19 yang masih belum jelas kapan akan berakhirnya, kemudian rakyat disibukkan pula dengan isu kemungkinan dilakukan relaksasi protokol dengan dibukanya berbagai sektor publik seperti pusat pembelanjaan dengan dalih untuk menggerakkan kembali roda ekonomi, dengan sebuah isu dan kampanye baru yang mereka sebut dengan new normal.

Sebenarnya apa yang harapkan dari isu new normal ini? Yaitu dibukanya kembali pusat-pusat aktifitas ekonomi dan perbelanjaan, mall-mall besar sebagaimana yang saat ini telah dilakukan sekalipun belum 100% wabah pandemi ini dapat dikontrol bahkan di beberapa daerah seperti di Jawa Timur masih terlihat tren yang terus naik dengan angka penularan yang sangat tinggi.

Lalu siapa sebenarnya yang ingin mengambil keuntungan dari isu new normal ini?

Sebenarnya mudah ditebak, hanya ada dua kelompok manusia yang paling suka bermain di air keruh seperti ini. Yang pertama, mereka para pemilik modal (kapitalis), pengusaha-pengusaha besar, cukong-cukong berkerah putih, para produsen-produsen yang pada saat pandemi ini telah hampir sekarat.

Kapitalis

Mereka tidak peduli dengan nyawa masyarakat namun hanya peduli dengan harta dan kekayaannya saja. Karena begitulah ide dasar mereka yaitu individualisme, hanya mementingkan perutnya sendiri.

Mereka berdiri di balik isu new normal dengan berpura-pura membela kepentingan rakyat kecil, untuk ekenomi rakyat padahal itu hanyalah kamuflase untuk memenuhi kebutuhan perut mereka sendiri karena saat masa pandemi ini, seluruh aset ekonomi mereka terbungkam dan saat ini telah sekarat.

Kemudian mereka mengkampanyekan ide new normal di saat pandemi belum sepenuhnya dapat terkontrol bahkan masih belum ada indikasi grafik turun. Mereka seakan ingin menyerahkan sepenuhnya ketahanan kesehatan masyarakat umum pada seleksi alam, siapa yang kuat maka dia yang akan hidup.

Nyawa manusia dianggap sangat murah dan pemerintah berlepas tangan dalam persoalan ini, sepenuhnya seakan dipasrahkan pada rakyat awam tanpa kehadiran dan tanggung jawab pemerintah.

Untuk itu mereka saat ini sibuk berkampanye ide new normal agar segera dibuka kembali aktifitas masyarakat khususnya pada sektor-sektor produksi, transportasi dan sebagainya dengan alasan ekonomi masyarakat tadi.

Padahal sebenarnya tidak, sebab masyarakat ternyata selama pandemi masih bisa menangani dirinya sendiri bahkan mereka masih bisa saling tolong menolong meringankan beban di antara mereka.

Komunis

Penumpang gelap kedua yang ikut memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan ini adalah kalangan yang selama ini selalu menggunakan konflik sebagai jalan perjuangannya yaitu kalangan komunis yang tidak pernah mati di bumi nusantara ini sekalipun telah ditumpas berulangkali.

Mereka akan selalu berjuang untuk mewujudkan idenya menjadikan negara Indonesia ini sebagai negara berhaluan komunisme. Karakter komunisme adalah mereka akan selalu memanfaatkan suasana ketidakpastian dalam masyarakat untuk mencipta kekacauan, baik kekacauan informasi hingga kekacauan fisik (clash).

Saat ini, di tengah ketidakjelasan kondisi akibat pandemi ini mereka menelikung dari dalam gedung DPR dengan mencoba memperjuangkan kembali ideologi komunisme mereka dan semua itu jauh dari hiruk pikuk dunia medsos.

Saat ini mereka sukses menjegal soal agama dan TAP MPRS No. XXV Th. 1966 tentang larangan PKI sehingga tidak masuk dalam RUU Haluan Ideologi Pancasila.

Bahkan pada saat rapat pengesahan draft Rancangan Undang-undang atau RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) di DPR RI, Selasa, 15 Mei 2020, disebut diwarnai insiden, salah satunya mic di ruang rapat yang mati mendadak sehingga anggota DPR RI yang hadir tak bisa menyampaikan interupsi.

Sehingga pengesahan draft RUU HIP menjadi RUU dalam paripurna DPR diambil terkesan sangat tergesa-gesa.

Saat itu tidak disediakan sesi penyampaian pandangan fraksi sehingga tidak diketahui fraksi mana saja yang setuju dan mana yang menolak.

Kita mungkin tidak akan pernah lupa bahwa PKI selalu berkeinginan untuk merubah haluan negara ini dengan ideologi komunisme. Bahkan mereka tidak pernah ikut terlibat dalam penyusunan konsep awal kenegaraan ini. Sehingga sangat wajar mereka mengatakan bahwa Pancasila hanyalah alat pemersatu bangsa. Sehingga jika rakyat telah bersatu maka Pancasila telah tidak dibutuhkan lagi.

Sebagaimana disampaikan dalam pidato tahun 1964, Aidit mengatakan bila sosialisme Indonesia tercapai, Pancasila tidak lagi dibutuhkan sebagai filsafat pemersatu.

Oleh karena itulah, PKI akan selalu berupaya mengubah Pancasila sebagai haluan bernegara ini dengan ide komunisme.

Salah satu ciri khas ide komunisme ini adalah kebenciannya kepada agama. Bahwa agama adalah candu bagi masyarakat. Wajarlah jika dalam pembahasan diketahui bahwa kebijakan pembangunan nasional tidak pula menyebutkan pembangunan di bidang agama, hanya disebutkan: politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, mental, spiritual, pertahanan dan keamanan.

Sehingga dalil yang menyatakan “ideologi tidak akan pernah mati dan pada saatnya bangkit kembali” tidak dapat dipungkiri.

Bangkitnya ideologi komunis yang kini berbaju “liberalis” di Indonesia saat ini berpotensi mempengaruhi arah kebijakan pembangunan nasional.

Namun sayangnya, isu ini tidaklah terlihat sensi bagi kebanyakan masyarakat dunia medsos hari ini karena sedang disibukkan dengan new campaign sekalipun sebenarnya adalah old disease, yaitu new normal.

Di sinilah liciknya komunisme berbaju liberalis yang selalu hadir dengan memanfaatkan suasana pandemi dan menjadi penumpang gelap di dalamnya untuk terus mewujudkan cita-cita lama mereka menjadikan Indonesia sebagai negara komunis. Waspadalah!

28 Mei 2020
Akhmad Muwafik Saleh
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris Komite Dakwah Khusus MUI Provinsi Jawa Timur.
Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment