Home Jurnal Warga Perdagangan di Madinah Al-Munawwarah

Perdagangan di Madinah Al-Munawwarah

0
manfaat kurma, menu buka puasa, obat kanker

Suaramuslim.net – Pada kesempatan yang lalu pernah dibahas tentang sektor pertanian, kali ini kami akan membahas sektor perdagangan yang juga menjadi perhatian dari otoritas Madinah.

Seperti dikutip dari buku yang berjudul “Al-Madinah Al-Munawwarah Research & Studies Center (2013), King Fahd National Library Cataloging In Publication Data,” perdagangan adalah kegiatan ekonomi kedua di Madinah setelah pertanian sebelum datangnya Islam.

Karena posisinya berada di jalur antara negeri Syam dan Yaman dan kondisi alamnya yang subur, maka Madinah dijadikan sebagai tempat peristirahatan dan perbekalan dan pada saat yang sama juga menjadi pusat untuk pertukaran barang dengan para penduduknya.

Dahulu sudah ada beberapa pasar di Madinah dan terbagi di keempat sisinya yaitu Pasar Juruf atau Zabalah, Pasar Hubasyah, Pasar Safasif atau Usbah dan Pasar Muzahim.

Ketika kaum muslimin yang mayoritas mereka merupakan pedagang berhijrah ke Madinah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memetakan pasar untuk mereka di bagian barat Masjid Nabawi, yang setelah itu dikenal dengan nama Pasar Manakhah dan ia menjadi pusat perbelanjaan Madinah selama berabad-abad.

Perdagangan semakin ramai di akhir era kenabian dan era Khulafa’ Rasyidin. Kafilah-kafilah perdagangan yang besar yang didanai oleh beberapa sahabat mulai bermunculan. Kapasitas sebagian angkutan mereka mencapai seribu unta yang membawa kain, pakaian, minyak, gandum, parfum, perhiasan, senjata dan lain-lain ke dalam Madinah. Dan mereka keluar dengan membawa kurma, gandum dan beberapa perkakas rumah tangga.

Pada era Umawiyyah, perdagangan terus berlanjut meskipun pusat pemerintahan beralih dari Madinah ke Damaskus. Produk Madinah sudah mencapai/diekspor ke India, Persia, Bukhara dan Mesir. Dan Madinah juga mendapatkan keuntungan dari musim ziarah.

Seiring dengan menyusutnya peranan Madinah di era Abbasiyyah, menyusut pula perdagangan. Kemudian Madinah bergejolak seiring dengan gangguan keamanan dengan munculnya kerusuhan dan perselisihan.

Pada awal era modern, Madinah menjadi saksi kegiatan perdagangan yang besar, ketika kereta api mulai masuk Madinah pada tahun 1326 H / 1908 M, yang mengangkut barang dagangan dari seluruh penjuru dunia melalui Istambul dan Damaskus. Tetapi Perang Dunia Pertama dan pemberontakan Syarif Husain menghentikan kegiatan tersebut dan mematikan jalur kereta api besi. Madinah dikepung dan sebagian besar penduduknya pindah keluar kota.

Pada era Kerajaan Arab Saudi, keadaan berubah secara bertahap, mobil-mobil mulai masuk di Madinah, jalan-jalan diaspal dan kota Madinah mulai berkembang seiring berkembangnya beberapa pasar yang bertambah dari tahun ke tahun.

Gerakan perdagangan telah aktif kembali seiring dengan stabilnya keamanan, bahkan meningkat drastis setelah eksplorasi minyak di Kerajaan Arab Saudi.

Jumlah surat ijin usaha yang telah diterbitkan oleh Badan Layanan Umum Kota Madinah Al-Munawwarah pada tanggal 1-3-1434 H / 13-1-2013 M mencapai 31.566 surat untuk berbagai tempat usaha dan pusat kesehatan.

Di antara pusat perbelanjaan terpenting di Madinah adalah; pusat perbelanjaan kurma yang khusus menjual berbagai jenis kurma berlokasi di daerah Markaziyyah di bagian barat daya Masjid Nabawi. Pasar-pasar di daerah Quba yang berlokasi di sepanjang jalan daerah Quba baik jalur atas maupun bawah. Pasar Internasional Madinah yang berlokasi di jalan Sultanah dan pasar Bilal, berlokasi di jalan Qurban jalur bawah.

Pasar-pasar tersebut memiliki stok barang-barang lokal maupun barang impor dari luar negeri. Seperti alat-alat listrik dan elektronik, berbagai jenis pakaian, kain, jam arloji, parfum dan berbagai toko yang menjual emas dan perhiasan.

Terdapat pula pasar-pasar yang khusus menjual pakaian dan kain, di antaranya Pasar Syarq Ausath yang berlokasi di jalan Sultanah, Pasar Badr yang berlokasi di Airport Road, Pasar Qimmah yang berlokasi di jalan Quba jalur atas dekat dengan Masjid Jum’ah dan Pasar saha yang berlokasi di jalan Khalid bin Al-Walid.

Dan pada dekade terakhir, muncul berbagai pusat perbelanjaan besar seperti mall yang berlokasi di sepanjang jalan ring road ke-2 , di dalamnya terdapat cabang-cabang dan distributor-distributor ternama berbagai perusahaan internasional dari berbagai produk makanan, pakaian, alat-alat listrik dan elektronik dan perkakas rumah tangga.

Terdapat pula berbagai restoran, arena bermain anak-anak dan tempat bersantai keluarga, di antara mall-mall tersebut adalah Mall Rashid, Mall Noor, Mall Manar, Mall Aliya, Mall Hasan, Mall Bin Dawood dan Mall Qarat.

Terdapat pula pusat-pusat perbelanjaan yang khusus menjual barang-barang tertentu, seperti toko-toko yang khusus menjual bahan bangunan, spare part, mobil, karpet, kurma, sayuran dan buah-buahan.

Adapun di daerah Markaziyyah di sekeliling Masjid Nabawi, dapat kita jumpai beberapa pusat perbelanjaan modern yang memberikan kesempatan berbelanja yang nyaman kepada para pengunjung sekaligus dekat dengan tempat tinggal mereka.

Demikian ulasan tentang sektor perdagangan di kota Madinah. Yang harus diperhatikan adalah perkembangan berbagai sektor jangan sampai merusak tatanan perkotaan yang telah disusun. Semua pihak karus taat pada tatanan perkotaan. Karena aspek lingkungan harus menjadi perhatian utama untuk keberlangsungan generasi mendatang. Semoga Allah subhanahu wa taala selalu melindungi dan membimbing kita untuk beraktifitas guna kemaslahatan bersama.

Washil Bahalwan
Penulis adalah ketua Lazis Yamas Surabaya dan pemerhati sosial.

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.