puisi sukmawati
Foto: inibaru.id

Suaramuslim.net – Beberapa hari ini saya mengajak kawan mahasiswa mendiskusikan mengapa sebuah pesan bisa sampai kepada penerima pesan. Kawan-kawan mahasiswa mengatakan pesan akan sampai kepada penerima, bila pesan yang disampaikan itu mampu memberi rasa puas kepada penerima.

“Mengapa penerima pesan bisa merasa puas?” Begitu tanya saya. Kepuasan itu terjadi bila kebutuhan keduanya bisa terpenuhi. Sebuah pesan bisa diterima oleh penerima pesan, bila si pemberi pesan mampu memahami kebutuhan penerima pesan dan bisa memilih kalimat dan kata sesuai dengan karakter penerima pesan.

Saya mencoba membahasakan apa yang disampaikan mahasiswa saya bahwa dalam komunikasi yang terjadi tidak hanya sekedar pertukaran kalimat dan kata antar pembicara dan lawan bicara, biasanya disebut komunikator dan komunikan. Tapi dalam komunikasi telah terjadi peristiwa transaksi psikologi, seorang pembicara mampu menempatkan pesan sesuai dengan karakter psikokogis lawan bicaranya. Berne menyebutnya sebagai “Transaksional Analysis”.

Transaksional Analysis

Transaksional Analysis merupakan sebuah bahasan yang mengurai tentang karakter pembicara dan lawan bicara, sehingga diharapkan pembicara mampu memahami kondisi psikologis lawan bicaranya dan mampu menempatkan diri pada posisi yang tepat di hadapan lawan bicaranya. Selain itu, pembicara diharapkan mampu memilih rangkaian kata yang sesuai dengan kebutuhan pemuasan lawan bicaranya.

Baca Juga :  Benarkah Indonesia Sudah Lepas dari Jajahan Asing?

Berne menempatkan karakter pembicara dan lawan bicara dalam beberapa kategori. Beliau mengibaratkan sebagai sebuah kondisi kejiwaan usia, sehingga dalam pembagiannya, Berne memilahnya menjadi tiga bentuk karakter.

Pertama karakter parents (orang tua), dalam karakter orang tua, dijelaskan bagaimana potret karakter orang tua. Misalnya yang suka menasehati, selalu ingin didengar, menang sendiri, selalu merasa benar dan hal lain yang mengacu pada karakter sebagai orang tua.

Kedua, karakter child (anak-anak), dalam penggambaran karakter ini, Berne mengkonotasikan dengan sikap anak-anak, misalnya karakter yang egois, menang sendiri, selalu ingin diperhatikan, tidak mau mengalah dan lain-lain yang berkonotasi kekanak-kanakan.

Ketiga adalah karakter adult (dewasa), merujuk pada sikap kedewasaan seseorang. Misalnya, rasional dalam berpendapat, terukur, mau mendengar dan bijak dalam menyikapi sebuah persoalan serta hal lain yang berkonotasi sikap dewasa.

Kegagalan Komunikasi

Potret puisi Sukmawati, adalah potret kegagalan penyampaian pesan. Sukma tak mampu menyelami kondisi psikologis mayoritas bangsa ini, sehingga Sukma pun gagal merangkai kata-kata yang mewakili gagasannya. Sukma menjelma menjadi orang tua yang sok kuasa, minta didengar, menang sendiri dan sederet karakter yang mewakili keegoisannya.

Baca Juga :  Peringati HUT RI Ke-73, Warga Palestina Ikut Meriahkan Lomba

Sukma tak mampu melihat keragaman bangsa, sehingga kebhinekaan itu dimaknai seperti dirinya memaknai, dan toleransi disamakan dengan caci maki. Lebih fatal lagi Sukma kehilangan jati diri sebagai ibu Indonesia. Sukma membandingkan azan dengan kidung dan cadar dengan konde, Sukma pun terjerembab dalam kesalahan membangun premis. Sehingga ia terkapar dalam kubangan egoisme dirinya.

Apa yang terjadi pada Sukma bukan tidak mungkin akan terjadi pada kita semua. Anda sebagai guru, Anda sebagai orang tua, Anda sebagai pejabat, Anda sebagai rakyat, atau Anda sebagai siapapun. ketika Anda tak mampu memahami karakter lawan bicara, Anda akan terjerembab pada keegoisan kata dan makna.

Memahami Lawan Bicara dengan Kecerdasan Mendengar

Mendengarkan adalah sebuah kata yang sederhana, namun tidak semua orang mampu mengimplementasikannya. Kecerdasan mendengar adalah keterampilan memahami orang lain dengan makna yang sama. Kemampuan mendengar biasanya dapat dilakukan oleh mereka yang terbiasa melakukan kerja yang terukur dan peka terhadap kondisi psikologis lawan bicaranya. Kecerdasan mendengar akan bisa kita lakukan kalau kita mampu bersikap dewasa.

Baca Juga :  Nasionalisme Itu Orientasi Politik, Bukan Ideologi Politik (1)

Nah, kawan, dewasa itu tidak hanya berkaitan dengan usia, tapi berkaitan cara berpikir dan cara bersikap seseorang dalam menanggapi sebuah peristiwa. Tua itu pasti, tapi bijak belum tentu.

Bijak adalah sikap kedewasaan dalam memperlakukan diri dan orang lain, sehingga bijak itu akan menguatkan suksesnya sebuah komunikasi. Semoga saja kita dianugerahi kecerdasan mendengar, sehingga dapat menyikapi setiap peristiwa dengan bijak, terukur, dan tepat. Amin.

*Ditulis di Surabaya, 6 April 2018
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.