Menjadi Orang Tua Jaman Now

Menjadi Orang Tua Jaman Now

Beginilah Menjadi Orang Tua Jaman Now

Suaramuslim.net – Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah tapi juga tidak sulit. Karena kita semua ketika menjadi orangtua tidak ada yang dipersiapkan. Tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua. Boleh jadi kita semua ini terpaksa menjadi orang tua. Sehingga persiapan kita menjadi orangtua sangat minim sekali, dan bisa jadi berbekal dari bagaimana dahulu orangtua kita mendidik kita. Minimnya perbekalan menjadi orangtua itulah yang kadangkala membuat kita mengalami kontraksi dalam mendidik anak-anak kita.

Mengapa Bisa Terjadi?

Harus disadari sebagai orangtua mengalami masa yang berbeda dengan anak-anak kita. Sebagai orangtua, tentu saja kita mengalami masa-masa kecil yang tantangannya tidak seluar biasa masa anak-anak kita. Rata-rata kita mengalami masa kecil di tengah situasi yang serba manual sementara anak-anak mengalami masa digital.

Tentu saja ada perbedaan yang mencolok kalau dilihat dari sisi zaman. Zaman ketika kita masih kanak-kanak, kita tak mengenal teknologi yang serba luar biasa, tidak handphone, internet juga masih susah, teknologi tidak secanggih seperti sekarang ini.

Beda lagi dengan masa anak-anak kita menjalani hidupnya. Mereka lahir di zaman yang serba digital. Sehingga mereka mengalami masa-masa yang dinamis dan perubahan yang sangat cepat. Pada akhirnya anak-anak dituntut untuk selalu bisa menyikapi perubahan yang terjadi.

Menyikapi Perbedaan Sikap

Kontraksi seringkali terjadi ketika orangtua merasakan bahwa apa yang dilakukan oleh anak akan berakibat salah, sehingga ada kekhawatiran yang dalam, akibatnya orangtua selalu membuat pilihan boleh dan tidak.

Sebaliknya anak merasakan bahwa apa yang dilakukan sekarang ini merupakan bagian dari tuntutan perkembangan zaman yang harus diikuti. Karena dalam pandangan anak, apa yang dilakukan saat ini adalah sebuah keniscayaan agar bisa “berhasil” melewati tantangan yang ada.

Eric Berne dalam paparannya menjelaskan tentang transaksi komunikasi. Menurutnya, komunikasi itu tidak hanya sekadar orang bertukar kata dan pesan, tapi dalam komunikasi itu terjadi sebuah transaksi. Bagaimana dua pihak atau lebih bisa saling mengirim pesan dan bisa saling menerima pesan. Sehingga dalam membangun kesamaan dalam transaksi, setiap orang harus bisa menempatkan dirinya secara baik.

Selanjutnya Berne juga menggolongkan karakter pelaku komunikasi menjadi tiga hal, yaitu karakter orang tua, karakter anak dan karakter orang dewasa. Pada karakter orangtua, Berne menggambarkan karakter orang tua seperti yang selalu ingin didengar, menggurui, menangnya sendiri dan lain-lain yang berhubungan dengan karakter orang tua.

Begitu juga pada karakter anak, beliau mendeskripsikan sikap anak itu seperti apa, misalnya: menang sendiri, egois, selalu ingin diperhatikan dan hal lain yang berhubungan karakter anak.

Pada karakter dewasa, Berne mendeskripsikan karakter yang rasional, mau mendengar, hati-hati, penuh pertimbangan dan keterukuran, bisa menempatkan diri, dan hal lain yang berhubungan dengan sikap dewasa.

Sebagai orangtua dalam membangun komunikasi dengan anak-anak yang zamannya sudah berbeda diperlukan sikap yang dewasa. Sehingga dengan kedewasaan itulah komunikasi dengan anak akan bisa terjalin dengan bijak, karena orangtua bisa menempatkan diri pada posisi yang sebenarnya di hadapan anak. Anak akan merasakan orangtuanya sebagai teman, sahabat dan sekaligus sebagai orangtua. Anak akan merasakan kenyamanan ketika berkomunikasi dengan orangtua yang bisa mengerti anak-anaknya.

Bijak Menjadi Orangtua

Di beberapa kasus penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh anak remaja dan pelajar, rata-rata didapatkan situasi anak tidak merasa nyaman ketika berada di rumah maupun di sekolah. Situasi tidak nyaman itu diakibatkan oleh orangtua maupun guru biasanya selalu menuntut sesuatu yang harus dilakukan oleh anak, meski kadang itu baik menurut orang tua maupun guru, tapi kadang belum bisa dipahami dengan baik oleh anak.

Nah bijak sebagai orang tua bisa dimaknai sebagai upaya untuk selalu bisa memahami anak dan apa yang dibutuhkan demi kepentingan terbaik anak. Bijak itu bisa dimulai dengan kemauan mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan anak untuk berkembang dan menjadi baik, sehingga dengan mendengarkan bisa didapatkan hal-hal yang dapat diarahkan dan didiskusikan bersama.

Kalau kita sebagai guru, tentu bisa dimulai dengan menanyakan kepada anak kebutuhan apa yang diharapkan untuk bisa dipenuhi dalam sebuah proses belajar yang dilakukan. Kebutuhan-kebutuhan anak dalam proses belajar, bisa menjadi informasi yang kemudian dirancang menjadi tujuan pembelajaran.

Dalam hal mencapai tujuanpun akan menjadi menyenangkan, kalau anak juga bisa menyampaikan cara pencapaian dari proses belajar yang dilakukan, sehingga suasana belajar menjadi suasana pendampingan dan pertemanan antara guru dengan anak.

Kalau suasananya seperti itu dalam setiap proses belajar, maka bisa dipastikan anak akan mendapatkan suasana apresiasi terhadap apa saja yang dilakukan demi kepentingan terbaiknya.

“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”.

Artinya, ilmu itu bersifat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya menyesuaikan dengan kondisi sekarang dan kehidupan masa depan. Sehingga yang terbaik bagi kita adalah menyesuaikan dan mempelajari untuk melakukan pendampingan kepada anak kita.

*Ditulis tanggal 3 April 2018 saat perjalanan Malang-Surabaya, Bus Hafana
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment