Sabar Itu Nikmat
Ilustrasi laki-laki menengadahkan tangannya sembari memandang lanskap alam. (Ils: Dribbble/Rezkytama P)

Suaramuslim.net – Al Quran dalam berbagai ayatnya, banyak menerangkan tentang keutamaan sabar sebagai sebuah keindahan dalam menyikapi persoalan hidup sebagaimana perintah Allah SWT kepada Rasulullah SAW, juga kisah-kisah para nabi yang diceritakan dalam Al-Quran.

Dalam beberapa ayat, kata sabar diiringi dengan kata jamil (indah). Karena, Allah memang telah menjanjikan bagi mereka yang bersabar akan mendapat keindahan pada akhirnya. Sebagaimana firman-Nya, “Salam sejahtera atasmu karena kesabaranmu. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 24).

Sabar adalah menahan diri untuk tetap berada dalam ketaatan kepada Allah SWT, baik dalam keadaan lapang maupun sempit; dalam keadaan derita maupun bahagia; dan dalam keadaan suka maupun duka. Allah memerintahkan untuk memohon kepadanya dengan sikap sabar dan berdoa kepada-Nya lewat salat.

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45).

Kata sabar itu begitu banyak diungkapkan dalam Al Quran. Satu yang dijelaskan dalam ayat Al Quran adalah bahwa siapa yang bersabar, maka Allah akan menyempurnakan ganjaran baginya tanpa perhitungan (hisab). Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan penyambutan dari malaikat atas kesabarannya tersebut.

Ganjaran tersebut diberikan karena mereka bersabar dalam ketaatan kepada Allah SWT; bersabar dalam menahan diri untuk tidak bermaksiat kepada-Nya; dan bersabar dalam setiap musibah yang menimpanya.

Sabar ini erat kaitannya dengan tekad dan kemauan kuat. Kenapa Nabi Adam as sampai terusir dari surga? Karena, Allah tidak menemukan tekad yang kuat untuk bertahan dari godaan iblis laknatullah pada diri Nabi Adam as.

“Dan sesungguhnya telah kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (QS. Thaha: 115).

Baca Juga :  Benarkah Sabar Itu Ada Batasnya?

Karena tidak adanya tekad atau kemauan yang kuat untuk bersabar dalam ketaatan, maka Nabi Adam as kemudian lupa dan tergelincir dalam kemaksiatan dengan memakan buah khuldi. Ia terpesona dengan bujuk rayu iblis yang menyebabkannya tergelincir dan terusir dari surga.

Jadi, kesabaran butuh tekad yang kuat, butuh kemauan yang terpatri, agar Allah SWT menganugerahi kepada kita kemampuan untuk menahan diri. Sungguh, sikap sabar ini sangatlah berat, kecuali dilakukan oleh orang-orang yang khusyuk.

Sabar dan Syukur

Ada sifat yang harus dimiliki seorang muslim dalam menjalankan hidupnya agar ia enjoy, tenang, dan tenteram. Dua sifat itu adalah sebagaimana yang dimiliki Allah dalam Asmaul Husna, yaitu sifat Shabbarun Syakur, sifat Maha Penyabar dan Maha Bersyukur. Artinya, seorang muslim harus memiliki sifat sabar dan pandai bersyukur.

Sabar dan syukur inilah kunci dalam menjalani kebahagiaan hidup. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan, kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya, apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Di dunia ini, tentu kita menghadapi berbagai macam masalah, baik dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, maupun interaksi sosial di masyarakat. Tak ada jalan kebahagiaan lain dalam menghadapi berbagai persoalan hidup itu, selain kita mencari solusi yang terbaik kemudian bersabar. Setelah itu, tanamkan dalam benak kita rasa syukur kepada Allah SWT bahwa sebesar apa pun musibah yang menimpa kita, sesungguhnya itu hanya sedikit dan sangat kecil jika dibandingkan dengan nikmat dan karunia-Nya yang begitu luas.

Baca Juga :  Keteladanan Hajar Tentang Arti Pengorbanan

Sabar ada kaitannya dengan manajemen kehidupan. Setiap kehidupan pasti ada aturannya. Mengikuti aturan adalah bagian dari latihan kita untuk bersabar. Menunggu antrean; menunggu lampu lalu lintas; menunggu menyeberang adalah latihan bagi kita untuk bersabar. Jadi, kesabaran itu tampak dalam fenomena keseharian kita. Kalau kita berhasil menjalani lalu lintas kehidupan, maka kita akan selamat.

Dalam beragama juga seperti itu. Jadi, agama itu seperti lampu yang mengatur lalu lintas kehidupan. Tanpa agama, manusia ini akan saling berbenturan; tidak ada kendali, tanpa aturan, chaos, dan sebagainya. Fungsi agama mengatur agar hal itu tidak terjadi. Mengatur agar ketidakteraturan bisa dihindari. Dan di antara perangkat utamanya adalah sikap sabar.

Sebagai hamba Allah, kita bukan makhluk yang memiliki otoritas sepenuhnya atas diri kita. Bagaimana kita berpakaian, beradab, dan bergaul, semuanya ada yang mengatur. Siapa yang mengatur? Dia adalah yang tidak memiliki kepentingan yang netral, yang Maha Menciptakan kita, yaitu Allah Azza wa Jalla.

Dialah Dzat yang paling tahu kebutuhan makhluk ciptaan-Nya. Karena itulah dibuat aturan, dibuat tatanan agama. Tanpa agama, semua akan kacau. Agama mengajarkan mana garis hijau, garis merah, dan garis kuning. Mana yang halal, haram, dan makruh.

Allah memerintahkan kita memohon pertolongan kepada-Nya dalam mengatasi bermacam persoalan hidup dengan sabar dan salat. Apa makna di balik perintah tersebut?

Kita bisa merenung bahwa untuk mengatasi persoalan dalam hidup, kita tidak bisa mengambil keputusan secara tiba-tiba, instan, atau pun serampangan. Sebab, masalah itu seperti benang kusut. Jika kita mau mengurai benang kusut, tentu perlu kesabaran dan ketelitian.

Baca Juga :  Membiasakan Alhamdulillah dalam Keseharian

Kita lihat dahulu masalahnya di mana; kita melihat kekurangan-kekurangan kita; baru setelah itu kita bertindak. Dan itulah inti dari kesabaran.

Kesabaran dimulai dari perenungan dan pengamatan, di antaranya melalui salat dan munajat kepada Allah SWT tempat kita menggantungkan segala persoalan hidup. Setelah mengamati dan mendiagnosis, lalu kita mengambil tindakan. Tindakan ini tentu berdasarkan petunjuk dari Allah SWT, dari hasil kita bermunajat kepadanya. Setelah itu, kita bersabar terhadap hasil yang Allah berikan.

Dengan kesabaran ini, seseorang akan menjadi lebih bijak dalam menghadapi masalah. Karena, dia mengambil tindakan atau sikap dalam perhitungan yang pas. Dalam menghadapi persoalan-persoalan genting; pemimpin negara, pemimpin masyarakat, pemimpin perusahaan, dan pemimpin dalam berbagai tingkatan harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi.

Dia harus mengakomodasi masukan dan aspirasi dari rakyat serta para stakeholder (para pemegang kepentingan). Dia juga dituntut untuk dapat memadukan itu semua lalu bisa mengambil sikap yang jelas dan tepat.

Jadi, sabar itu dimensinya horizontal; ia bisa mengamati persoalan, mendiagnosis, lalu mengambil tindakan yang tepat. Dan yang menunjang kesabaran adalah faktor vertikal, hubungan kita dengan Allah SWT. Kita memohon kepadanya dalam salat; meminta solusi dalam lantunan doa-doa yang kita panjatkan.

Salat menimbulkan ketenteraman, kejernihan berpikir, kedekatan kita dengan Allah SWT, sebagai pengatur alam semesta untuk memberikan jalan keluar terbaik bagi persoalan yang kita hadapi. Kita sudah berusaha, berikhtiar, lalu kita konsultasikan itu semua kepada Allah. Mudah sekali bagi Allah untuk mengurai kesulitan karena, bahkan, manusia dengan segala potensinya pun diciptakan oleh Allah SWT.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.