Sally Giovany, Muslimah Pengusaha Batik Beromzet 2,1 M Per-bulan

69
Sally Giovany, Pengusaha Muslimah Batik

Suaramuslim.net – Muslimah yang satu ini tidak bisa diremehkan. Pemilik toko batik online yang sudah memutuskan untuk berwirausaha sejak usia 18 tahun sudah beromzet miliaran rupiah per-bulannya. Bagaimana dia memulainya?

Sally Giovany, muslimah cantik sekaligus sukses dengan bisnis batik Trusmi yang merupakan batik khas Cirebon. Wanita. Dikutip dari lisubisnis.com, awalnya Sally memulai bisnis dengan menjual batik khas Cirebon. Produk batik ini ditawarkan dengan cara berkeliling pasar di Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Berawal dari toko berukuran kecil, sekarang Sally sudah mempunyai toko grosir batik Trusmi yang luasnya mencapai 1,5 hektar. Sally mengutamakan kualitas baik dengan harga yang sedikit lebih mahal untuk produk batik Trusmi-nya.

Sally telah mencetak rekor muri sebagai toko batik terluas dan termuda, yaitu 22 tahun. Sekarang bisnisnya sudah sangat berkembang dengan mempunyai 9 showroom di 5 kota di Indonesia, yaitu Cirebon, Bandung, Jakarta, Medan, dan Surabaya. Sally telah membuka lapangan pekerjaan untuk lebih dari 1.350 orang. Omzetnya sekarang sudah mencapai 700 juta per minggu.

Dilansir dari pengusaha.us, Sally memulai dengan membeli kain mori di pabrik, Sally menjualkan ke pengrajin batik Cirebon. Dia membeli kainnya per- meter. Karena kain mori dibeli Sally itu tipis, Alhasil untung dihasilkan Sally sangat sedikit dan punya resiko besar tidak laku. Membuat batik sendiri menjadi siasat ia mendapatkan untung lebih.
Salain itu, dia dan sang suami merekasakan ketertarikan akan pola batik. Keduanya setuju berguru ke seorang pengrajin batik. Mereka menjalin kerja sama agar bisa dibuatkan batik Cirebon. “Saya banyak belajar. Kemudian bermitraan dengan pembuat batik,” pungkasnya.

Keuntungan berjualan batik jika dihitung-hitung lumayan. Jika dia menjual 36 meter kain polos hanya untung Rp.10.000. Jika pengrajin sudah mengolah maka 2 meter untung Rp.5000. Dia mulai membuat desain batik sendiri. Pertama kali membatik dia membuat batik cap kemudian batik tulis khas Cirebon.

Mendapat Pemandangan Toko Laris di Depan Tokonya

Profesionalitas Sally diuji bukan sekedar untung. Wanita mualaf berjilbab ini tidak mau setengah-setengah dalam mendalami batik, dia memproduksi cap dan batik. Melewati jalan panas, berdebu, keringat bercucuran, Sally mampu masuk ke pasar Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Suatu saat dia membuka toko batik. Dan sialnya mereka membuka didepan toko batik besar. Setiap hari, Sally dipaksa melihat banyak pengunjung datang di toko batik depannya. Toko batik di depannya, selalu penuh, mobil-mobil terus berjejer parker hamper di semua waktu. Toko Sally, kalah telak di banyaknya koleksi batik dan luasnya tempat. Namun justru itulah yang membuatnya terpacu. Ia penasaran dengan teko batik besar yang ada di depan tokonya itu. Ia terus belajar, apa yang kurang, apa yang perlu ditambahkan.

Ia kemudian menemukan bahwa kelebihan batik miliknya adalah menyasar pasar anak muda. Dan ketika batik booming tidak salah jika usahanya makin diminati. Menurutnya semua karena Cirebon mulai menjadi kota wisata. Nama batik asli dari Cirebon menggema ke seantero Indonesia. Sukses Sally selain melakukan diferensiasi, adalah keputusan menggunakan nama Trusmi. Nama daerahnya ini diubah menjadi brand-nya sendiri. Nama Trusmi sendiri juga merupakan kepanjangan “Terus Bersemi”.

Mulai batik formal sampai batik santai dia produksi. Nama Trusmi menjelma menjadi ikon Kota Cirebon. Sayangnya tidak semulus dibayangan ketika mulai naik daun. Dia pernah ditipu ketika tengah tenar. Namun dia hanya berkomentar, “Semua pengusaha punya jatah gagal,” optimisnya. Baginya setiap orang punya hak berusaha.
“Kita tinggal meningkatkan kualitas,” imbuhnya. Sally lebih memilih dikomplain soal harga. Dibanding kalau dia dikomplain soal bahan.

Menjadi mualaf memberikan kesan berbeda. Menurutnya semenjak memakai hijab usahanya makin maju. Ia menyebut mendekatkan diri ke Allah subhanahu wa ta’ala merupakan cara ampuh ketika menemui kesulitan. Ini, dia lakukan saat jadi korban penipuan yang membuatnya sempat depresi. “Semua membaik saat kembali ke Allah,” ujarnya.

Kini, Ibu dua anak tersebut kemudian membuka Yayasan Rizky Berlimpah Berkah. Yayasan tersebut sebagai satu penyaluran baginya atas nikmat Tuhan. Di sisi lain dia juga membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Juga membagi ilmunya cuma-cuma, lewat banyak seminar, pengajian, pelatihan, dan pameran usaha.

Usahanya memberikan 850 orang pekerjaan sebagai karyawan. Lebih dari 500 pengrajin batik Cirebon ikut menjadi mitra binaan. Batik Trusmi makin laris di pasaran omzetnya mencapai 100 jutaan. Umurnya masih 26 tahun tetapi visinya masih luas buat membuka usaha. Kini kiosnya mencapai 1,5 hektar menjadi yang terluas di Indonesia.

Puluhan wisata datang mampi membeli batik. Meski cuma lulus SMA, dia memiliki gaji di atas mereka yang berijasah S-1 dan S-2. Ibu dari Faisal Annur dan Nayla Almahira ini tidak berprofit oriented. Maksudnya ia lebih memilih harga dinaikan biar kualitas terjaga. Tidak laku sudah menjadi hal biasa dalam perjalanan Sally. (yet/snm)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here