Satu Sandal Muhammadiyah Hilang
Dahnil Anzar Simanjuntak. (Panjimas)

Penulis: Misbahul Huda, MBA*

Suaramuslim.net – Saya malam-malam sebelum tidur terkejut dengan berita yang beredar, bahwa mas Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah mengembalikan uang 2 miliar. Padahal fakta di lapangan dan klarifikasi dari sang istri menyampaikan bahwa yang mengembalikan adalah organisasi bukan pribadi.

Kalau melihat dari kejanggalan berita, maka ini yang disebut dengan framing. Memberikan frame semau yang memberitakan. Saya ke pasar membeli ikan, di media bisa ditulis, Misbahul Huda menerima curhat pedagang ikan.

Dari sisi media, pengiringan opini itu wajar, digeser sedikit. Media selalu membawa misi. Tapi kalau kebablasan terlalu bertolak belakang dengan fakta, maka framingnya sudah berubah menjadi fitnah.

Masalahnya adalah, framing dilakukan oleh media-media mainstream dan dilakukan secara serempak. Sehingga masyarakat seperti dikeroyok berita yang benar adanya. Ketika masyarakat yang menyebarkan disebut hoax, tapi kalau media-media mainstream yang memberitakan, apakah adil jika disebut kebenaran?

Inilah yang disebut oleh Dr. Dedi Sahputra dalam buku “Politik Belah Bambu Jokowi” dikenal sebagai media mainstream seperti “koor paduan suara”. Dari buku ini saya memahami bahwa penyempurnaan interaksi media dengan pemerintah pada akhirnya akan membentuk opini publik yang dramatis.

Baca Juga :  Pemuda Muhammadiyah Minta Kadernya Jaga Asrama Papua

Kasus mas Dahnil hanyalah satu keping. Tentu ada kasus lain. Ingat bagaimana gempa Palu, pemerintah menyatakan tidak ada penjarahan dan kenyataan di lapangan penjarahan benar-benar ada. Perbedaan kenyataan dengan pernyataan pemerintah hanya akan memunculkan fakta bahwa yang dilakukan cuma pencitraan.

Untungnya yang diterjang adalah organisasi Pemuda Muhammadiyah. Memiliki massa yang solid. Sekali diterjang opini berbeda, gemuruh massa kemudian menampilkan kebenarannya. Sehingga muncul meme, pemerintah minta uang dua miliar dikembalikan. Tidak sadar kalau pemerintah melalui BPJS masih utang 300 miliar ke Rumah Sakit Muhammadiyah di Jateng saja (detik.com 24/09/2018). Waduh, ini seperti satu sandal Muhammadiyah hilang karena masih banyak diutang. Cuma Jateng lho, ya.

Kekuasaan itu penting, tapi kejujuran dan nurani lebih penting. Karena hati yang akan menjadi referensi pilihan dan perilaku kita. Saatnya memilih dengan hati.

*Pengusaha, Spiritual Trainer dan Penulis buku serta caleg DPR RI 2019 PKS Dapil Jatim 1 Surabaya Sidoarjo.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.