Sejarah Al Quran, Cara Diturunkan, dan Pembagiannya
Al Quran.

Suaramuslim.net – Al Quran sebagai mukjizat terbesar Rasulullah SAW yang tetap lestari sampai akhir zaman. Setiap muslim membaca dan mempelajarinya, bahkan non muslim pun banyak yang mempelajari sampai akhirnya mendapat hidayah masuk Islam. Bagaimana sejarah singkatnya? Kami hadirkan berikut ini yang disarikan dari Al Quran dan Terjemah Departemen Agama RI tahun 1992 cetakan Semarang.

Arti kata Quran dan apa yang dimaksud dengan Al Quran

“Quran” menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Subhi Al-Salih berarti “bacaan” asal katanya adalah qara-a. Kata Al Quran itu berbentuk masdar dengan arti isim maf’ul yaitu maqru (dibaca).

Di dalam Al Quran sendiri ada pemakaian kata “quran” dalam arti bacaan seperti dalam ayat 17, 18, surah Al-Qiyamah:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ  فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

“Sesungguhnya mengumpulkan Al-Quran (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu), jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya.”

Kemudian dipakai kata “quran” itu untuk Al Quran yang dikenal sekarang ini. Adapun definisi Al Quran ialah: “Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah.”

Dengan definisi ini, kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Quran seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Demikian pula kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti hadis qudsi, tidak pula dinamakan Al Quran.

Cara-Cara Al Quran Diwahyukan

Nabi Muhammad SAW dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan, di antaranya:

  1. Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi SAW tidak melihat sesuatu apa pun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: “Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam kalbuku.” (Lihat surat Asy-Syuura ayat 51).
  1. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.
  1. Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim yang sangat dingin. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: “Aku adalah penulis yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku melihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa.”
  1. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan nomor dua, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al-Quran surat An-Najm ayat 13 dan 14.
Baca Juga :  Testimoni Para Pembaca Surah Al Baqarah

 

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ  عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ

 “Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika (ia berada) di Sidratulmuntaha.”

Hikmah Al Quran Diturunkan Berangsur-rangsur

Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun, 2 bulan, 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Makkah dan 10 di Madinah. Hikmah Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur itu ialah:

  1. Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Al-Bukhari dari riwayat Aisyah.
  1. Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kemaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al-Quran diturunkan sekaligus (ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).
  1. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
  1. Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al-Quran tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran surat Al-Furqan ayat 32, yaitu: “mengapakah Al-Quran tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri: “Demikianlah dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu….”
  1. Di antara ayat-ayat itu ada yang merupakan jawaban dari pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al-Quran diturunkan sekaligus.

Ayat-Ayat Makkiyah dan Ayat-Ayat Madaniyyah

Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al-Quran itu dibagi atas dua golongan. Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah atau sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Makkiyyah. Adapun ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Madaniyyah.

Ayat-ayat Makkiyyah meliputi 19/30 dari isi Al-Quran terdiri atas 86 surat, sedang ayat-ayat Madaniyyah meliputi 11/30 dari isi Al-Quran terdiri atas 28 surat. Perbedaan ayat-ayat Makkiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah ialah:

  1. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek sedang ayat-ayat Madaniyah panjang-panjang. Surat Madaniyah yang merupakan 11/30 dari isi Al-Quran ayatnya berjumlah 1.456, sedang surat Makkiyah yang merupakan 19/30 dari isi Al-Quran jumlah ayatnya 4.780 ayat. Juz 28 seluruhnya Madaniyyah kecuali surat Mumtahanah, ayat-ayatnya berjumlah 137. Sedang juz 29 ialah Makkiyyah kecuali surat Ad-Dahr, ayat-ayatnya berjumlah 431. Surat Al-Anfal dan surat Asy-Syura masing-masing merupakan setengah juz tetapi yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua Makkiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227.
  1. Dalam surat-surat Madaniyyah terdapat perkataan “yaa ayyuhalladzina aamanu” dan sedikit sekali terdapat perkataan “yaa ayyuhannnas” sedang dalam surat-surat Makkiyah adalah sebaliknya.
  1. Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti. Sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketatanegaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antar agama dan lain-lain.
Baca Juga :  Komitmen Kita Kepada Al Quran

Nama-Nama Al Quran

Allah memberi nama kitab-Nya dengan Al Quran yang berarti “bacaan.” Arti ini dapat kita lihat dalam surat Al-Qiyamah; ayat 17 dan 18 sebagaimana tersebut di atas.

Nama ini dikuatkan oleh ayat-ayat yang terdapat dalam surat Al-Isra ayat 88; surat Al-Baqarah ayat 85; surat Al-Hijr ayat 87; surat Thaha ayat 2; surat An-Naml ayat 6; surat Al-Ahqaf ayat 29; surat Al-Waqiah ayat 77; surat Al-Hasyr ayat 21 dan surat Ad-Dahr ayat 23.

Menurut pengertian ayat-ayat di atas Al Quran itu dipakai sebagai nama bagi kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Selain Al Quran, Allah juga memberi beberapa nama lain bagi Kitab-Nya ini seperti:

  1. Al-Kitab atau Kitabullah: merupakan sinonim dari perkataan Al Quran sebagaimana tersebut dalam surat Al-Baqarah ayat 2 yang artinya: “Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya….” Lihat pula surat Al-An’am ayat 114.
  1. Al-Furqan: “Al-Furqan” artinya “pembeda.” Membedakan yang benar dan yang batil, seperti disebut dalam surat Al-Furqan ayat 1 yang artinya: “Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al-Furqan, kepada hamba-Nya, agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam.”
  1. Adz-Dzikir: Artinya “peringatan” sebagaimana yang tersebut dalam surat Al-Hijr ayat 9 yang artinya: “Sesungguhnya Kami lah yang menurunkan Adz-Dzikir dan sesungguhnya kami lah penjaganya.” (Lihat pula surat An-Nahl ayat 44).

Selain nama-nama itu, ada lagi beberapa nama Al Quran. Imam As Suyuthi dalam kitabnya Al-Itqan, menyebutkan nama-nama Al-Quran, di antaranya: Al-Mubin, Al-Karim, Al-Kalam, An-Nur.

Surat-Surat dalam Al Quran

Jumlah surat yang terdapat dalam Al-Quran ada 114 surat; nama-namanya dan batas-batas tiap-tiap surat, susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah sendiri (taufiqi).

Sebagian dari surat-surat Al-Quran mempunyai satu nama dan sebagian yang lain mempunyai lebih dari satu nama.

Baca Juga :  Fitrah Manusia Beragama Islam (Tauhid)

Surat-surat yang ada dalam Al-Quran ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian, yaitu:

  1. Assab’uth Thiwal, tujuh surat yang panjang. Yaitu: Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al-A’raf, Al-An’aam, Al-Maidah dan Yunus.
  1. Al-Miuun, surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih seperti: Hud, Yusuf, Mukmin dsb.
  1. Al-Matsaani, surat-surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat, seperti: Al- Anfaal, Al-Hijr dsb.
  1. Al-Mufashshal, surat-surat pendek, seperti yang terdapat dalam juz 30.

Huruf-Huruf Hijaiyah pada Permulaan Surat

Di dalam Al-Quran terdapat 29 surat yang dimulai dengan huruf-huruf hijaiyyah yaitu pada surat-surat: Al-Baqarah, Ali Imran, Al-A’raf, Yunus, Yusuf, Ar-Ra’d, Ibrahim, Al-Hijr, Maryam, Thaha, Asy-Syura, An-Naml, Al-Qashas, Al-Ankabut, Ar-Rum, Lukman, As-Sajdah, Yasin, Shad, Al-Mu’min, Fushshilat, Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf, Qaf dan Al-Qalam (Nun).

Huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada permulaan tiap-tiap surat tersebut di atas, dinamakan “fawaatihush shuwar” artinya pembukaan surat-surat. Banyak pendapat dikemukakan oleh para ulama tafsir tentang arti dan maksud huruf-huruf hijaiyah itu.

Pembagian Al Quran

Sejak zaman sahabat Nabi, telah ada pembagian Al Quran menjadi ½, 1/3, 1/5, 1/7, 1/9 dan sebagainya. Pembagian tersebut hanya untuk hafalan dan amalan dalam tiap-tiap sehari semalam atau di dalam salat, dan tidak ditulis di dalam Al Quran atau di pinggirnya. Barulah pada masa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi diadakan penulisan di dalam atau di pinggir Al Quran dan ditambah dengan istilah-istilah baru.

Salah satu cara pembagian Al Quran itu, ialah dibagi menjadi 30 juz, 114 surat, dan 60 hizb. Tiap-tiap satu surat ditulis namanya dan ayat-ayatnya dan tiap-tiap hizb ditulis sebelah pinggirnya yang menerangkan hizb pertama, kedua, dan seterusnya. Dan tiap-tiap satu hizb dibagi 4.

Pembagian cara inilah yang dipakai oleh ahli-ahli qiraat Mesir, dan atas dasar itu pula lah pencetakan Amiriyah milik pemerintah Mesir mencetak Al Quran semenjak tahun 1337 Hijrah sampai sekarang di bawah pengawasan para guru besar Al-Azhar.

Al Quran terdiri dari 114 surat dan dibagi menjadi 30 juz terdiri atas 554 ruku’. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedangkan surat yang pendek berisi satu ruku’. Tiap-tiap satu ruku; diberi tanda di sebelah pinggirnya dengan huruf ع.

Al Quran yang beredar di Indonesia dibagi menurut pembagian tersebut di atas, seperti cetakan Cirebon dan lain-lainnya.

Adapun pertengahan Al Quran (Nisfhul Quran), terdapat pada surat Al-Kahf ayat 19 pada lafaz وَلْيَتَلَطَّفْ (walyatalathaf).

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.