Selamat Ulang Tahun Ke 725 Surabaya

Suaramuslim.net – Kelahiran dan kematian adalah takdir yang tak bisa kita pilih. Namun perjalanan menuju kelahiran dan kematian manusia punya “kuasa” untuk menentukannya. Misalnya kita akan menjadi baik atau buruk, kita punya kuasa untuk memilihnya, sebagaimana kita mau menjadi beradab atau tidak.

Kuasa untuk “menjadi” itulah yang disebut usaha. Nah, apapun yang kita jalani untuk menjadi sesuatu merupakan kuasa kita untuk menentukan takdir sebagaimana yang kita harapkan. Kita menjadi seperti sekarang ini bukanlah sesuatu yang “given”. Kita menjadi seperti sekarang ini karena memang kita menghendaki terjadinya seperti ini. Usaha kitalah yang menjadikan kita seperti sekarang ini.

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu tak mau mengubah apa-apa yang ada dalam diri mereka sendiri”.

Baik dan buruk, santun dan tidak dan lain-lain adalah peristiwa perjalanan yang dibangun oleh manusia. Begitu juga sebuah perilaku yang terjadi pada masyarakat, tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup dan tatanan yang dilakukan sebelumnya. Apa yang terjadi di Surabaya, tentu juga berlaku hal yang sama.

Surabaya di usianya yang ke 725 hari ini dengan segala capaian dan peristiwa yang dialami, tidak bisa dilepaskan dari sebuah upaya yang dibangun dan direncanakan. Tak bisa dilepaskan dari upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan pemimpinnya. Sehingga capaian-capaian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi merupakan akibat dari pilihan sikap yang dilakukan.

Baca Juga :  Refleksi Jihad Politik Muhammadiyah

Ditengah usianya yang semakin senja, Surabaya memang banyak berubah, semakin cantik dan elok, semakin bersih dan tentu Surabaya semakin dikenal oleh masyarakat luas. Tapi apakah itu semua kemudian menjadikan semua warganya bahagia atau tidak?

Ternyata dari indeks kebahagiaan yang ada, Kota Surabaya merupakan kota yang tidak bahagia, karena kemacetan, kebisingan dan ketidaknyamanan menjadi faktor pemicu yang menjadikan masyarakatnya tidak bahagia.

Mengapa bisa terjadi? Pembangunan tentu selalu berdampak, apa yang terjadi di Surabaya, dibangunnya taman-taman indah, jalan-jalan yang mulus dan trotoar yang cantik adalah capaian yang sebagian orang merasa nyaman dan diuntungkan.

Siapa yang Menikmati Pembangunan?

Lalu siapakah yang menikmati? Tentu tidak semua masyarakat, trotoar yang cantik hanya bisa dinikmati dan menguntungkan mereka yang punya rumah dan tempat di jalan-jalan yang mulus itu. Rakyat di kampung apakah bisa menikmatinya? Tentu tidak selalu. Masih banyak jalan di kampung yang bertahun-tahun mengalami kerusakan, tapi belum ada perbaikan, sementara kaum berpunya selalu bisa menikmati pembangunan yang dilakukan pemerintah.

Belum lagi layanan kesehatan. Layanan kesehatan bagi masyarakat kebanyakan tentu berbeda dengan mereka yang berpunya. Kaum berpunya tentu bisa menikmati layanan kesehatan yang baik dan cepat, karena layanan yang baik dan cepat tidak bisa dilepaskan dari uang yang dimiliki.

Bagi rakyat kebanyakan, antrian dan minimalnya layanan yang diberikan menjadi tontonan sehari-hari. Rumah sakit dan puskesmas pemerintah kota memang sudah modern, tapi apakah layanannya juga modern? Ternyata tidak. Bahkan kalau boleh dikatakan layanan kesehatan di Surabaya tak sebanding dengan fasilitas yang dimiliki.

Baca Juga :  Calon Jemaah Haji Surabaya Gelar Shalat Ghaib Untuk Korban Gempa Lombok

Bagi rakyat miskin dan kebanyakan yang melakukan perawatan kesehatan di rumah sakit pemerintah kota, untuk bisa mendapatkan layanan kesehatan sampai bisa ditangani dokter, setidaknya butuh waktu 4 jam mulai dari pendaftaran sampai dipanggil untuk mendapatkan layanan dokter. Bahkan bisa lebih.

Empat jam bukanlah waktu yang pendek, karena hampir menghabiskan separuh hari. Dan itu tentu bagi masyarakat akan sangat merugikan, mereka harus meninggalkan pekerjaan dan itu berarti mereka kehilangan rezekinya. Baiknya fasilitas tidak dibarengi dengan etos melayani yang baik, akan berdampak apa yang sudah baik akhirnya terkesan tidak baik dan menimbulkan ketidaknyamanan.

Belum lagi layanan pendidikannya, tidak semua rakyat miskin mendapatkan akses pendidikan yang baik. Bangunan-bangunan sekolah kita sudah cukup memadai, kesejahteraan tenaga pendidik boleh dikatakan mumpuni, karena pemerintah kota berupaya meningkatkan kesejahteraan mereka. Harapannya mereka bisa memberi layanan yang terbaik. Tapi apakah itu semua bisa secara otomatis terjadi? Ternyata tidak selalu.

Data tahun 2015 yang pernah dirilis Kementrian Pendidikan bisa menjadi potret buruknya layanan, karena tidak semua anak usia sekolah yang bersekolah bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang berikutnya. Dari SD ke SMP sekitar 13 %, dari SMP ke SMA/SMK sekitar 37 %. Alasan klasiknya adalah biaya, padahal pemerintah kota sudah menegaskan adanya wajib belajar 12 tahun.

Baca Juga :  Derry Sulaiman: Pro Kontra Deklarasi itu Sudah Biasa

Tata kelola manajemen pendidikan di tingkat kota dan sekolah adalah salah satu penyebabnya. Sehingga boleh jadi sinyalemen yang ada terjadi di Surabaya, gedungnya abad 20, muridnya abad 21, guru dan pengelola manajemennya abad 19. Sehingga meski fasilitasnya baik, layanan yang diberikan tidak berkecedendrungan baik, karena pengelola manajemennya tertinggal.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Sebagaimana perkembangan Surabaya yang begitu pesatnya, tentu tak bisa diraih dengan cara kerja yang biasa, dibutuhkan cara kerja yang serius dan fokus. Terukur dan terencana. Etos kerja dan layanan kerja mesti harus dibentuk.

Lambatnya layanan kesehatan masyarakat dan kinerja pendidikan dalam memberi layanan, tentu tak bisa dilepaskan dari etos kerja pemberi layanan. Ketepatan dan kecepatan menjadi sebuah tuntutan kinerja abad modern. Surabaya yang beranjak menjadi kota megapolis tentu tidak bisa dilepaskan dari layanan yang bermental modern dan megapolis. Perbaikan mental dan etos kerja menjadi sebuah keharusan yang harus dilakukan oleh walikota dan jajarannya.

Semoga saja di hari jadimu yang semakin renta ini, Surabayaku tak semakin genit.

Selamat ulang tahun Surabaya, semoga engkau semakin baik melayani dan ramah terhadap rakyatmu.

*Ditulis di Surabaya, 31 Mei 2018
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here