Solusi Problematika Mertua-Menantu

Solusi Problematika Mertua-Menantu

Solusi Problematika Mertua-Menantu

Suaramuslim.net – Hubungan menantu dan mertua seperti tiada akhir. Terlebih jika keduanya masih tinggal dalam satu atap. Hal kecil saja bisa melebar pada masalah lain. Akibatnya, hubungan kekeluargaan jadi berantakan.

Bersitegang dengan mertua tentu bukanlah hal yang diinginkan oleh setiap menantu. Meski demikan, masih ada saja yang mengalami konflik antara keduanya, bahkan hingga berlarut-larut. Berbagai macam pemicu bisa jadi penyebabnya. Jika mertua merasa bahwa menantunya kurang memberi perhatian pada pasangannya yang merupakan anaknya, pasti juga akan memicu konflik.

Atau, pemicu lain yang sering muncul adalah masalah anak. Masalah pengasuhan anak akan menjadi sebuah masalah antara mertua dan menantunya. Apalagi jika pasangan suami istri tersebut baru kali pertama punya keturunan. Mertua merasa sebagai orangtua yang lebih berpengalaman sering melibatkan diri dalam urusan pengasuhan anak. Tindakan ini acapkali menjadikan menantu tersinggung karena menganggap pengasuhan anak merupakan hak sekaligus tanggung jawab dia dan pasangannya dan muncullah perasaan haknya telah diambil oleh mertuanya.

Tak hanya itu, salah satu pemicu konflik yang lebih sensitif adalah urusan keuangan. Jika suami atau istri memberikan uang pada orangtua tanpa memberi tahu pasangannya, meski memiliki tujuan yang baik, tindakan ini juga bisa menimbulkan ketegangan tersendiri antara menantu dengan mertuanya. Mulanya mungkin hanya berdampak pada keretakan hubungan, dan juga bisa berakhir menjadi pertikaian.

Tips Cegah Konflik dengan Mertua

Ustadzah Choliliyah, Lc mengatakan bahwa masalah-masalah yang timbul seperti yang disebutkan sebelumnya sebenarnya bisa diselesaikan. Ia memaparkan beberapa tips dan trik khusus membangun hubungan harmonis dengan mertua.

Pertama, keduanya harus mencoba untuk saling mengerti dan saling memahami karakter. Sebagai mertua, harus memiliki rasa legowo atas kedatangan menantu di dalam kehidupannya. Begitupun dengan menantu, menjadi seorang menantu harus bisa memahami karakter mertuanya yang sekaligus menjadi orangtua barunya.

Kedua, jangan mudah menghakimi. Jika terjadi sebuah kesalahan, janganlah salah satunya untuk mudah menghakimi.  “Karena bagaimanapun tidak boleh menilai orang dari luarnya aja, namun juga harus menyelami batinnya,” ujarnya. Menurutnya, untuk mengenali karakter seseorang dan menilai seseorang membutuhkan waktu yang lebih dari hanya sekali pertemuan. Jadi untuk menyimpulkan seseorang tersebut baik atau tidak, tak bisa hanya sekilas pertemuan saja.

Ketiga, harus saling terbuka satu sama lain. jika memang menantu melakukan kesalahan, sampaikan kesalahan tersebut agar bisa diperbaki. Sebagai menantu maupun mertua jangan sampai hanya berani membicarakan kesalahan salah satunya di belakang saja. Jika menantu salah, maka tegurlah dengan baik agar ia bisa memperbaiki perilakunya. Terlebih jika itu tentang ibadahnya, atau hal lainnya.

“Karena sejatinya dalam Islam, menantu itu juga posisinya sama seperti anak. Hanya saja bukan merupakan darah dagingnya sendiri,” imbuhnya.

Keempat, harus memiliki perasaan hormat. Narasumber program Fiqih Muslimah di Radio Suara Muslim Surabaya ini  menjelaskan bahwa poin terakhir ini adalah poin yang harus dititikberatkan pada posisi menantu. Seorang menantu harus selalu merasa di bawah, harus menghormati mertuanya layaknya ia menghormati orangtuanya sendiri.

Kontributor: Mufatihatul Islam
Editor: Muhammad Nashir

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment