Strategi Nabi Ya'qub dalam Mengelola Konflik Anak

Suaramuslim.net – Kisah ini dimulai ketika Yusuf menceritakan mimpi kepada ayahnya. Ia bermimpi melihat 11 bintang, bulan dan matahari bersujud padanya (QS Yusuf [12]: 4-5). Ya’qub melarang Yusuf menceritakan mimpinya, agar saudara-saudara lain tidak melakukan rencana negatif kepada dirinya.

Rupanya, meski itu sudah dinasihatkan dan Yusuf pun juga tak bercerita, namun saudara-saudaranya masih menganggap Ya’qub pilih kasih (QS Yusuf [12]: 8) Inilah pemicu konflik. Menurut mereka, Yusuf lebih dicintai bapaknya daripada mereka, padahal anaknya bukan hanya Yusuf. Bagi mereka itu adalah kekeliruan yang nyata. Tidak terima dengan perlakuan itu, mereka pun bermusyawarah untuk menyingkirkan Yusuf. Ada yang mengusulkan pembunuhan, dibuang ke negeri yang jauh dan ada pula yang mengusulkan tak usah dibunuh; cukup dibuang ke sumur agar nanti bisa dipungut oleh para musafir (QS Yusuf [12]: 9-10).

Ide yang dipilih adalah paling akhir. Ini menunjukkan bahwa sebagai keluarga nabi, mereka masih memiliki keimanan dan kebaikan. Pasalnya, dari beberapa ide buruk yang diketengahkan, yang dipilih adalah yang paling kecil bahayanya. Ketika sudah tiba hari yang disepakati, mereka bersama-sama mendatangi Ya’qub untuk meminta izin agar Yusuf dibiarkan bermain bersama mereka. Sang ayah yang begitu sayang dan cinta kepada Yusuf sangat berat memberi izin karena khawatir nanti mereka lalai sehingga akan diterkam serigala (QS Yusuf [12]: 10-14).

Baca Juga :  Home Education: Mendidik Anak Sesuai Fitrah

Dengan entengnya mereka menjamin bahwa Yusuf akan aman bersama mereka.  Dengan alasan itu pula nanti saudara-saudara Yusuf mereka kematiannya. Diajaklah Yusuf bermain ke hutan, dan mereka melaksanakan rencana buruk yang telah dimusyawarahkan. Mereka pun kembali pada waktu petang kepada Ayahnya dengan alasan yang dibuat-buat (QS Yusuf [12]: 15-18)

Menariknya adalah respon Nabi Ya’qub ketika dikabarkan bahwa Yusuf dimakan serigala, bahwa itu adalah alibi palsu dan beliau pun berujar, “Fashabrun Jamīl” (maka kesabaran yang bagus). Maksudnya, Ya’qub lebih memilih bersabar tanpa mengeluh. Di samping itu, hanya kepada Allah beliau memohon pertolongan dari kasus itu (QS. Yusuf [12]: 18)

Kemudian, Yusuf akhirnya tumbuh dewasa di Mesir dan tinggal bersama Aziz (penguasa Mesir) dipungut menjadi anak. Beliau mengalami banyak hal di sana. Dirayu istri Aziz, diminta berbuat serong, dipenjara hingga keluar penjara menjadi orang kepercayaan Aziz lantaran telah menakwilkan mimpi raja dengan sangat mengesankan dan sesuai realita. Setelah lama tak berjumpa, pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya adalah ketika terjadi kemarau panjang atau musim paceklik. Kondisi ini membuat mereka mencari bantuan bahan makanan pokok ke Mesir. Di situ, Yusuf bertemu dan masih mengenali mereka. Mereka baru dibantu ketika mau mengajak saudara sebapak mereka (Bunyamin).

Baca Juga :  Kamilah Ayah dan Ibumu, Nak!

Di antara mereka pun ada yang kembali dan membujuk ayahnya. Meski pada akhirnya Ya’qub mengijinkan, tapi beliau tetap mewanti agar jangan sampai janji yang dulu pernah dilanggar terulang kembali sebagaimana kasus Yusuf. Di samping itu, ada penekanan sumpah dengan nama Allah. Kecuali, jika ada kondisi berbahaya yang memang tidak bisa dicegah (QS Yusuf [12]: 66).

Kesalahan itu terulang kembali. Yusuf merencanakan sesuatu sehingga Bunyamin tertahan karena tertuduh mencuri. Dan ia pun tak bisa kembali bersama saudara-saudaranya yang lain. Ketika Ya’qub tahu bahwa anaknya tertahan lantaran tuduhan mencuri, ia sedih bukan main, sembari membantah alasan anak-anaknya dan tak lupa mengucapkan, “fashabrun jamīl” (kesabaran yang bagus) sebagaimana sebelumnya (QS Yusuf [12]: 83) Meski demikian, dia tetap optimis bahwa Allah akan mengembalikan Yusuf dan Bunyamin kepadanya.

Pada akhirnya, mimpi Yusuf menjadi nyata. Bapak dan keluarganya bisa kembali bertemu di Mesir. Menariknya, Yusuf tak pernah dendam. Ia memaafkan segala kesalahan saudara-saudaranya (QS Yusuf [12]: 92). Para saudaranya juga meminta Ya’qub agar dimintakan ampun kepada Allah atas segala kesalahannya. Sebagaimana di mimpi, Ya’qub dimuliakan dan didudukkan di singgasana, demikian pula saudara-saudaranya yang kemudian sujud syukur atas nikmat ini.

Baca Juga :  Dashyatnya Efek Pelukan Hangat Orang Tua kepada Anak

Kisah yang diawali dengan konflik ini berakhir manis. Yusuf dan Bunyamin bisa kembali kepada Ya’qub, antar saudara kembali rukun, tidak ada dendam di antara mereka, dan mereka menjadi orang-orang terhormat dan mulia.

Dari kisah singkat itu, bisa ditarik pelajaran penting dari Nabi Ya’qub ‘alaihissalam dalam meredam konflik anak. Pertama, menutup segala peluang yang bisa menimbulkan konflik antar anak. Kedua, menyikapi kesalahan anak bukan dengan emosi dan kata-kata kasar. Ketiga, memberikan pendidikan agama dan akidah yang kuat pada anak. Keempat, menumbuhkan rasa optimis akan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Kelima, menanamkan akhlak mulia pada anak, sehingga kalaupun timbul konflik, akan cepat bisa diredam.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.