Sumpah Pemuda VS Sumpah Milenial

53
Sumpah Pemuda VS Sumpah Milenial

Suaramuslim.net – Setiap tanggal 28 Oktober bangsa Indonesia mengenang sejarahnya yang diilhami persatuan pemuda pada masa lalu, dikenal oleh generasi setelahnya sebagai Sumpah Pemuda. Dari sana pulalah ilham tentang persatuan pemuda–pemuda disatukan dalam kebangsaan.

Sebelum 1928, pemuda Indonesia masih berkumpul berdasarkan wilayah atau etnisitasnya masing–masing. Jong Java sebagai perkumulan pemuda jawa, Jong Sumatra kumpulan pemuda Sumatra, Jong Ambon sebagai pemuda Ambon, Jong Batak sebagai pemuda Batak, Jong Sumatranen Bond sebagai perkumpulan pelajar Sumatra, Jong Islamieten Bond sebagai kumpulan pemuda dan pelajar Islam Hindia Belanda.

-Advertisement-

Pada kongres ke II 27–28 Oktober 1928, mereka sepakat menghilangkan sekat daerah untuk menjadi satu identitas persamaan sebagai bangsa Indonesia. Hasilnya, generasi hari ini mengenal sebagai sumpah pemuda dengan tiga butir: satu bangsa, satu bahasa, satu Indonesia.

Hari pertama berkumpul di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng), Sugondo Djojopuspito sebagai ketua Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda.

Baca Juga :  Peran Pemuda Muslim dalam Sumpah Pemuda

Hari keduanya di Gedung Oost-Java Bioscoop mereka membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Semangat kongres pemuda yang mereka harapkan adalah persatuan dari nasionalisme Indonesia, berupa konseptualisasi yang meletakkan solidaritas dan kepentingan bersama di atas primordialisme, suku, dan agama.

Dari sana pulalah, kita mengenal pertama kali lagu kebangsaan Indonesia yang diciptakan oleh W.R. Soepratman kemudian dipublikasikan pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan.

Meski lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.

Mungkin generasi hari ini hanya bisa mengenang Sumpah Pemuda sebagai sebuah ilham kekinian yang membawa semangat sendiri. Namun, melihat kelahiran dari apa yang disebut pemuda milenial dengan zaman dan teknologi yang berbeda, masihkah sama sumpah yang harus mereka kerjakan?

Baca Juga :  Stadion Delta Sidoarjo Memutih Saat Istighotsah Kubro NU Jatim

Sumpah Milenial

Sosiolog Mannheim mengenalkan teorinya tentang generasi. Menurutnya, manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio-sejarah yang sama. Maksudnya, manusia-manusia zaman Perang Dunia II dan manusia pasca-PD II pasti memiliki karakter yang berbeda, meski saling memengaruhi.

Berdasarkan teori itu, para sosiolog—yang bias Amerika Serikat—membagi manusia menjadi sejumlah generasi: Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias Milenial, lalu generasi Z.

Generasi/pemuda milenial adalah mereka yang sejak kecil dan hingga kini bersentuhan langsung dengan kemajuan teknologi. Mereka membangun citranya sejalan dengan kemajuan teknolgi

Pemuda 1928 dan pemuda hari ini mempunyai suasana dan teknologi yang berbeda, saat itu mungkin dalam berkumpul menentukan kebijakan belum semarak menggunakan kertas, LCD proyektor, laptop, internet sebagai sarana mencari referensi, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menentukan kebijakan, begitu pula untuk menyampaikan kepada publik.

Baca Juga :  Refleksi Sumpah Pemuda: Memanen Bonus Demografi

Pemuda milenial, dipermudah dengan segala fasilitas yang ada, tentu gampangnya, mereka akan lebih mudah untuk bersatu dan menghasilkan karya yang lebih daripada peristiwa pemuda jaman lama.

Realitas Kekinian

Melihat kondisi hari ini mereka pemuda milenial mempunyai dua sisi, bangga sekaligus merana. Bangga melihat media sosial keseharian mereka memperlihatkan citra dirinya semakin baik, mengikuti kegiatan di luar negeri, acara kemanusiaan, statement di statusnya, dan impian–impiannya untuk bangsa ke depan.

Merananya bagi pemuda milenial masih banyak racun yang bersarang, mereka terlihat semakin apatis dalam keseharian, individualistis, tidak peka terhadap kondisi sekitar dan terkadang sulit dipersatukan.

Ilham tentang pusaran pemuda milenial turut menjadi perbincangan baru dalam keseharian kita, karena 1928 bangsa kita pernah besar di tangan pemuda, tentu pemuda milenial 2018 hasilnya semakin besar.

Masihkah jiwa Sumpah Pemuda masih ada dalam jiwa sumpah untuk milenial? Waktu yang akan menjawab. Saya meyakini bahwa mereka mempunyai semangat baru dan cara baru untuk memberikan karya nyata bagi Indonesia. Semangat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.