Beberapa pembicara dan civitas akademika UNUSA saat berfoto bersama usai opening acara FOKI, foto: Teguh/Suaramuslim.net

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) jadi tuan rumah pertemuan tahunan Forum Kedokteran Islam Indonesia (FOKI), Jumat (12/7). Mengambil tema “Empowering Community for Health Status Improvement,” pertemuan itu membicarakan peran fakultas kedokteran Islam di Indonesia terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan status kesehatan.

Kegiatan ini merupakan serangkaian acara Surabaya International Health Conference (SIHC), yang merupakan agenda dua tahunan pertemuan ilmiah di bidang kesehatan yang digagas Unusa. Secara kebetulan tahun ini juga peringatan Dies Natalis Unusa ke-6, sehingga semua dijadikan satu, kata Wiwiek Afridah, S.KM., M.Kes, selaku Ketua SIHC.

Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Dr. Handayani, M.Kes mengatakan, pertemuan rutin tahunan FOKI ini diikuti 30 delegasi dari Fakultas Kedokteran di Indonesia, dan Wakil Ketua Federation of Islamic Medical Association (FIMA), Prof. Abdul Rashid bin Abdul Rahman.

“Pertemuan ini sebagai momentum tepat bagi seluruh anggota FOKI untuk saling bertukar pikiran terkait upya menyinergikan energi tiga pilar antara rumah sakit, perguruan tinggi, dan masyarakat,” katanya.

Sebetulnya, kata Handayani, tiap fakultas kedokteran yang berbasis Islam sudah memiliki konsep untuk menyinergikan antara rumah sakit, perguruan tinggi, dan masyarakat. Unusa misalnya, dalam upaya menjalankan tiga pilar itu menjadikan PosKesTren (Pos Kesehatan Pondok Pesantren) sebagai ujung tombak dalam memberikan layanan kesehatan menuju peningkatan status kesehatan di lingkungan pondok pasantren.

“Unusa juga sudah menyiapkan mahasiswa untuk bisa bekerja di Rumah Sakit Syariah, tapi mungkin masih ada kekurangan yang harus dibenahi,” katanya.

“Hal lain yang menjadi topik dalam pertemuan itu adalah terkait ilmu kedokteran Islam yang dipadukan dengan kedokteran modern seperti pemanfaatan bekam dan ruqyah yang dalam Islam itu cukup dikenal,” lanjutnya.

Menurut Handayani, jika sinergi energi tiga pilar berjalan baik, maka Islam akan lebih eksis dan dikenal sebagai agama rahmatan lil alamin pada tingkat global. Apalagi, memasuki era revolusi industri 4.0 dengan berbagai perubahan dan disrupsi menjadi tantangan sekaligus peluang yang harus dihadapi perguruan tinggi.

Sementara Wiwiek Afridah, menambahkan, ada beberapa agenda dalam SIHC, selain pertemuan FOKI juga diagendakan pertemuan antara Unusa dengan University of Northern Pilipina (UNP) yang membahas tentang implementasi kerja sama di bidang penelitian serta pertukaran mahasiswa dan dosen, khususnya untuk bidang keperawatan dan kebidanan.

Selain itu digelar acara workshop leadership yang diselenggarakan secara online dengan topik Leadership Course on Tobacco Advocacy, beberapa pembicara dalam acara ini antara lain datang dari Turki, Malaysia dan Thailand.

“Di beberapa pondok pasantren di Turki punya budaya yang hampir sama seperti di Indonesia tentang rokok. Pembicara akan berbagi pengalaman terkait dengan upaya-upaya gerakan pencegahan anti tembakau atau anti rokok,” katanya.

Reporter: Teguh Imami
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.