Ustadz Hanan Attaki Kemas Dakwah Asik, Gaul dan Syari

0
373
Ustadz Hanan Attaki Kemas Dakwah Asik, Gaul dan Syari

Suaramuslim.net – Jika selama ini banyak dakwah ditujukan untuk orang-orang yang sudah aktif di masjid, Ustadz Hanan Ataki berbeda. Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo ini lebih tertarik untuk menjadikan pemuda-pemuda punk dan sejenisnya sebagai sasaran dakwahnya, dengan menciptakan konsep dakwah asik, gaul dan syari bagi pemuda.

Dakwah yang berbentuk taklim, menurut dia, selama ini seringkali menyentuh orang yang sudah aktif di masjid. Sementara remaja-remaja di luar sana sebenarnya banyak yang ingin disentuh dengan taklim-taklim.

Untuk merealisasikan konsep dakwah asik gaul dan syari, Hanan Attaki merilis sebuah gerakan bernama Pemuda Hijrah. Gerakan ini berdiri sejak Maret 2015, pemuda Hijrah didirikan oleh kurang lebih 5 orang. Ia menjelaskan bahwa Pemuda Hijrah bukanlah event organizer atau semacamnya, tapi merupakan gerakan. Logonya sendiri, terinspirasi dari logo tombol Shift yang ada di laptop atau PC  yang berarti pindah atau berubah.

Sejak rilisnya pemuda hijrah, akhirnya memutuskan ingin bermanfaat di kota Bandung, dan berdakwah lewat Pemuda Hijrah. Beliau ingin ada sistem perubahan pada masyarakat dengan adanya dakwah. Demi perubahan yang lebih baik, ia mengemas gaya ceramahnya dengan  ringan dan mudah diterima bagi remaja. Nilai plusnya, ia selalu memberi support pada setiap kajiannya untuk para jomblo agar segera menggenapkan setengah dien-nya. Ia bahkan punya istilah khusus untuk jomblo yang tetap ingin menjaga diri dari zina, dan terus mencari ilmu untuk segera menyempurnakan agama, yakni “Jomblo fii sabilillah”.

Modal Yakin Sama Allah

Ustadz Hanan tumbuh dengan didikan Islam dari kecil. Pria kelahiran Aceh, 31 Desember 1981 ini memiliki nama lengkap Tengku Hanan Attaki. Ia menamatkan sekolahnya di Pesantren Ruhul Islam Banda Aceh kemudian menghabiskan waktunya untuk berkuliah ke Al Azhar, Kairo, Mesir.

Sejak sekolah dasar, Hanan Attaki sudah mendapat beasiswa. Beberapa kali ia telah mengantongi kemenangan Musabaqah Tilawatil Quran. Hadiah yang didapatkannya kala itu pun sangat bermakna bagi Hanan kecil, mulai dari mendapat sepeda untuk dipakai ke sekolah, hingga mendapatkan televisi untuk keluarga di rumah.

Saat kuliah, ia pun mendapat beasiswa. Tidak tanggung-tanggung, ia mendapatkan beasiswa dari 3 lembaga pemberi beasiswa sekaligus. Di keluarganya, Hanan Attaki adalah orang pertama yang kuliah dan kuliahnya pun di luar negeri. “Ngga ngandelin duit. Murni dari nol. Doa dari orangtua. Dan Alhamdulillah terjadi perubahan yang signifikan di keluarga,” akunya.

Hal yang membuat Hanan Attaki bertahan adalah beliau yakin bahwa Allah subhanahu wa taala selalu bersamanya. Ia, dulu pernah khawatir dengan kondisi keuangan yang hanya pas untuk berangkat ke Kairo. Ia bahkan pernah akan membatalkan rencananya berkuliah di Mesir. Pasalnya, selain ia hanya punya uang pas untuk transportasi ke kairo, ia juga belum terdaftar di universitas itu, dan harus mendaftar ketika di sana. Kegundahan itu akhirnya dijawab oleh salah satu ustadnya. “Siapa yang beri kamu rezeki kamu di sini?” ujarnya menirukan sang Ustadz. “Allah,” jawabnya. “Nah Allahmu di Indonesia dan di Mesir kan sama? Ngapain takut,” ujar ustadznya.

Perjalanannya ke Mesir, murni berbekal keyakinannya pada Allah. Saat itu untuk ke Mesir masih menggunakan visa turis, dan saat di sana ia belum mendapatkan fasilitas tinggal di asrama mahasiswa gratis. Meski demikian, Allah tetap memberi fasilitas yang tak terduga bagi dirinya.

Keajaiban yang diberikan Allah padanya, tak berhenti sampai disitu. “Saat pengetesan memasuki universitas, ia tidak ditanya berapa nilai nilai saat sekolah di Indonesia, tapi ditanya, ‘Kamu bisa ngaji, ngga?’,” jelasnya.

Kemudian ia menjawab bahwa ia bisa mengaji dan mulai mengaji sesuai permintaan test tersebut. Dengan modal mengaji dan keyakinan pada Allah Hanan Attaki  bisa langsung masuk ke Al Azhar dan langsung mendapat beasiswa prioritas.

Untuk menghidupi dirinya di negeri orang, Hanan Attaki juga  berbisnis dari mulai jual bakso, bisnis catering, dan sempat jadi joki hajar aswad (pada saat musim haji). “Semua bermodalkan nekat dan keyakinan pada Allah.” Tutupnya. (muf/smn)

SHARE
Suara Muslim adalah jejaring media, menyajikan ragam materi yang mencerahkan, menyejukkan dan menyatukan secara on air, off air dan online.