Kampung Batik Laweyan. Solo.co.id

Suaramuslim.net – Jalan-jalan menggunakan kereta api mungkin hal biasa. Tapi kali ini saya jalan-jalan berkeliling Kota Solo menggunakan kereta uap. Nah, buat kalian yang sedang berada di Solo boleh banget dicoba naik kereta uap Sondokoro. Di Indonesia dan di seluruh dunia kereta uap sudah sangat berkurang jumlahnya. Dan menjajal menaiki kereta ini tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga. Cukup membayar 10.000 rupiah saja, kita bisa keliling sambil menikmati pemandangan.

Kereta uap ini sudah berusia 114 tahun. Kereta uap berjalan dengan bahan bakar kayu. Untuk Kereta Sondokoro butuh sekitar tiga kubik kayu. Semua kayu harus dipanaskan selama tiga jam sebelum kereta beroperasi. Umumnya Sondokoro adalah kereta pengangkut tebu yang akan diolah menjadi gula pasir. Namun kini Sondokoro menjadi kereta wisata.

Pabrik Gula Tasik Madu Solo

Di tengah perjalanan naik Sondokoro kita bisa mampir ke pabrik gula Tasik Madu. Mumpung pabrik gulanya sedang dibuka kita bisa melihat-lihat ke dalamnya. Karena jika tidak musim produksi, pabrik gula ini tutup. Pabrik Gula Tasik Madu merupakan pabrik gula tertua di Indonesia. Pabrik ini sudah berdiri sejak zaman Raja Mangkunegara IV tahun 1871. Dan semua alat yang digunakan masih asli saat pabrik ini pertama kali didirikan. Keren ya!

Nah, untuk mengolah tebu menjadi gula pasir butuh waktu tiga hari. Tebu digiling terlebih dahulu, kemudian melalui proses penyulingan. Setelah itu tahap kristalisasi. Kristal inilah yang disebut gula pasir. Setelah dikemas, gula pasir dari Tasik Madu dijual di pasar sekitar.

Syariah Hotel Solo

Puas jalan-jalan, saya pun mencari tempat istirahat yang tentunya nyaman dan mudah dicari. Tetapi bagi muslim masa kini tempat nyaman akan mendapatkan nilai plus bila dikelola juga secara syari, seperti Syariah Hotel Solo. Ini adalah hotel syariah terbesar di Indonesia.

Makanan di sinipun juga tak kalah enak dari hotel berbintang lainnya. Restoran di sini sudah mendapatkan label halal dari Majelis Ulama Indonesia. Dan tentu saja segala fasilitas yang ramah muslim ini memberikan kenyaman yang tak ada duanya. Meski bernuansa Islam tidak menutup untuk wisatawan nonmuslim yang ingin bermalam.

Kampung Batik Laweyan

Sejak 1970, Kampung Batik Laweyan sudah terkenal dengan kampungnya juragan batik. Laweyan berasal dari kata Lawe yang berarti serat kapas halus yang menjadi bahan baku kain. Menurut sejarah, batik solo pertama kali diperkenalkan sejak zaman Kerajaan Pajang. Pelopornya yaitu Ki Ageng Henis pada abad ke-16.

Sebelum zaman kemerdekaan, Kampung Laweyan memegang peranan penting dalam kehidupan politik. Sekitar tahun 1911, Sarekat Islam berdiri di sini dan KH. Samanhudi sebagai pendirinya. Di bidang ekonomi para saudagar batik Laweyan juga merupakan perintis pergerakan koperasi batik pada tahun 1935. Wajah baru Kampung Batik Laweyan kini dibuka sekitar 60 showroom batik.

Di sini kita bisa melihat proses membatik, workshop membatik, dan melihat koleksi batik-batik kuno. Uniknya di showroom batik juga sedang membuat batik Al-Qur’an. Dan untuk mencanting satu halaman saja dibutuhkan waktu dua hari.

Ya, Batik Al-Qur’an ini berukuran 80 x 115 cm sengaja digagas oleh pemilik salah satu showroom untuk memadukan kesenian batik dan pelajaran agama.

Kalau bicara soal batik pasti tidak jauh-jauh bicara soal fashion. Setelah batik Indonesia diakui Unesco sebagai warisan budaya tak benda, popularitasnya kian melambung. Jadi jangan heran jika batik kini diminati hampir semua kalangan.

Dan ternyata Laweyan tak hanya terkenal karena menjadi pusat batik terbesar di Kota Solo, tetapi di sini juga menjadi saksi lahirnya benih-benih pergerakan Islam yang kemudian aktif menyebarkan dakwah di Kota Solo dan mengisi sejarah perjuangan Indonesia.

Sumber: Youtube/halalliving

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.