8 Adab Safar bagi Seorang Muslim
Ilustrasi berkendara.

Suaramuslim.net – Melihat perkembangan zaman yang serba canggih dengan teknologi, manusia pun membuat alat transportasi. Dahulu orang-orang hanya menggunakan binatang-binatang seperti unta dan keledai. Tetapi dengan kecanggihan teknologi sekarang mereka pun membuat alat transportasi yang lebih bagus, kuat, indah dan cepat seperti motor, mobil, pesawat dan lainnya.

Menggunakan kendaraan, baik itu motor, mobil atau sepeda sudah menjadi rutinitas kita setiap hari, entah berkendara untuk berangkat ke masjid, ke kantor, mengantar anak ke sekolah, belanja ke pasar atau pun bertamasya.

Berbicara mengenai berkendara, keselamatan adalah yang utama. Untuk mewujudkan keselamatan itu, pemerintah sudah membuat peraturan-peraturan dalam berkendara, yang tujuannya adalah untuk menciptakan keselamatan serta kenyamanan dalam berkendara. Ketaatan pada peraturan lalu lintas, juga tidak lepas dari ajaran Islam dan keteladanan yang dicontohkan oleh Nabi. Dan ini bisa dijadikan komitmen oleh umat Islam untuk menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam.

Adab-adab safar yang perlu dipatuhi oleh seorang Muslim.  

  1. Mengingat Allah dan Berdoa Saat Berkendaraan

Seorang dianjurkan ketika awal memulai perjalanan agar membaca doa naik kendaraan yang pernah diajarkan oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Hikmahnya agar kita selalu mengingat Allah yang telah menganugerahkan dan menundukkan bagi kita kendaraan tersebut. Adapun lafaz doa naik kendaraan, sebagai berikut:

الْحَمْدُ لِلَّهِ {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

“Segala puji bagi Allah, Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesung-guhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Maha Suci Engkau, ya Allah! Sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” ( HR Abu Dawud 3/34, At-Tirmidzi 5/501, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/156.)

  1. Tidak Melanggar Peraturan ketika Berkendaraan
Baca Juga :  Kisah Video Sebelum Kecelakaan Maut dan Adab Safar bagi Seorang Muslim

Wajib bagi kita untuk menaati peraturan-peraturan yang berlaku ketika berkendaraan, seperti memakai helm pada tempat-tempat yang diwajibkan memakai helm, mempunyai surat-surat yang diperlukan ketika berkendaraan (SIM & STNK), berhenti ketika melihat lampu merah, dan lain-lain. Semua hal tersebut adalah kewajiban kita sebagai pengendara dan sebagai bentuk ketaatan kepada penguasa.

  1. Dzikir Safar

Ketika kita melakukan safar, setelah kendaraan melaju, hendaklah kita membaca doa yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam, yaitu:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ

“Ya Allah! Sesungguh-nya kami memohon kebaikan dan taqwa dalam bepergian ini, kami mohon per-buatan yang meridhakanMu. Ya Allah! Permudahlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah! Engkau-lah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan perubahan yang jelek dalam harta dan keluarga.” (HR Muslim No.1342 dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma)

  1. Tidak Ugal-ugalan di Jalan Raya
Baca Juga :  4 Adab Safar yang Wajib Diketahui

Seseorang hendaklah memerhatikan keselamatan dirinya dan keselamatan orang lain ketika berkendara. Jangan sampai kita menjadi sebab tertumpahnya darah seseorang serta rusaknya harta saudara kita.

  1. Merawat Kendaraan dan Tidak Membebani Melebihi Kapasitasnya

Kendaraan adalah nikmat dari Allah, maka hendaklah kita merawatnya dengan baik dan bukan sekadar hanya memakainya sesuka hati. Sebagaimana binatang ternak yang kita miliki, kita tak boleh membebaninya lebih dari kemampuannya. Di antara wujud kesyukuran kita kepada Allah, kita harus menyayangi kendaraan, apakah berupa hewan atau bukan, dan tidak membebaninya lebih kemampuannya.

Jadi, seorang muslim tidak boleh membebani kendaraan lebih dari kemampuannya, sehingga ia letih atau rusak. Kita juga harus memerhatikan bensin dan olinya sebagaimana halnya jika kendaraan berupa hewan, maka kita harus memerhatikan makanan, dan perawatannya. Kendaraan yang kita miliki harus kita rawat dengan baik; jangan dibiarkan terparkir di bawah terik matahari, tapi carilah naungan baginya. Jangan kalian bebani melebihi kapasitas kemampuan yang telah ditetapkan baginya.

  1. Memperlambat Laju Kendaraan ketika Berjalan di Jalan yang Sempit (Lorong) dan Mempercepat ketika Berjalan di Jalan yang Lapang
Baca Juga :  Kisah Video Sebelum Kecelakaan Maut dan Adab Safar bagi Seorang Muslim

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menegur seorang sahabat yang cepat dan tergesa-gesa dalam menuntun perjalanan para wanita yang menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji,

وَيْحَكَ يَا أَنْجَشَةُ رُوَيْدَكَ سَوْقَكَ بِالْقَوَارِيْرِ

“Wahai Anjasyah, celaka engkau ! Pelanlah engkau dalam menuntun para wanita”. [HR Al-Bukhoriy (6149, 6161, 6202, & 6209), dan Muslim (2323)]

  1. Memberi Hak kepada Jalanan

Jalanan juga mempunyai hak-hak untuk kita penuhi. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada para sahabatnya ketika seseorang duduk di pinggir jalan, “Waspadalah kalian ketika duduk di jalan-jalan”. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami harus berbicara di jalan-jalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian enggan, kecuali harus duduk, maka berikanlah haknya jalan”. Mereka bertanya, “Apa haknya jalan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

“(Haknya jalan adalah) menundukkan pandangan, menghilangkan gangguan, menjawab salam, memerintahkan yang ma’ruf, dan mencegah yang mugkar“. [HR Al-Bukhoriy (6229), dan Muslim (2121)]

  1. Dzikir ketika melewati jalan mendaki dan menurun.

قال جابر رضي الله عنه: كُنَّا إِذَا صَعَدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا.

Dari Jabir radhiallahu ’anhu, dia berkata: “Kami apabila berjalan naik, membaca takbir, dan apabila kami turun, membaca tasbih. (HR Al-Bukhari dengan Fathul Bari 6/135.)

Itulah delapan adab berkendara yang perlu dipatuhi seorang muslim.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.