Meningkatkan Kecerdasan Adversity Anak di Era Milenial

Meningkatkan Kecerdasan Adversity Anak di Era Milenial

Meningkatkan Kecerdasan Adversity Anak di Era Milenial

Suaramuslim.net – “Jatuh 7 kali, berdiri 8 kali.”

Itulah salah satu peribahasa Jepang. Sebuah peribahasa yang menandakan bahwa ada keuletan dalam kandungan maknanya. Tak khayal, peribahasa ini seirama dengan kondisi masyarakat Jepang yang maju dan pantang menyerah.

Hal ini senada dengan Stolzt, penggagas kecerdasan adversity. Melalui penelitiannya selama 19 tahun, Stolzt mengungkapkan bahwa kecerdasan ini sangat berarti bagi manusia agar mampu bertahan hidup. Bekalnya adalah ulet, sabar, teguh, kreatif, percaya diri, dan kemampuan mampu menyelesaikan masalah.

Lantas, apa hubungannya dengan anak era sekarang? Dunia yang serba canggih dan mudah berpotensi melemahnya kecerdasan ini dalam jiwa anak. Betapa banyak fakta miris tentang anak bunuh diri gara-gara tidak dibelikan HP. Itu sebagai contoh. Bahkan anak pun malas memenuhi kebutuhannya sendiri. Maunya serba instan dan cepat. Lambat laun, anak-anak krisis kepercayaan diri. Padahal karakter ini mendukung kecerdasan adversity anak.

Lalu, bagaimana, dong?

Perbanyak Sentuhan

Karena sentuhan memberikan efek kedekatan emosi. Anak yang sering disentuh orang tuanya terlebih ibu, akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Jatuh latihan berjalan, dipeluk ibu, lantas semangat lagi berlatih. 20 detik saja setiap pagi memberikan sentuhan kepada anak, bisa dengan merangkul, mendekap, dan sebagainya, cukup sebagai booster anak lebih percaya diri. Jika karakter ini tumbuh dalam jiwa anak, maka masalah akan mudah dihadapi. Anak tidak mudah putus asa.

Kembali mengingat tentang kebiasaan Rasulullah mendoakan anak-anak sambil mencium kening mereka. Hasilnya menakjubkan. Anak-anak bahagia. Maka lahirlah rasa percaya diri yang luar biasa. Lagi-lagi, karena ada sentuhan di sana. Umar bin Khattab pun memecat budaknya karena tidak pernah mencium anaknya.

Jangan Keterlaluan

Itulah yang terjadi sekarang. Orang tua sungguh berlebih rasa terlalunya. Terlalu khawatir, cemas, dan gelisah jika anak melakukan sesuatu. Bahkan ketika anak belum bertindak apapun.

“Ehm, iya, jangan lupa ya setelah main dirapikan mainannya. Jangan sampai berserakan dimana-mana. Capek bunda rapiin terus!”

Yang terjadi adalah anak tidak jadi mengeksplorasi mainannya. Belum apa-apa sudah ada pengumuman untuk bersih-bersih. Orang tua terlalu khawatir anak tidak mengingat nasihatnya. Di mata orang tua masalah anak itu banyak sekali, namun di mata anak masalah orang tua itu hanya satu, yaitu terlalu. Lantas, bagaimana anak akan kencang melaju. Diam adalah pilihannya. Maka kelumpuhan berpikir sangat mungkin sehingga menghambat stimulasi rasa percaya dirinya. Kecerdasan adversity hanyalah angan-angan saja. Coba ganti kalimatnya.

“Mau main, silakan. Bunda yakin kamu bisa memulai dan mengakhiri dengan lebih baik.”

Tantangan Demi Tantangan

Gairah hidup akan tumbuh jika ada tantangan. Anak-anak perlu diberikan hadiah berupa tantangan ini. Amati cara mereka menyelesaikannya. Jika di tengah jalan berputus asa, evaluasi. Apakah tantangan terlalu berat hingga membuat minder atau tantangannya terlalu ringan sehingga membuat sombong?

“Baiklah, tantangan liburan kali ini adalah mengecat tembok rumah. Diskusikan dengan saudaramu yang lain bagaimana rumah ini sedap dipandang.”

Wow, itu bahkan bisa menjadi momen yang sangat berkesan. Bayangkan pula jika tantangannya seperti ini.

“Oke, anakku, tantangan kali ini adalah mencukur rambut ayah.”

Seru, bukan? Selain menambah kelekatan, otomatis rasa percaya diri anak bangkit. Kecerdasan adversity bukanlah angan-angan ada dalam jiwa anak.

Namun demikian, tetaplah bahwa teladan kecerdasan ini luar biasa tampak dalam diri Rasulullah. Kesabaran dalam berdakwah, kepercayaan diri berperang dengan jumlah pasukan lebih sedikit, serta kisah lainnya yang mempesona. Dengan 3 hal di atas, minimal membantu orang tua meningkatkan kecerdasan adversity anak di zaman yang serba digital. Era milenial.

Kontributor: Henny Puspitarini*
Editor: Oki Aryono

*Anggota Spirit Nabawiyah Community

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment