Mencari bak sampah di kota Adipura Surabaya

Suaramuslim.net – Pada Sabtu, 30 Mei 2026, saya menggenggam selembar plastik bekas bungkus makanan sepanjang perjalanan dari Menanggal menuju pusat Kota Surabaya. Plastik itu tidak berat. Namun semakin lama saya membawanya, semakin besar pertanyaan yang muncul dalam benak saya.

Di mana bak sampah di kota ini?

Pertanyaan itu muncul setelah saya menyusuri Jalan Ahmad Yani, melintasi Jalan Raya Darmo, Jalan Urip Sumoharjo, hingga memasuki Jalan Basuki Rahmat.

Berkali-kali mata saya menyapu trotoar, taman, halte, dan berbagai sudut jalan utama yang lazim menjadi lokasi fasilitas publik. Namun hingga beberapa kilometer perjalanan, saya tidak menemukan bak sampah yang dapat digunakan.

Baru ketika tiba di depan Hotel Bumi Surabaya Jl. Basuki Rahmat, saya menemukan sebuah bak sampah. Di situlah plastik yang sejak tadi saya simpan akhirnya menemukan tempatnya.

Pengalaman tersebut mungkin terdengar sederhana, bahkan sepele. Namun justru dari pengalaman kecil itulah muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan bersama: mengapa begitu sulit menemukan bak sampah di jalan-jalan utama sebuah kota yang selama ini dikenal bersih dan berkali-kali meraih penghargaan Adipura?

Barangkali pengalaman menggenggam sampah sepanjang perjalanan itu bukanlah tentang sampah itu sendiri. Ia adalah pengingat bahwa kehidupan kota dibangun oleh banyak hal yang sering kali luput dari perhatian kita.

Sebuah pengalaman sederhana yang mengajak kita berhenti sejenak, melihat kembali ruang-ruang yang kita gunakan setiap hari, dan bertanya apakah kota yang kita cintai ini sudah semakin memudahkan warganya untuk melakukan hal-hal baik.

Sepanjang perjalanan itu saya hampir tidak menemukan sampah berserakan. Jalanan tampak bersih, taman terawat, dan ruang publik terlihat nyaman. Menjelang Hari Jadi Kota Surabaya ke-733, pemandangan tersebut tentu menjadi kebanggaan bagi seluruh warga kota.

Namun justru karena kota ini terlihat bersih, pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik. Bagaimana kebersihan itu dapat terjaga ketika fasilitas tempat sampah di ruang publik tampak begitu terbatas?

Kebersihan Surabaya bukan hanya lahir dari kebijakan pemerintah kota

Mungkin jawabannya adalah karena kesadaran warga Surabaya yang semakin baik. Banyak orang memilih menyimpan sampahnya hingga menemukan tempat pembuangan yang tepat. Mereka memahami bahwa kebersihan kota bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama sebagai warga.

Jika demikian, maka Surabaya telah berhasil membangun sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar taman yang indah atau jalan yang rapi, yaitu budaya warga yang peduli terhadap lingkungan. Kesadaran seperti inilah yang menjadi fondasi utama sebuah kota yang beradab.

Namun ada kemungkinan lain yang juga tidak boleh diabaikan. Kebersihan kota yang kita nikmati setiap hari mungkin merupakan hasil kerja keras para petugas kebersihan yang tanpa lelah menyapu jalanan, mengangkut sampah, merawat taman, dan menjaga ruang-ruang publik.

Mereka bekerja ketika sebagian besar warga masih beristirahat. Mereka hadir setiap hari, sering kali tanpa sorotan dan tanpa pujian.

Karena itu, kebersihan Surabaya sesungguhnya tidak lahir begitu saja. Ia merupakan hasil dari dedikasi banyak pihak yang bekerja dalam diam. Ada tangan-tangan yang mungkin tidak kita kenal namanya, tetapi jasanya kita rasakan setiap hari.

Barangkali jawaban yang paling tepat adalah kombinasi dari keduanya. Ada kesadaran warga yang terus tumbuh, dan ada kerja keras petugas kebersihan yang tidak pernah berhenti. Keduanya bertemu dalam satu tujuan yang sama, yaitu menjaga Surabaya tetap menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali.

Meski demikian, pengalaman mencari bak sampah ini menunjukkan adanya satu aspek yang perlu mendapat perhatian lebih serius, yakni ketersediaan fasilitas publik yang mendukung perilaku baik warga.

Selama ini kita sering berbicara tentang pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kita juga memberikan apresiasi kepada petugas kebersihan yang bekerja menjaga wajah kota. Namun ada satu pilar lain yang sering luput dari perhatian, yaitu kemudahan bagi warga untuk berbuat benar.

Kesadaran warga memang penting. Akan tetapi, kesadaran yang baik perlu ditopang oleh fasilitas yang memadai. Kota yang menginginkan warganya tertib membuang sampah seharusnya juga menyediakan tempat sampah yang mudah ditemukan. Sebab perilaku baik akan lebih mudah tumbuh ketika lingkungan mendukungnya.

Bak sampah sebagai simbol hadirnya pelayanan publik

Dalam konteks itulah keberadaan bak sampah tidak bisa dipandang sebagai fasilitas yang remeh. Ia bukan sekadar wadah menampung sampah. Ia merupakan simbol kehadiran pelayanan publik dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan niat baik warga dengan tindakan nyata di ruang publik.

Refleksi ini dimaksudkan menjadi pengingat bagi kita semua yang mencintai Surabaya. Ia mengikat kita semua sebagai warga kota. Sebab kebersihan Surabaya tidak hanya lahir dari kebijakan pemerintah, tidak hanya dari kerja keras petugas kebersihan, dan tidak pula semata-mata dari kesadaran masyarakat.

Kebersihan adalah hasil dari perjumpaan ketiganya dalam semangat merawat rumah bersama yang bernama Surabaya.

Karena itu, pengalaman sederhana ini menjadi pengingat bahwa setiap unsur memiliki peran yang sama pentingnya. Warga yang peduli, petugas yang berdedikasi, serta pemerintah yang menghadirkan fasilitas dan pelayanan publik yang baik, semuanya adalah bagian dari cerita tentang bagaimana sebuah kota tumbuh menjadi kota yang nyaman dan membahagiakan bagi warganya.

Kota yang besar adalah yang terus memperbaiki diri

Menjelang Hari Jadi Kota Surabaya ke-733, pengalaman sederhana ini mungkin layak menjadi bahan refleksi bersama. Bukan karena ada yang kurang baik, melainkan karena selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik. Sebab kota yang besar bukanlah kota yang merasa telah sempurna.

Kota yang besar adalah kota yang terus belajar, terus mendengar, dan terus memperbaiki hal-hal kecil yang sering kali luput dari perhatian.

Saya bersyukur masih dapat menyimpan sampah itu hingga menemukan tempat pembuangan yang tepat. Namun saya juga membayangkan, berapa banyak orang yang mungkin mengalami situasi serupa. Berapa banyak warga yang memiliki niat membuang sampah pada tempatnya, tetapi kesulitan menemukan tempat sampah di ruang publik.

Pertanyaan itulah yang menurut saya penting untuk terus kita renungkan. Apakah kota yang bersih hanya diukur dari tidak adanya sampah yang terlihat? Ataukah juga diukur dari kemudahan yang diberikan kepada warga untuk menjaga kebersihan tersebut?

Pada akhirnya, penghargaan Adipura bukan sekadar simbol keberhasilan mengelola sampah. Ia seharusnya menjadi cermin tentang bagaimana sebuah kota membangun budaya kebersihan, menghargai kerja keras para petugasnya, mengedukasi warganya, dan menyediakan fasilitas yang memungkinkan setiap orang ikut mengambil bagian dalam menjaga ruang bersama.

Sebab kota yang hebat bukan hanya kota yang berhasil membersihkan sampah. Kota yang hebat adalah kota yang memudahkan warganya untuk berbuat benar.

Pengalaman menggenggam sampah dari Menanggal hingga Basuki Rahmat mungkin hanyalah peristiwa kecil. Namun dari peristiwa kecil itulah saya belajar bahwa kebersihan kota sesungguhnya lahir dari pertemuan antara kesadaran warga, dedikasi para petugas kebersihan, dan kehadiran fasilitas publik yang mendukung keduanya.

Di Hari Jadi Kota Surabaya yang ke-733, izinkan saya mengucapkan selamat ulang tahun kepada kota yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Kota tempat saya dilahirkan, dibesarkan, belajar mengenal kehidupan, merajut mimpi, dan menumbuhkan harapan.

Semoga Surabaya terus bertumbuh menjadi kota yang bersih, nyaman, teduh, dan semakin ramah melayani warganya.

Kota yang tidak hanya membanggakan karena gedung-gedungnya yang menjulang, taman-tamannya yang indah, atau penghargaan yang diraihnya, tetapi juga karena kemampuannya menghadirkan kenyamanan dalam hal-hal sederhana yang dirasakan setiap hari oleh warganya.

Sebab pada akhirnya, kebesaran sebuah kota tidak hanya tercermin dari apa yang berhasil dibangunnya, melainkan dari bagaimana kota itu memperlakukan, menghormati, dan melayani warganya.

Selamat Hari Jadi Kota Surabaya ke-733. Teruslah menjadi kota yang membanggakan, sekaligus kota yang semakin ramah melayani warganya, agar setiap orang yang tinggal, tumbuh, belajar, bekerja, dan bermimpi di dalamnya selalu memiliki alasan untuk mencintaimu.

Surabaya, 30 Mei 2026

M. Isa Ansori
Warga Kota Surabaya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.