Suaramuslim.net – Ada orang yang sebenarnya tidak malas. Ia bekerja, Ia rajin. berdoa, menahan lelah, bangun pagi, pulang malam, tetapi hidupnya seperti jalan di tempat. Penghasilan relatif tetap, tidak banyak berubah. Lingkaran pergaulan sama. Informasi yang masuk ke telinga juga sama. Pilihan hidup terasa makin sempit.
Dalam keadaan seperti itu, mudah sekali orang memberi nasihat: “Ayo kerja lebih keras, ayo kerja lebih semangat”.
Padahal tidak semua masalah selesai dengan kalimat itu. Banyak orang sudah bekerja keras, hanya saja ruang geraknya terlalu kecil. Relasinya terbatas. Pasarnya terbatas. Informasinya terbatas. Skills dan kemampuannya tidak diperbarui. Lingkungannya tidak banyak memberi dorongan untuk tumbuh berkembang. Jadi bukan semangatnya yang kurang, melainkan medan hidupnya yang terlalu sempit dan monoton.
Di sinilah makna safar menjadi menarik. Dalam pengertian asalnya, safar berarti bepergian: merantau, pindah kota, atau meninggalkan tempat yang sudah dikenal. Itu benar. Tetapi hikmahnya bisa kita baca lebih luas.
Safar sering menyingkap keadaan, memperluas pengalaman, dan membuka kemungkinan baru. Tidak semua orang harus pergi jauh. Tidak semua orang mampu meninggalkan keluarga, orang tua, anak, pekerjaan, atau amanah yang sedang dipikul. Tetapi setiap orang tetap bisa melakukan “safar kecil” dalam hidupnya.
Bentuk “safar kecil” bisa sederhana: masuk komunitas baru, memperluas relasi, belajar keterampilan baru, yang dulu terasa asing, mencoba memasuki pasar yang belum pernah disapa, atau memberanikan diri bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman. Tidak harus heboh dan dramatis. Kadang hanya satu langkah kecil, tetapi arahnya pas dan strategis.
Sebuah syair yang masyhur dinisbatkan kepada Imam asy-Syafi‘i mengingatkan:
سَافِرْ تَجِدْ عِوَضًا عَمَّنْ تُفَارِقُهُ
وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ
Safarlah, engkau akan menemukan pengganti dari apa yang engkau tinggalkan. Bersusahpayahlah, karena nikmatnya hidup ada dalam kepayahan usaha.
Bait itu tidak sedang meromantisasi kesulitan. Ia seperti mengingatkan bahwa ada hal-hal yang unik, menarik dan baru terlihat setelah manusia berani bergerak. Ada pengganti setelah berpisah. Ada ilmu setelah bertanya. Ada peluang setelah bertemu orang baru. Ada kematangan. Ada kedewasaan setelah menanggung beban tidak nyaman.
Bahasa sekarang menyebutnya “keluar dari zona nyaman”. Tapi frasa ini perlu hati-hati. Zona nyaman bukan selalu berarti hidup enak. Kadang ia hanya berarti ruang lama yang sudah kita kenal, meskipun ruang itu tidak lagi membuat kita tumbuh.
Harvard Summer School (2023, May 24), pernah menulis bahwa keluar dari zona nyaman berkaitan dengan belajar hal baru, bertemu orang baru, melihat tempat baru, dan mencoba pengalaman baru. Dalam bahasa yang lebih sederhana: jangan biarkan diri hanya hidup dari pola lama yang itu-itu saja.
Psikologi modern punya istilah untuk sikap seperti ini: growth mindset yang diperkenalkan Dweck, C. S. (2006). Intinya cukup sederhana: manusia bisa tumbuh, bisa berkembang dengan baik. Kemampuan tidak berhenti pada keadaan hari ini. Ia bisa dilatih, diperbaiki, dan dibentuk ulang lewat latihan dan pengalaman.
Tentu ada metodenya. Bukan “saya tidak bisa”, tetapi “saya belum bisa”. Dua kalimat itu mirip, tetapi efeknya jauh berbeda. Kalimat pertama menutup pintu. Kalimat kedua bernada optimis, masih menyisakan harapan.
Banyak orang gagal dan berhenti bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu cepat menyimpulkan dirinya tidak bisa. Tidak bisa jualan online. Tidak bisa bicara di depan orang. Tidak bisa menulis. Tidak bisa belajar teknologi. Tidak bisa masuk komunitas baru. Padahal sering kali yang benar bukan tidak bisa, melainkan belum percaya diri, belum terbiasa. Belum ada keberanian untuk safar.
Safar juga memperluas relasi dan perjumpaan. Kadang pintu rezeki terbuka bukan dari orang yang paling dekat dengan kita, tetapi dari kenalan biasa, obrolan singkat, teman lintas komunitas, atau orang yang awalnya hanya kita temui sekali.
Dalam ilmu sosial, ada gagasan menarik: the strength of weak ties yang dipopulerkan oleh Granovetter, M. S. (1973). Relasi yang tidak terlalu dekat justru sering membawa kabar baru. ABC Australia (2025, May 23), pernah mengulas gagasan ini dalam konteks dunia kerja modern.
Dalam konteks Indonesia, hal ini terasa begitu nyata. Banyak pelaku UMKM punya kreasi produk bagus, tetapi pasarnya hanya tetangga sekitar. Banyak anak muda punya bakat dan potensi bagus, tetapi tidak pernah masuk lingkungan yang membuatnya naik kelas. Banyak santri punya talenta, tekun dan adab, tetapi perlu akses lebih luas pada bahasa, teknologi, jejaring, dan dunia profesional. Banyak pekerja rajin, tetapi masih memakai teknologi lama yang kurang efisien.
Maka safar bukan sekadar soal pergi. Safar adalah semangat dan keberanian memperluas ruang hidup. Dari pasar kecil ke pasar yang lebih luas. Dari teman lama ke jaringan baru. Dari kemampuan lama ke keterampilan baru. Dari takut mencoba menjadi berani memulai kecil-kecilan. Yang penting berani bergerak, berani mencoba dan berani gagal. Gagal membuat kita belajar. Gagal membuat kita semakin matang untuk melakukan perbaikan.
Tentu safar bukan alasan untuk gegabah. Keluar dari zona nyaman bukan berarti meninggalkan tanggung jawab. Bukan berarti lari dari keluarga, orang tua, utang, atau amanah.
Islam tidak memuji perilaku, gerak yang sembrono. Yang dibutuhkan bukan bondo nekat atau bonek, tetapi berani yang terukur. Belajar dulu. Bertanya dulu. Membangun relasi dulu. Mencoba kecil dulu. InsyaAllah hal ini akan membuka pintu sedikit demi sedikit.
Tidak semua orang harus merantau jauh. Tetapi setiap orang perlu punya keberanian untuk bergerak dari ruang lama yang membuatnya stagnan: ruang pergaulan yang itu-itu saja, metode kerja yang sama, cara berpikir yang sama, dan ketakutan yang sama.
Kadang rezeki baru terlihat setelah kita mulai melangkah. Bukan dengan nekat, tetapi dengan ilmu. Bukan dengan meninggalkan adab, tetapi dengan memperluas ikhtiar. Dan tentu saja, bukan dengan melupakan tawakal.
Justru karena kita percaya, Allah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuka jalan bagi hamba yang mau bergerak.
Mari, bergerak mulai sekarang, mulai dari diri sendiri dan mulai dari hal-hal yang kecil.
Stay Relevant!
Bagus Suminar
Wakil Ketua Umum ICMI Jawa Timur

