Apakah Suasana Rumah Dapat Merangsang Kecerdasan Anak
Anak kecil bermain gelembung sabun.

Suaramuslim.net – Suasana yang gaduh dan bising, terlebih di mana dalam satu rumah dihuni oleh beberapa keluarga, nyatanya dapat menghambat kreativitas dan menurunkan kecerdasan anak. Sebaliknya suasana emosional yang penuh kedamaian, ketenangan dan kasih sayang antar anggota keluarga rumah bisa merangsang anak untuk belajar dan mengembangkan kemampuan kecerdasannya yang sedang tumbuh.

Hubungan antara orang tua dan anak, dan bakat-bakatnya akan menentukan sebagian besar kemampuan belajar di kemudian hari. Namun ini tidak mungkin dilakukan oleh setiap keluarga untuk mengatur suasana rumah tangga yang ideal yang memungkinkan pertumbuhan kecerdasan secara maksimal. Sebab setiap anak tidaklah sama dan mempunyai kebutuhan suasana yang berbeda pula. Demikian pula dengan keadaan keluarga dan sifat-sifat kedua orang tua berlainan satu sama lain.

Banyak penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa kecerdasan akan berkembang lebih baik, bila suasana dalam rumah penuh kehangatan, kasih sayang dan demokratis. Jika anak hidup dalam suasana rumah yang saling bermusuhan, acuh, terlalu ketat dalam aturan serta membatasi geraknya, ternyata kecerdasan anak tersebut mundur dalam tempo tiga tahun.

Baca Juga :  Memahami Kenapa Anak Mogok Sekolah

Tetapi rasa kasih sayang, kehangatan dan sikap demokratis orang tua, berarti memberi kebebasan penuh terhadap anak sehingga tidak terkendali. Juga tidak berarti suasana rumah harus terpusat pada si anak. Yang dimaksudkan di sini adalah orang tua harus mencintai anak sepenuh hati, dan menunjukkan rasa kasih sayangnya itu sehingga anak bisa merasakannya. Jika anak tidak merasa dicintai dan selalu dibantah oleh orang tuanya sendiri, bagaimana mungkin dia akan berani menghadapi gurunya dan rasa percaya pada dirinya sendiri.

Suasana rumah yang penuh kehangatan dan demokratis berarti juga memperhatikan kepentingan si anak. Seperti merencanakan kegiatan-kegiatan kelauarga dan memberikan suara ikut menentukan dalam hal dirinya sendiri. Singkat kata, tujuannya adalah upaya mengembangkan anak menjadi manusia yang cerdas dan mampu menganalisa sesuatu serta bertindak secara tepat, dan bukannya membuat anak mentaati segalanya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Alangkah bijaknya bila orang tua menerangkan alasan-alasan peraturan dan keputusan yang dibuat mengenai anak. Tetapi tidak dengan cara menggurui atau membingungkan ataupun yang terlalu sulit bagi umurnya. Dengan demikian anak mulai dilatih untuk berpikir dan membuat evaluasi mengenai kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Baca Juga :  Bunda Kurnia Laila: Fitrah Based Education

Anak mulai belajar mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dan berusaha mengambil keputusan yang baik berdasarkan informasi tersebut. Lambat laun anak sudah terbiasa untuk berpikir dan akan menyadari, bahwa disiplin dan peraturan yang diberikan kepadanya tanpa alasan yang tidak jelas, tetapi berdasarkan alasan bijaksana dan rasa kasih sayang.

Anak yang demikian ini tidak akan mudah rewel menuntut kebebasan, daripada anak yang tidak mendapatkan kesempatan serta pengakuan dari orang tuanya. Kelak dimasa depan anak yang cukup mendapatkan kebebasan di rumahnya tidak akan mudah menjadi “pemberontak” daripada anak yang orang tuanya terlalu banyak memuntut agar menaati aturan rumah yang terlalu ketat tanpa memberikan alasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here