Ayah Harus Memimpin dengan Hati
keluarga Misbahul Huda. (Dok. Pribadi)

Suaramuslim.net – Tantangan zaman yang luar biasa berat bagi anak-anak kita saat ini membutuhkan Vitamin A (kehadiran Ayah) yang memadai. Jangan sampai anak-anak kita tumbuh menjadi besar dan dewasa tapi kekurangan vitamin A (Ayah).

Vitamin A (Ayah) memiliki peranan sangat penting dalam proses pematangan tumbuh kembang anak dan daya tahannya menghadapi pelbagai penyakit dan virus akhir zaman. Sebaliknya, kekurangan vitamin A (avitaminosis) akan membuat anak-anak rentan dalam menghadapi persaingan dan lemah dalam menghadapi masalah kehidupan yang semakin kompleks ini.

Kehadiran Ayah yang bisa menjadi vitamin A bagi ananda dan keluarga, bukanlah berkecukupan uang belanja dengan fasilitas rumah, kendaraan dan gadget yang serba ada. Tapi vitamin A yang dimaksud lebih berupa sentuhan ruhiyah, yaitu kehadiran sosok Ayah secara emosional dan spiritual bersama keluarga dan khususnya ananda.

Karena itu wahai Ayah, luangkan waktumu lebih banyak lagi untuk sekadar melepas obrolan ringan dan sederhana dengan ananda. Dengan demikian membuat ia menjadi anak yang tumbuh menjadi orang dewasa yang periang, humoris dan suka menghibur, oleh karena itu anak-anak akan lebih pandai bergaul. Anak-anak yang mempunyai figur Ayah yang baik akan mempunyai harga diri, percaya diri yang lebih tinggi dan cenderung mempunyai prestasi akademis di atas rata-rata.

Sebaliknya beberapa Ayah yang enggan bicara dan kurang waktu untuk ngobrol dan bercengkerama dengan anak-anaknya, ternyata menyebabkan dampak serius bagi pola pergaulan dan masa depan kehidupan anak perempuannya.

Baca Juga :  Menumbuhkan Gairah Belajar Bahasa Arab Bagi Anak

Efek Negatif Kekurangan Vitamin Ayah

Avitaminosis vitamin A (Ayah), pada anak perempuan akan mempunyai kecenderungan untuk mudah jatuh cinta dan mencari penerimaan dari laki-laki lain (cewek gampangan, murahan). Bahkan, cenderung suka lelaki yang jauh lebih tua sebagai kompensasi pengganti hilangnya kasih sayang ayahnya.

Hilangnya kasih sayang Ayah pada anak perempuan yang berakibat lebih fatal adalah, mereka berpotensi 7-8 kali lebih mungkin memiliki anak di luar pernikahan, dan biasanya cenderung lebih mudah bercerai. Mengapa demikian? Karena sedikit pertengkaran dengan suaminya disebabkan persoalan sepele akan dengan mudah minta cerai. Mereka berkesimpulan bahwa semua lelaki jahat, “buaya” tak jauh beda dengan ayahnya. Naifnya, trauma sosok Ayah ‘jahat’ ini berlaku pada anak perempuan dari latar belakang sosial ekonomi apapun.

Avitaminosis vitamin A (Ayah) pada anak laki-laki yang jarang diajak ngobrol oleh ayahnya, akan berakibat lebih serius ketimbang anak-anak perempuannya. Mereka cenderung mencari kompensasi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih berisiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak kriminal.

Tidak heran kalau anak-anak yang kehilangan kehangatan keluarga, cenderung lebih cepat memasuki masa puber di usia yang sangat muda, dan berpotensi untuk mencari pelarian dengan bergabung dengan komunitas “berbahaya.” Seperti gang motor, preman dan klub negatif lainnya.

Karena kesalahan pola pergaulan di masa pertumbuhan itu, maka bisa dipastikan mereka akan menemui kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan di masa dewasa.

Baca Juga :  Game of Thrones, Layakkah Dikonsumsi Anak?

Ciri anak yang kekurangan vitamin A adalah tidak tahan banting dan lebih rentan terhadap peer pressure. Kecerdasan daya tahan (Adversity Quotient, AQ) dari pengaruh buruk kelompoknya amat sangat rendah.

Peran para Ayah dalam Mendidik Anak-anaknya

Terdapat dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam Al Qur’an tentang dialog ayah kepada anaknya, jauh lebih dominan ketimbang dialog ibu dengan anaknya.

Simaklah dialog Adam dalam mendamaikan perselisihan anaknya Qabil dan Habil. Juga, dialog Ibrahim dengan anaknya (Ismail) yang mengajarkan makna kepatuhan dan kepasrahan kepada Sang Khalik. Juga dialog antara Ya’qub dengan anak-anaknya, meski saat itu sedang meregang nyawa. Pertanyaan yang menyoal sekaligus memastikan akidah anak-anaknya.

Cermati pula dialog panjang Luqman al Hakim dengan anaknya. Sebuah nasihat panjang tentang akidah, akhlak dan etika yang lebih berharga bagi seorang anak dibanding semua fasilitas warisan atau tabungan deposito yang diberikan kepadanya.

Wahai Ayah, bicaralah! Janganlah menjadi seorang ayah bisu. Sebagian ayah enggan berbicara karena sering kehabisan tema untuk berdialog dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara uring-uringan dengan intonasi tinggi alias marah-marah. Adapula Ayah yang diam saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sakit gigi atau sedang sariawan, atau memang tidak bisa bicara!

Sementara sebagian lagi, irit energi, pelit bicara. Kalaupun bicara hanya seperlunya saja. Ada juga ayah yang belum selesai bicara, sang anak berani menyela, “Cukup Ayah, saya bisa lanjutkan pembicaraan ayah.” Saking monotonnya pembicaraan sang Ayah yang hanya basa basi dan itu-itu saja.

Baca Juga :  Kenapa Sekolah Itu Ayah?

Wahai Ayah, kalian harus lebih rajin berdialog dengan anak, lebih sering dibanding   ibu.

Gejala Avitaminosis Vitamin Ayah

Gejala-gejala kekurangan vitamin ayah bisa dicermati dari perilaku keseharian ananda sebagai berikut:

  • Jika anakmu berbohong, itu karena engkau menghukumnya terlalu berat.
  • Jika anakmu tertutup, itu karena engkau terlalu sibuk.
  • Jika anakmu tidak percaya diri, itu karena engkau tidak memberi dia semangat
  • Jika anakmu kurang berbicara, itu karena engkau tidak mengajaknya berbicara
  • Jika anakmu mencuri, itu karena engkau tidak mengajarinya memberi.
  • Jika anakmu pengecut, itu karena engkau selalu membelanya.
  • Jika anakmu tidak menghargai orang lain, itu karena engkau berbicara terlalu keras kepadanya.
  • Jika anakmu pemarah, itu karena engkau kurang memujinya.
  • Jika anakmu suka berbicara pedas, itu karena engkau tidak berbagi dengannya.
  • Jika anakmu mengasari orang lain, itu karena engkau suka melakukan kekerasan terhadapnya.
  • Jika anakmu lemah, itu karena engkau suka mengancamnya.
  • Jika anakmu cemburu, itu karena engkau menelantarkannya.
  • Jika anakmu mengganggumu, itu karena engkau kurang mencium dan memeluknya
  • Jika anakmu tidak mematuhimu, itu karena engkau menuntut terlalu banyak padanya.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.