Belajar Lebih Baik Daripada Bersekolah?

Belajar Lebih Baik Daripada Bersekolah

Suaramuslim.net – Seorang siswa, sebut saja Wildan, siswa sebuah SMKN ternama di Surabaya, semalam di tengah suasana saya dalam keadaan terbaring sambil memandang tetesan air infus, tiba-tiba bertanya “Pak Isa, boleh saya tanya?” Saya jawab, “boleh”. “Apa sih tujuan sekolah itu? Kalau hanya mencari ilmu dan mengerjakan tugas, kan kita bisa bertanya pada google?” Saya terdiam, sambil mengajaknya untuk melihat mas dokter dan mbak dokter yang lagi diskusi di ruang IGD.

Saya tanya, “Menurutmu kira-kira mas-mas dan mbak-mbak itu lagi apa?” Wildan menjawab, “Mereka lagi diskusi dan belajar”. “Apakah mereka sekolah?”, tanya saya. “Ya, mereka sekolah dan mereka sekarang belajar”, jawabnya. “Tapi kan mereka juga cari uang?”, tanyanya. “Ya, mereka juga cari uang”, jawab saya”. Kalau tujuannya hanya cari uang, berarti yang tidak sekolah kan juga dapat uang kalau bekerja”, lanjutnya. Saya jawab, “Ya”. “Nah menurutmu ada nggak perbedaan pendapatan antara orang yang bekerja sebagai arsitek dengan tukangnya?”, tanya saya. “Ada”, jawabnya. “Apa yang menyebabkan pendapatan mereka berbeda?” “Ilmunya”, jawabnya. “Darimana dia bisa dapat ilmunya?”, tanya saya”. Dari sekolah dan belajar”, jawabnya. “Menurutmu bisa nggak orang mengerti tentang pengobatan, dia tidak pernah sekolah di Fakultas Kedokteran, lalu dia berpraktek di rumah sakit?” Tanya saya. “Ya nggak bisa”, jawabnya.

-Advertisement-

Pesan dari dialog itu, saya menangkapnya bahwa masih ada pemisahan pengertian belajar dan sekolah. Belajar itu dimaknai sebagai sebuah proses diskusi yang terjadi dimana-mana tempat, bisa di ruang tunggu IGD, seperti para dokter muda tadi. Kalau kita lihat di tempat lain, ada orang belajar di halte angkutan umum yang asri dan banyak di Surabaya.

Sementara sekolah dipahami mereka yang melakukan diskusi di sebuah ruang dan ada guru yang mendampingi. Padahal sejatinya antara sekolah dan pendidikan itu ibarat dua sisi mata uang. Sekolah merupakan terminologi sebuah tempat yang di dalamnya ada aktivitas belajar, seperti diskusi, tanya jawab, menjelaskan dan lain-lain yang bertujuan mencari ilmu dan meningkatkan hubungan keadaban.

Sehingga pendidikan semestinya menempatkan anak menjadi subyek dari perubahan itu menuju peningkatan ilmu dan keadaban tadi. Namun sayangnya seringkali pendidikan menjadikan anak-anak kita menjadi asing terhadap potensi yang dimiliki.

Mengapa Bisa Terjadi?

Pendidikan yang seharusnya dijalankan dengan kesadaran bahwa setiap anak mempunyai keunikan dan potensi, ternyata justru tak mampu mengenali, pelaku pendidikan, terutama guru tak memahami apa yang harus dilakukan. Guru tak mampu menyelami apa yang menjadi kebutuhan masing-masing anak dalam proses belajar yang dilakukan.

Akibatnya ibarat pisau, sisi tumpulnya yang diasah, sehingga lelah dan butuh banyak energi, kesannya kemudian sekolah itu sia-sia, tidak penting, karena meski sekolah toh akhirnya semua untuk mencari uang.

Apa Yang Harus Dilakukan?

Di tengah carut marutnya pendidikan dan ketidakmampuan pendidikan mengasah sisi tajam anak-anak, maka upaya mengasah kepekaan guru mengenali muridnya menjadi sebuah keharusan.

Hal yang bisa dilakukan adalah membimbing guru membuat rencana pembelajaran yang mendasarkan pada kebutuhan anak.

Dimulai dengan mengenali tujuan belajar yang akan dilakukan, guru mesti juga harus mengakomodasi tujuan anak-anak mengapa ikut belajar, jadi bukan hanya kepentingan guru saja.

Dalam mengenali tujuan itulah, guru akan dapat mengetahui sisi tajam dari masing-masing muridnya. Tujuan belajar dibuat berdasarkan kepentingan setiap siswa mengapa mengikuti pelajaran yang dilakukan.

Setelah menentukan tujuan belajar yang sesuai dengan kebutuhan anak, selanjutnya guru menyusun strategi pembelajarannya, sehingga guru akan dengan tepat bisa memilih pendekatan yang sesuai dengan muridnya.

Dalam hal menentukan keberhasilan murid, guru juga harus memahami kemampuan masing-masing anak, sehingga keberhasilan belajar tidak bisa harus sama, karena keberhasilan pembelajaran bergantung pada kondisi masing-masing anak.

Begitu juga dengan indikator keberhasilan, tentu dibuat berdasar kemampuan masing-masing anak.

Mengenali potensi anak dan mengembangkannya adalah tugas pendidikan di sekolah, kalau tak bisa dilakukan, sekolah akan ditinggalkan. Kalau sudah begini maka jangan salahkan kalau ada pendapat sekolah tak penting, yang penting adalah belajar.

Mengembalikan sekolah pada relnya adalah tugas guru, tentu saja guru bisa melakukannya bila kebijakan pendidikan yang ada memang menempatkan pendidikan sebagai alat mengenali potensi anak dan mengembangkannya.

Bagi saya guru adalah harapan. Harapan bagi masa depan membangun generasi yang percaya diri, karena selama mengikuti belajar, mereka didampingi oleh orang-orang yang benar-benar mampu mengenali dirinya.

“Berdakwalah kalian dengan bahasa kaumnya”. Nah pesan ini menegaskan pentingnya dalam tugas pendidikan menggunakan sesuatu yang bisa dipahami dan tidak asing bagi siswa.

Selamat beraktifitas, semoga hari ini menjadi hari yang berkah. Aamiin.

*Ditulis di Surabaya, 2 Maret 2018

M. Isa Ansori
Pegiat pelestarian cagar budaya, Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS), Pengajar Psikologi Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sekretaris LPA Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.