Suaramuslim.net – Baiklah segera dinyatakan bahwa pendidikan bukan persekolahan. Sekolah hanya salah satu komponen penyusun pendidikan sebagai sistem. Komponen lain yang sama penting adalah keluarga, dan masyarakat. Bahkan Ki Hadjar menyebut perguruan, bukan sekolah. Ada adagium bahwa it takes a village to raise a child.
Beda dengan pesantren yang berbasis komunitas, sekolah atau schooling adalah anak kandung revolusi industri: menyiapkan buruh yang cukup terampil menjalankan mesin-mesin sekaligus cukup dungu untuk berdisiplin dan setia bekerja bagi pemilik modal dari pagi hingga petang.
Persekolahan massal paksa dengan skema instruksi yang disebut kurikulum tidak pernah dirancang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah sejak Orde Baru adalah instrumen teknokratik untuk menyiapkan bangsa ini sebagai bangsa buruh bagi kepentingan industrialisasi.
Ivan Illich 55 tahun silam sebelum internet ada mengusulkan deschooling untuk mengurangi konsekuensi buruk persekolahan massal paksa. Dia mengusulkan learning webs yang lentur dan terbuka.
Sir Ken Robinson menyebut persekolahan dengan obsesi standar adalah institusi yang paling bertanggungjawab dalam krisis sumber daya manusia abad 20 akibat meaningful learning yang dihilangkan persekolahan.
John T. Gatto bahkan mengatakan bahwa sekolah hanya dumbing down of peoples.
Kita perlu kembalikan tugas pendidikan kita tidak hanya pada sekolah, tapi juga keluarga dan masyarakat. Problem kita saat ini adalah too many schools and schooling, but less and less education.
Internet sudah membantu proses deschooling ini sehinga belajar sebagai proses memaknai pengalaman bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Keluarga adalah tempat belajar terbaik, dan teraman.
KI Hadjar memilih perguruan yang diselenggarakan dalam sebuah taman belajar, bukan sekolah dengan obsesi standar berlebihan seperti lini produksi dalam pabrik mobil.
Pendidikan perlu digeser lebih ke perguruan. Namun perlu dicatat, konsep guru pun perlu digeser tidak hanya guru profesional bersertifikat.
Rasulullan bersabda bahwa di dunia hanya ada dua jenis pekerjaan: guru, dan selain guru. Seseorang menjadi guru saat memberi pelajaran, terutama dengan teladan. Petani adalah guru yang memberi pelajaran dan memberi teladan bertani. Setiap guru adalah pembelajar sepanjang hayat.
Dominasi sekolah dalam pendidikan membuat belajar menjadi kesempatan yang langka sehingga makin mahal. Seiring dengan kehadiran kecerdasan buatan, belajar melalui praktik dan bekerja makin penting. Memisahkan belajar dari praktik adalah keliru. Bahkan praktik atau pengalaman adalah spring board for meaningful learning.
Model bisnis pendidikan harus diubah untuk memastikan bahwa belajar akan memperbaiki praktik. Belajar harus berdampak pada praktik.
Sugata Mitra mengusulkan Self Organized Learning Environment atau SOLE untuk mengurangi obsesi mutu berlebihan, birokratisasi dan kekakuan persekolahan. Relevansi personal, spasial dan temporal lebih penting daripada mutu.
Pendidikan harus kita rumuskan kembali sebagai upaya memperluas kesempatan belajar merdeka sebagai syarat budaya untuk menjadi bangsa yang merdeka.
Selamat merayakan pendidikan!
Wonosalam, Jombang 700 mdpl
Sabtu 2 Mei 2026
Daniel Mohammad Rosyid

